'Israel Tembaki Orang-Orang yang Kelaparan, Ini Seolah-olah Bukan Pusat Bantuan Tapi Tempat Distribusi Kematian'
Pasukan Israel membunuh sedikitnya 49 warga Palestina dan melukai 305 lainnya di pusat distribusi bantuan sejak pekan lalu.
Israel memblokade masuknya bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza selama sekitar dua bulan, membuat sekitar 2 juta warga Palestina di wilayah kantong tersebut kelaparan.
Sejak pekan lalu, bantuan mulai disalurkan melalui lembaga bentukan Israel-Amerika Serikat yang kontroversial, Gaza Humanitarian Foundation (GHF). Namun sejak distribusi bantuan dimulai pekan lalu, Israel membunuh puluhan orang yang tengah kelaparan dan sedang menunggu distribu bantuan.
Pada Minggu (1/6), tank Israel menembak ribuan warga sipil yang berkumpul di dua pusat distribusi bantuan GHF di Gaza, membunuh 32 orang dan melukai lebih dari 200 lainnya. Warga yang sedang kelaparan dan berharap membawa pulang makanan untuk keluarganya justru harus menerima tembakan.
Kementerian Kesehatan di Gaza mengatakan Israel menggunakan mekanisme bantuan baru tersebut sebagai "jebakan pembunuhan massal" dan alat untuk "pengungsian paksa penduduk Gaza." Kementerian mengatakan mereka yang tewas dalam "pembantaian" tersebut mengalami luka tembak tunggal di kepala atau dada, yang menunjukkan adanya niat yang jelas untuk membunuh, seperti dikutip dari Middle East Eye, Senin (2/6).
Di Rafah, ribuan orang diperintahkan untuk mengantre sekitar 500 meter dari titik distribusi AS di bundaran Al-Alam, kata jurnalis lokal Mohammed Ghareeb kepada Middle East Eye.
Saksi mata mengungkapkan, saat kerumunan mendekati area tersebut, pasukan Israel menghujani mereka dengan peluru dari segala arah.
“Saya berdiri di antara kerumunan, tetapi ketika orang-orang mulai bergegas menuju titik distribusi, saya tidak dapat bergerak bersama mereka karena ada ratusan orang yang mendorong ke depan,” kata Marwa al-Naouq kepada MEE.
“Kemudian sebuah quadcopter muncul dan mulai menembaki mereka. Setelah itu, tentara Israel melepaskan tembakan langsung ke kerumunan, dan pasukan keamanan Amerika menembakkan tabung gas air mata."
“Puluhan orang tewas dan terluka saat orang-orang berlarian ke segala arah, mencoba melarikan diri.”
Direktur rumah sakit lapangan di Gaza, Marwan al-Hems, menggambarkan kejadian itu sebagai "pembantaian dan penjagalan".
"Penjajah (Israel) menargetkan orang-orang yang kelaparan seolah-olah pusat-pusat distribusi bantuan ini tempat mendistribusikan kematian," katanya kepada MEE.
Rumah sakit di Gaza Selatan kewalahan, dengan pasien-pasien berderet di lorong-lorong dan tergeletak di lantai karena kurangnya tempat tidur dan pasokan medis, kata Hems.
"Kami berusaha menyelamatkan sebanyak mungkin, tetapi kami kehilangan beberapa orang karena kekurangan darah," tambahnya.
Hamas menuduh Israel menjadikan bantuan sebagai senjata, mengatakan sistem distribusi makanan telah menjadi bagian dari kampanye genosida yang lebih luas.
Militer Israel mengklaim mereka "tidak menyadari adanya cedera yang disebabkan pasukan (tentara Israel)."
"Mereka Menyebutnya Titik Kemanusiaan Lalu Membunuh Kami"
Baik di Rafah maupun di Gaza bagian tengah, para saksi mata menggambarkan insiden tersebut sebagai "penyergapan" yang dilakukan pasukan Israel. Bekerja sama dengan personel keamanan Amerika yang bekerja GHF, warga sipil yang kelaparan diperintahkan pada dini hari untuk pergi ke titik yang ditentukan di dekat Jembatan Wadi Gaza, yang konon dimaksudkan untuk menerima bantuan. Namun mereka justru dibalas dengan tembakan langsung, menurut Kantor Media Pemerintah yang berpusat di Gaza.
Menurut Kantor Media Pemerintah, banyak warga yang masih "terjebak di bawah tembakan tanpa henti di sekitar pusat bantuan".
Pemandangan serupa terjadi di Rafah, tempat ribuan orang berkumpul semalaman untuk menerima makanan.
“Mereka menyuruh kami pergi ke zona kemanusiaan ini untuk menerima makanan - lalu mereka membunuh kami,” kata Arafat Siyam, yang lolos dari maut, kepada MEE.
Saudara laki-laki Arafat terbunuh. Keduanya tiba di lokasi bantuan pada 23.00 hari Jumat, berharap untuk membawa kembali makanan bagi anak-anak mereka yang kelaparan.
“Orang Amerika berbohong kepada kami. Sejak kapan mereka peduli dengan pekerjaan kemanusiaan?” katanya.
“Mereka menyebutnya titik kemanusiaan lalu membunuh kami di sana.”
Menurut kantor media, pasukan Israel membunuh sedikitnya 49 warga Palestina dan melukai 305 lainnya di pusat distribusi yang dikelola GHF sejak operasi dimulai pada 27 Mei 2025.
GHF, organisasi AS yang dilanda skandal yang didukung Israel, diluncurkan untuk melewati infrastruktur bantuan PBB di Gaza. Pejabat senior kemanusiaan mengecam skema tersebut, mengatakan Israel harus berhenti memblokir sistem yang dipimpin PBB dan mengizinkan bantuan mengalir tanpa halangan.