Strategi Kukar: Industri Kratom Jadi Andalan Dongkrak PAD di Tengah Transisi Ekonomi

Kukar serius menggarap potensi industri kratom sebagai pilar utama untuk mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) di tengah tantangan penurunan sektor minerba.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Strategi Kukar: Industri Kratom Jadi Andalan Dongkrak PAD di Tengah Transisi Ekonomi
Kukar serius menggarap potensi industri kratom sebagai pilar utama untuk mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) di tengah tantangan penurunan sektor minerba. (AntaraNews)

Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mengambil langkah strategis untuk memperkuat perekonomian daerah. Mereka berupaya memaksimalkan potensi industri kratom sebagai sumber pendapatan baru. Langkah ini diambil di tengah menurunnya produksi mineral dan batubara (minerba) akibat dinamika global. Diversifikasi ekonomi menjadi krusial untuk menjaga stabilitas fiskal daerah dan menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat.

Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri, menegaskan komitmen Pemkab untuk mengawasi tata kelola kratom. Pengawasan ini bertujuan menjaga kadar mitragynine, zat aktif dalam kratom, tetap tinggi dan stabil. Hal ini penting untuk memastikan kualitas produk ekspor.

Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya mencapai target Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang ambisius. PAD Kukar ditargetkan mencapai Rp1,97 triliun pada tahun 2026. Pengembangan industri kratom diharapkan menjadi kunci utama untuk mewujudkan target tersebut.

Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) secara aktif mendorong perkembangan industri kratom. Mereka menjamin kepastian hukum serta kesejahteraan bagi para produsen lokal. Tujuannya adalah meningkatkan produksi yang berkualitas dan berkelanjutan. Dukungan ini mencakup pelatihan, akses permodalan, dan pendampingan teknis agar petani dapat mengelola kebun kratom secara optimal.

Bupati Aulia Rahman Basri menekankan pentingnya pengawasan ketat terhadap pengelolaan kratom. Pengawasan ini memastikan produk kratom dari Kukar memiliki kadar mitragynine yang tinggi. Kualitas ini krusial untuk memenuhi standar pasar internasional.

Upaya ini juga merupakan implementasi dari Program Pembangunan Kawasan Ekonomi Sejahtera. Program tersebut berfokus pada pola hubungan industri hulu dan hilirisasi berkelanjutan. Ini menunjukkan visi jangka panjang Pemkab Kukar terhadap industri kratom.

Kukar telah menunjukkan potensi besar dalam ekspor daun kratom, dengan volume sekitar 200 ton per bulan. Produk ini diekspor ke berbagai negara seperti Amerika Serikat, India, Thailand, hingga Republik Ceko. Pasar ekspor yang luas menjadi indikator kekuatan industri ini.

Pada tahun 2025, target PAD Kukar sebesar Rp953 miliar, namun realisasinya mencapai Rp710 miliar atau 74,74 persen. Dengan pengembangan industri kratom, Pemkab Kukar optimistis dapat mencapai target PAD 2026 sebesar Rp1,97 triliun. Angka ini meningkat signifikan dari tahun sebelumnya. Proyeksi ini didasarkan pada peningkatan volume ekspor dan nilai tambah produk kratom melalui hilirisasi.

Bupati Aulia Rahman Basri baru-baru ini meninjau langsung PT DJB Botanicals Indonesia di Kecamatan Tenggarong Seberang. Kunjungan ini bertujuan memastikan tata kelola dan proses ekstraksi daun kratom. Hal ini menegaskan keseriusan Pemkab dalam mendukung industri kratom.

Untuk membangun industri pengolahan kratom yang lebih canggih, kolaborasi menjadi kunci utama. Bupati Aulia Rahman Basri menyebutkan perlunya kerja sama antara pelaku bisnis, tim riset, dan pemerintah daerah. Sinergi ini akan mendorong inovasi dan efisiensi. Penelitian lebih lanjut juga diperlukan untuk mengembangkan varietas unggul dan metode pengolahan yang lebih efisien dan aman.

Pendekatan kolaboratif sangat penting agar industri kratom dapat dikelola secara berkelanjutan. Ini memastikan masyarakat tetap menjadi pembudidaya yang sesuai dengan kaidah dan prosedur. Dengan demikian, kualitas dan kadar mitragynine kratom tetap terjaga.

Budidaya kratom di Kukar tersebar di beberapa kecamatan, terutama di kawasan hulu sungai. Wilayah seperti Kota Bangun, Muara Wis, Muara Muntai, Kenohan, hingga Kembang Janggut menjadi sentra produksi. Pemda berkomitmen mempertahankan masyarakat sebagai pembudidaya yang berkualitas.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi