FOTO: Rumah Sakit Shifa yang Hancur, Dari Simbol Harapan Jadi Saksi Derita Gaza
Rumah Sakit Al-Shifa, yang dahulu menjadi pusat layanan kesehatan terbesar dan paling vital di Jalur Gaza, kini hanya menyisakan bayang-bayang masa kejayaannya.
Rumah Sakit Al-Shifa, yang dahulu menjadi pusat layanan kesehatan terbesar dan paling vital di Jalur Gaza, kini hanya menyisakan bayang-bayang masa kejayaannya. Setelah 21 bulan perang dan dua serangan besar dari militer Israel, rumah sakit itu nyaris lumpuh, meninggalkan penderitaan yang mendalam bagi ribuan warga Palestina.
Lorong-lorong yang dulu sibuk dengan aktivitas medis kini dipenuhi korban luka akibat serangan udara. Kamar jenazahnya tak lagi mampu menampung jumlah korban tewas. Para dokter dan perawat, yang kini sebagian besar adalah relawan tanpa bayaran, terpaksa melakukan operasi dalam gelap, hanya dibantu cahaya dari ponsel. Di luar gedung, pasien yang membutuhkan dialisis duduk pasrah di samping puing-puing sayap rumah sakit yang hancur.
Militer Israel telah menyerang Al-Shifa dua kali, dengan alasan bahwa rumah sakit tersebut dijadikan basis operasi Hamas. Mereka mengklaim telah menemukan bukti berupa terowongan yang mengarah ke ruang bawah tanah di dekat kompleks rumah sakit. Namun, pihak medis dan pengamat internasional membantah bahwa fasilitas kesehatan itu digunakan untuk tujuan militer. Meski kehadiran petugas keamanan Hamas memang diakui, sebagian besar rumah sakit tetap menjalankan fungsinya melayani korban sipil.
Menurut hukum internasional, rumah sakit bisa kehilangan status perlindungannya jika digunakan untuk kepentingan militer. Namun, serangan terhadap fasilitas medis yang masih beroperasi telah menimbulkan kritik luas dari berbagai organisasi kemanusiaan.Kunjungan militer terakhir ke Shifa terjadi pada Maret 2024, dalam operasi yang menewaskan lebih dari 200 orang menurut klaim Israel. Dalam serangan itu, bangsal gawat darurat dan gedung bedah hancur total, memperparah kondisi layanan medis yang telah kacau.
Kini, ruang penyimpanan telah disulap menjadi ruang rawat darurat. Pemadaman listrik dan kekurangan bahan bakar menjadi hal rutin. Persediaan medis nyaris habis karena blokade dan kekacauan hukum yang membuat bantuan sulit masuk. Lalat mengerumuni lantai rumah sakit yang lembap dan kotor, karena kurangnya disinfektan dan sanitasi dasar.Kondisi ini menggambarkan tragedi yang lebih luas: runtuhnya sistem kesehatan di Gaza di tengah konflik berkepanjangan. Dari simbol harapan dan perawatan, Al-Shifa kini berubah menjadi saksi bisu dari derita kemanusiaan yang tak kunjung berakhir.