Stroke Mengintai! Ini Dampaknya pada Sel Otak yang Perlu Diwaspadai
Stroke dapat merusak sel-sel otak secara perlahan dalam fase akut. Oleh karena itu, penting untuk memahami proses ini dan menyadari betapa vitalnya.
Stroke masih menjadi ancaman serius di Indonesia. Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi stroke di negara ini mencapai 8,3 per 1.000 penduduk. Namun, sering kali yang terabaikan bukan hanya serangan awalnya, tetapi juga kerusakan lanjutan yang terjadi secara diam-diam di tingkat sel otak.
Dokter spesialis neurologi dari RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), dr. Mohammad Kurniawan, Sp.N(K), MSc, menjelaskan bahwa saat stroke terjadi, aliran darah ke otak terganggu. Hal ini menyebabkan suplai oksigen dan nutrisi terhenti, yang memicu krisis energi pada sel.
Dalam waktu singkat, sel-sel otak mulai mengalami gangguan fungsi. Jika tidak segera ditangani, kerusakan ini dapat berkembang menjadi kematian sel yang memperparah kondisi pasien. Pada fase akut stroke, sel otak berada dalam keadaan sangat rentan.
Gangguan pada mitokondria, bagian sel yang berfungsi menghasilkan energi, menjadi salah satu pemicu utama kerusakan. Ketika produksi energi menurun drastis, sel tidak mampu mempertahankan fungsinya dan mulai mengalami kerusakan permanen.
"Fase ini sangat krusial dalam menentukan masa depan pasien," kata Kurniawan.
Untuk menjawab tantangan ini, Kurniawan melanjutkan, pendekatan terapi saat ini tidak hanya berfokus pada penyelamatan nyawa, tetapi juga perlindungan sel otak. Salah satu upaya yang dikembangkan adalah terapi neuroprotektor, yang berfungsi mendukung metabolisme dan respirasi seluler. PT Pyridam Farma Tbk (PYFA) meluncurkan Cytoflavin sebagai salah satu terapi yang dirancang untuk membantu menjaga viabilitas sel otak. Dalam kondisi iskemik, terapi ini bekerja dengan meningkatkan efisiensi pemanfaatan oksigen dan mendukung pembentukan energi di tingkat sel.
Tujuan dari terapi ini adalah memperlambat kerusakan jaringan otak selama fase kritis hingga awal pemulihan. Direktur PYFA, Antes Eko Prasetyo, menekankan bahwa kebutuhan akan inovasi terapi semakin mendesak, terutama karena tren stroke kini mulai bergeser ke usia produktif.
"Melalui distribusi Cytoflavin, kami ingin memastikan tenaga kesehatan di Indonesia memiliki akses terhadap opsi terapi yang tepat untuk mendukung proses pemulihan pasien stroke secara optimal," ujarnya.
Pendekatan berbasis dukungan metabolik ini sangat penting mengingat tingginya angka disabilitas pasca-stroke.
Banyak pasien yang harus menghadapi penurunan kualitas hidup jangka panjang akibat kerusakan otak yang tidak tertangani secara optimal di fase awal. "Inovasi farmasi dengan presisi seperti inilah yang dibutuhkan untuk memberikan dukungan terbaik bagi pasien yang memerlukan tatalaksana intensif seperti stroke di fase akut," kata Kurniawan.