Atrial Fibrilasi: Kenali Gangguan Irama Jantung yang Perlu Penanganan Serius
Atrial fibrilasi adalah gangguan irama jantung paling umum yang sering tidak menimbulkan gejala, namun berpotensi memicu stroke dan gagal jantung. Kenali lebih dalam bahayanya dan pentingnya penanganan atrial fibrilasi.
Atrial fibrilasi (AF) merupakan salah satu jenis gangguan irama jantung (aritmia) yang paling sering terjadi di tengah masyarakat. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko komplikasi serius jika tidak ditangani dengan tepat, seperti stroke, gagal jantung, dan penurunan kualitas hidup.
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Eka Hospital, Ignatius Yansen, menjelaskan bahwa atrial fibrilasi menjadi fokus utama karena prevalensinya yang tinggi. Ironisnya, sebagian besar pasien seringkali tidak merasakan keluhan yang signifikan, sehingga merasa tidak perlu datang ke dokter jantung atau berobat ke poliklinik.
Pada kasus atrial fibrilasi, denyut jantung menjadi tidak beraturan sehingga cardiac output atau aliran darah yang dipompa jantung tidak optimal. Kondisi ini bisa memengaruhi suplai darah ke otak dan menimbulkan keluhan seperti pusing atau sakit kepala.
Bahaya Atrial Fibrilasi yang Sering Terabaikan
Atrial fibrilasi merupakan jenis aritmia yang paling banyak terjadi di tengah masyarakat. Meskipun demikian, sebagian besar pasien seringkali tidak menyadari kondisi ini karena minimnya gejala yang dirasakan. Akibatnya, banyak yang tidak memeriksakan diri ke dokter jantung atau poliklinik terkait.
Dokter Ignatius Yansen dari Eka Hospital menekankan bahwa gangguan irama jantung ini dapat muncul pada spektrum usia yang luas, mulai dari usia muda hingga lanjut usia, dengan variasi gejala yang berbeda-beda. Angka pasti kasus atrial fibrilasi memang sulit diketahui karena banyak yang tidak terdiagnosis.
Secara global, prevalensi atrial fibrilasi pada kelompok usia di atas 80 tahun dapat mencapai 15 hingga 20 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa risiko gangguan jantung ini meningkat seiring bertambahnya usia, menjadikannya masalah kesehatan yang signifikan bagi populasi lansia.
Kenali Gejala dan Faktor Risiko Atrial Fibrilasi
Keluhan paling umum yang sering dirasakan pasien atrial fibrilasi adalah jantung berdebar-debar. Pada tahap awal, gejalanya bisa hilang timbul dan jarang terjadi, bahkan hanya setahun sekali. Namun, seiring waktu, frekuensi dan durasinya bisa semakin sering dan lama.
Risiko terjadinya atrial fibrilasi juga meningkat pada pasien dengan faktor komorbid tertentu. Kondisi seperti hipertensi (darah tinggi), diabetes (kencing manis), obesitas, dan Obstructive Sleep Apnea (OSA) menjadi pemicu utama. Konsumsi alkohol juga dapat meningkatkan risiko.
Dokter Yansen menjelaskan bahwa pasien dengan faktor risiko tersebut tentu lebih cepat mengalami atrial fibrilasi. Namun, ada pula kasus yang terjadi tanpa faktor risiko jelas, yang disebut sebagai idiopatik.
Menariknya, tidak semua pasien datang dengan keluhan khas jantung. Sebagai contoh, ada kasus pasien berusia 80 tahun yang justru mengeluhkan sakit kepala, bukan masalah jantung. Hal ini terjadi karena denyut jantung yang tidak beraturan pada atrial fibrilasi mengganggu suplai darah ke otak, memicu gejala seperti pusing atau sakit kepala.
Sumber: AntaraNews