Pakar UMY Ingatkan Masyarakat Waspada Gejala Awal Ebola yang Mirip Flu
Dosen FKIK UMY menyerukan masyarakat untuk waspada gejala awal Ebola yang sering disalahartikan sebagai flu biasa, mengingat status darurat kesehatan global dan tingginya angka kematian.
Pakar kesehatan dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) memberikan peringatan penting kepada masyarakat. Mereka diminta untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman virus Ebola yang kembali merebak di beberapa negara Afrika. Peringatan ini muncul menyusul status darurat kesehatan global yang ditetapkan oleh WHO.
Farindira Vesti Rahmasari, seorang dosen dari Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) UMY, menyoroti tantangan utama dalam deteksi dini Ebola. Virus Ebola varian Bundibugyo telah menyebabkan lebih dari 1.460 kasus terkonfirmasi hingga 2 Juli 2026. Tingkat kematian rata-ratanya pun sangat tinggi, mencapai 50 persen.
Tantangan utama dalam menghadapi penyakit ini adalah gejala awal yang mirip dengan influenza atau flu biasa, seperti demam dan nyeri otot. Hal ini sering membuat masyarakat mengabaikan kondisi tersebut. Padahal, deteksi dini sangat krusial untuk penanganan yang efektif.
Mengenali Gejala Awal Ebola dan Tantangan Deteksinya
Farindira Vesti Rahmasari menjelaskan bahwa gejala awal Ebola seringkali membingungkan karena kemiripannya dengan flu biasa. Penderita mungkin mengalami demam, kelelahan, nyeri otot, serta sakit tenggorokan. Masyarakat kerap menganggapnya sebagai penyakit biasa, padahal ini bisa berakibat fatal jika tidak segera tertangani.
Jika tidak ditangani dengan cepat, gejala tersebut dapat memburuk secara signifikan. Kondisi ini bisa berkembang menjadi gangguan fungsi organ vital hingga perdarahan. Penyakit yang disebabkan oleh genus Orthoebolavirus ini memiliki masa inkubasi dua hingga 21 hari.
Menurut catatan WHO hingga 2 Juli 2026, wabah Ebola varian Bundibugyo telah melampaui 1.460 kasus terkonfirmasi. Angka kematian rata-rata yang mencapai 50 persen menunjukkan betapa berbahayanya penyakit ini. Oleh karena itu, kewaspadaan terhadap setiap gejala awal sangatlah penting, terutama setelah bepergian dari daerah terdampak.
Risiko Penularan dan Kelompok yang Berisiko Tinggi
Risiko penularan virus Ebola meningkat drastis begitu gejala mulai muncul pada individu yang terinfeksi. Virus ini menyebar melalui kontak langsung dengan darah maupun cairan tubuh orang yang terinfeksi. Kontak dengan benda terkontaminasi atau jenazah pasien tanpa prosedur keamanan yang ketat juga berpotensi menularkan penyakit.
Tenaga kesehatan merupakan salah satu kelompok paling berisiko karena interaksi langsung dengan pasien. Selain itu, keluarga yang merawat penderita di rumah juga memiliki risiko tinggi terpapar virus. Pelaku perjalanan dari wilayah yang terdampak wabah juga perlu sangat berhati-hati.
Farindira menekankan pentingnya riwayat perjalanan sebagai informasi krusial bagi tenaga kesehatan untuk menentukan diagnosis. Masyarakat yang baru pulang dari wilayah transmisi aktif harus terbuka menyampaikan riwayat tersebut jika mengalami gejala kesehatan. Keterbukaan ini memungkinkan penanganan medis yang lebih cepat dan tepat.
Langkah Pencegahan Efektif untuk Masyarakat dan Fasilitas Kesehatan
Upaya pencegahan Ebola dapat dilakukan melalui langkah sederhana, yakni menghindari kontak langsung dengan darah maupun cairan tubuh orang yang terinfeksi. Penting juga untuk tidak menyentuh benda yang terkontaminasi atau jenazah pasien tanpa prosedur keamanan yang ketat. Kewaspadaan masyarakat sangat diperlukan, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat kontak dengan wilayah endemis.
Di fasilitas kesehatan, penerapan protokol pengendalian infeksi yang ketat menjadi sangat vital untuk memutus rantai penularan. Penggunaan alat pelindung diri (APD) yang memadai wajib diterapkan oleh seluruh petugas. Penyediaan ruang isolasi khusus juga krusial untuk memutus rantai penularan di lingkungan medis.
Masyarakat diimbau untuk tidak mengabaikan gejala kesehatan apa pun, terutama setelah melakukan perjalanan dari daerah terdampak. Kewaspadaan juga diperlukan bagi mereka yang memiliki riwayat kontak dengan satwa liar berisiko seperti kelelawar buah dan primata. Deteksi dini dan keterbukaan informasi adalah kunci agar penyebaran penyakit ini dapat dikendalikan.
Sumber: AntaraNews