Dinkes OKU Ajak Warga Terapkan PHBS untuk Pencegahan Tuberkulosis
Dinas Kesehatan Ogan Komering Ulu (OKU) mengimbau masyarakat untuk aktif menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sebagai langkah krusial dalam pencegahan Tuberkulosis (TBC), terutama saat musim kemarau.
Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) menyerukan kepada seluruh lapisan masyarakat di wilayahnya untuk secara konsisten menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Imbauan ini bertujuan untuk menekan angka penyebaran penyakit Tuberkulosis (TBC) yang rentan terjadi, khususnya saat memasuki musim kemarau.
Penyakit TBC, yang disebabkan oleh kuman mycobacterium tuberculosis, masih menjadi ancaman serius dengan jumlah kasus yang tergolong tinggi di OKU. Oleh karena itu, langkah-langkah pencegahan aktif dari masyarakat sangat diperlukan.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes OKU, Andi Prapto, menegaskan bahwa PHBS adalah cara ampuh menangkal berbagai penyakit menular, termasuk TBC. Pihaknya juga terus menggencarkan berbagai upaya penanggulangan.
Tingginya Kasus Tuberkulosis di OKU dan Dampaknya
Data menunjukkan bahwa kasus TBC di Kabupaten OKU masih menjadi perhatian serius. Sepanjang periode Januari hingga Desember 2025, tercatat adanya 1.006 kasus positif TBC di wilayah tersebut.
Dari total kasus positif tersebut, sebanyak 23 pasien meninggal dunia. Sebagian besar kematian ini disebabkan oleh ketidakdisiplinan pasien dalam menyelesaikan pengobatan secara teratur.
Meskipun demikian, Dinkes OKU mencatat adanya tingkat kesembuhan yang cukup tinggi pada tahun 2025, mencapai 90 persen. Untuk jumlah kasus TBC pada tahun ini, Dinkes OKU masih dalam tahap pendataan dan pemantauan berkelanjutan.
Strategi Komprehensif Dinkes OKU dalam Pencegahan Tuberkulosis
Untuk menekan angka penyebaran TBC, Dinkes OKU telah melakukan berbagai upaya strategis. Salah satunya adalah pelacakan kasus sedini mungkin melalui pemeriksaan kontak erat pasien TBC.
Selain itu, Dinkes OKU secara aktif menggencarkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai vitalnya penerapan PHBS dalam kehidupan sehari-hari. PHBS mencakup kebiasaan menjaga kebersihan diri dan lingkungan, serta pola hidup sehat lainnya yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh.
Pihak Dinkes juga memberikan pengobatan Tuberkulosis Preventive Treatment (TPT) kepada individu yang terinfeksi kuman mycobacterium tuberculosis. Langkah ini bertujuan untuk menekan kasus TBC seminimal mungkin.
Kolaborasi lintas program juga dijalin untuk menjaring terduga TBC di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) internal. Tujuannya adalah memastikan Kabupaten OKU benar-benar bebas dari penyebaran penyakit TBC.
Memahami Tuberkulosis: Gejala, Penularan, dan Bahayanya
Tuberkulosis, atau TBC, adalah penyakit paru-paru yang disebabkan oleh infeksi bakteri mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini dapat menyebar melalui udara ketika penderita batuk atau bersin.
Penyakit ini menimbulkan beberapa gejala khas yang perlu diwaspadai. Gejala tersebut meliputi batuk yang berlangsung lama, tubuh lemas, penurunan berat badan tanpa sebab jelas, tidak nafsu makan, nyeri dada, dan keringat berlebih di malam hari. Batuk yang tak kunjung sembuh lebih dari dua minggu patut dicurigai.
TBC sangat mudah menular pada individu yang memiliki daya tahan tubuh rendah melalui percikan ludah. Percikan ini keluar dari penderita TBC saat berbicara, batuk, atau bersin. Lingkungan yang padat dan kurang ventilasi juga menjadi faktor risiko penularan.
Penting untuk diketahui bahwa TBC tidak hanya menyerang paru-paru, tetapi juga dapat menyebar ke organ lain seperti tulang, usus, atau kelenjar getah bening. Jika tidak ditangani dengan serius, TBC bahkan dapat menyebabkan kematian.
Sumber: AntaraNews