Pencegahan Stunting Bandarlampung: Dinkes Perkuat Deteksi Dini dan Intervensi Gizi
Dinas Kesehatan Kota Bandarlampung memperkuat upaya Pencegahan Stunting Bandarlampung melalui deteksi dini dan intervensi gizi komprehensif, menargetkan penurunan angka stunting dari masa kehamilan hingga balita.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandarlampung secara aktif memperkuat program deteksi dini dan intervensi gizi. Langkah ini bertujuan menekan angka stunting yang menjadi perhatian utama pemerintah daerah. Upaya ini dilakukan secara berkesinambungan, dimulai sejak masa kehamilan hingga anak mencapai usia balita.
Kepala Dinkes Kota Bandarlampung, Muhtadi Arsyad Tumenggung, menjelaskan bahwa deteksi dini dilaksanakan di seluruh puskesmas. Baik puskesmas rawat jalan maupun puskesmas pembantu, terlibat dalam pemeriksaan status gizi masyarakat. Pemeriksaan ini mencakup pengukuran berat badan, tinggi badan, serta indikator gizi lainnya.
Melalui program ini, petugas kesehatan dapat mengidentifikasi masalah gizi sejak dini pada individu. Pemerintah kemudian dapat segera memberikan intervensi yang diperlukan untuk mencegah stunting. Program ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah kota dalam meningkatkan kualitas kesehatan generasi penerus.
Fokus Deteksi Dini di Fasilitas Kesehatan
Deteksi dini gizi buruk menjadi prioritas utama Dinkes Kota Bandarlampung dalam Pencegahan Stunting Bandarlampung. Proses ini dilakukan secara menyeluruh di berbagai fasilitas kesehatan primer. Seluruh puskesmas di Bandarlampung, termasuk puskesmas rawat jalan dan pembantu, berperan aktif dalam kegiatan ini.
Petugas kesehatan melakukan pengukuran status gizi masyarakat secara rutin. Indikator yang diperiksa meliputi berat badan, tinggi badan, berat badan menurut umur, serta berat badan menurut tinggi badan. Data ini sangat penting untuk mengidentifikasi potensi masalah gizi pada individu.
Selain di puskesmas, deteksi dini juga gencar dilakukan melalui kegiatan posyandu. Kota Bandarlampung memiliki 706 posyandu yang tersebar di 126 kelurahan, menjangkau lebih banyak masyarakat. Posyandu menjadi garda terdepan dalam memantau pertumbuhan dan perkembangan balita setiap bulan.
Di posyandu, balita menjalani penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan, dan pemeriksaan indikator gizi lainnya. Hasil pemeriksaan ini memungkinkan petugas mengidentifikasi balita yang mengalami kekurangan gizi atau berisiko stunting. Kader posyandu juga memberikan edukasi penting kepada orang tua.
Intervensi Gizi Komprehensif untuk Ibu Hamil dan Balita
Pencegahan Stunting Bandarlampung tidak hanya berfokus pada deteksi, tetapi juga intervensi gizi yang komprehensif. Kader posyandu memberikan edukasi kepada orang tua mengenai penyusunan menu bergizi seimbang. Mereka juga menyediakan contoh makanan melalui program pemberian makanan tambahan (PMT) untuk balita.
Intervensi gizi juga menyasar ibu hamil sebagai bagian penting dari siklus kehidupan. Program PMT lokal dan pemberian tablet tambah darah diberikan kepada ibu hamil. Langkah ini bertujuan memastikan ibu memiliki kondisi gizi yang baik selama kehamilan.
Kondisi gizi ibu yang baik saat hamil sangat krusial untuk melahirkan bayi yang sehat. Jika gizi ibu tidak optimal, bayi yang dilahirkan berisiko mengalami masalah gizi. Oleh karena itu, penanganan stunting harus dilakukan berdasarkan siklus kehidupan, dimulai sejak masa kehamilan.
Muhtadi menegaskan bahwa pencegahan stunting harus dilakukan secara berkesinambungan. Upaya ini mencakup masa kehamilan, kelahiran, hingga anak memasuki usia balita. Pendekatan holistik ini diharapkan dapat memberikan dampak maksimal dalam menekan angka stunting.
Capaian Penurunan dan Harapan Masa Depan
Upaya Pencegahan Stunting Bandarlampung telah menunjukkan hasil positif dalam penurunan angka stunting. Pada tahun 2024, tercatat 47 balita stunting dari 207 balita yang diperiksa, setara dengan 22,7 persen. Angka ini menjadi dasar evaluasi program yang telah berjalan.
Kemudian, pada tahun 2025, jumlah balita stunting berhasil menurun menjadi sekitar 40 balita. Prevalensi stunting juga turun menjadi sekitar 15 persen. Penurunan ini menunjukkan efektivitas program deteksi dini dan intervensi gizi yang dilakukan Dinkes Bandarlampung.
Muhtadi berharap penurunan angka stunting akan terus berlanjut di tahun 2026. Pemerintah Kota Bandarlampung berkomitmen untuk terus mengoptimalkan berbagai upaya. Tujuannya adalah mencapai penurunan stunting yang lebih signifikan di kota ini.
Selain upaya lokal, Kepala Dinkes juga menaruh harapan besar pada program pemerintah pusat. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) diharapkan memberikan dampak positif pada status gizi bayi, balita, dan ibu hamil. Kolaborasi antara pemerintah daerah dan pusat sangat penting dalam mencapai target nasional penurunan stunting.
Sumber: AntaraNews