Gangguan Irama Jantung karena Kopi, Benarkah? Ini Kata Ahli
Bukti ilmiah mengenai dampak konsumsi kopi terhadap fibrilasi atrial masih menunjukkan hasil yang saling bertentangan.
Konsumsi kopi sering kali dihubungkan dengan munculnya fibrilasi atrial (atrial fibrillation/AF), yang merupakan salah satu jenis gangguan irama jantung (aritmia).
Kondisi ini terjadi akibat aktivitas listrik yang tidak normal di serambi jantung, terutama di serambi kiri. Mengenai pengaruh kopi terhadap AF, Profesor Yoga Yuniadi, seorang dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, memberikan penjelasan penting.
"Tentang kopi terhadap kejadian AF, bukti ilmiahnya kontradiktif. Sebagian mengatakan tidak ada pengaruh, sebagian mengatakan justru baik, sebagian mengatakan malah meningkatkan kejadian AF. Jadi masih netral soal kopi," ungkap Yoga dalam konferensi pers di RS Jantung dan Pembuluh Darah (RSJPD) Harapan Kita, Jakarta, pada Jumat (13/2).
Yoga juga menambahkan bahwa faktor lain, seperti makanan, harus dipertimbangkan dalam konteks komorbiditas yang dialami pasien.
"Kalau misalnya pasien AF tapi dia juga hipertensi, tentu mengurangi garam itu paling bagus," jelasnya.
Lebih lanjut, Yoga menjelaskan bahwa fibrilasi atrial merupakan gangguan irama jantung yang dapat berujung pada stroke, namun kondisi ini sebenarnya bisa dicegah.
"Kita tahu jantung normal hanya dikendalikan oleh satu generator listrik seharusnya, tapi pada saat AF ada lebih dari 400 sumber listrik yang secara liar aktif dan menyebabkan iregularitas irama jantung. Bahkan, menyebabkan kecenderungan terjadinya penggumpalan darah di dalam jantung," tutup Yoga.
Satu dari tiga orang di dunia berisiko mengalami aritmia jantung
Dalam kesempatan yang sama, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, Dicky Armein Hanafy, mengungkapkan bahwa satu dari tiga individu di seluruh dunia berisiko mengalami aritmia atau gangguan irama jantung selama hidup mereka. Sayangnya, banyak kasus baru terdeteksi setelah komplikasi serius seperti stroke dan gagal jantung terjadi.
Aritmia sering kali tidak menunjukkan gejala awal, sehingga sering kali luput dari perhatian hingga kondisi yang mengancam jiwa muncul. "Gangguan irama jantung sering kali tidak bergejala dan baru diketahui ketika komplikasi sudah terjadi. Padahal, sebenarnya deteksi dini dapat dilakukan dengan cara yang sangat sederhana, yaitu dengan MENARI (MEraba NAdi sendiRI) secara rutin," ujarnya.
Yoga, sebagai pendiri MENARI, menekankan pentingnya deteksi dini terhadap gangguan irama jantung. Ia menjelaskan bahwa salah satu jenis gangguan irama jantung, yaitu fibrilasi atrium (AF), merupakan penyebab stroke yang dapat dicegah.
"AF merupakan kelainan irama jantung yang paling sering ditemukan di dunia, termasuk di Indonesia, dengan dampak serius karena meningkatkan risiko stroke hingga lima kali lipat dan risiko kematian dua kali lipat. Namun demikian, sekitar 50 persen kasus fibrilasi atrium tidak terdiagnosis karena penderitanya tidak menyadari adanya gangguan irama jantung dalam dirinya," jelas Yoga.
Silakan tuliskan dalam bahasa Indonesia dengan struktur kalimat yang efektif
Kondisi tersebut menjadi dasar untuk mengkampanyekan MENARI sebagai langkah mudah yang dapat dilakukan oleh masyarakat dalam memeriksa keteraturan denyut jantung secara mandiri melalui perabaan nadi. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa MENARI dapat meningkatkan deteksi fibrilasi atrium, yang membuka peluang untuk penanganan lebih awal dan menurunkan risiko terjadinya stroke.
"MENARI dilakukan dengan meletakkan jari telunjuk dan jari tengah di pergelangan tangan atau leher, menghitung denyut selama 30 detik lalu dikalikan dua untuk mendapatkan denyut per menit. Denyut normal berkisar 60-100 kali per menit, namun keteraturan irama juga perlu diperhatikan," ungkap dokter spesialis jantung dan pembuluh darah tersebut.
Ia juga menjelaskan bahwa denyut nadi yang tidak teratur, seperti adanya denyut yang hilang, irama yang bervariasi, atau denyut yang terlalu cepat di atas 100 kali per menit dan terlalu lambat di bawah 60 kali per menit adalah tanda yang harus diperhatikan.
Hal ini terutama penting jika disertai dengan gejala seperti pusing, keringat dingin, nyeri dada, sesak napas, pingsan, bicara pelo, atau kelemahan pada anggota gerak. Kondisi-kondisi tersebut memerlukan pemeriksaan medis lebih lanjut untuk mencegah terjadinya komplikasi yang lebih serius.
Menari dapat dipelajari secara ilmiah
Secara ilmiah, penelitian menunjukkan bahwa MENARI merupakan metode awal yang efektif untuk mendeteksi ketidakberaturan denyut jantung, meskipun tidak dimaksudkan sebagai alat untuk diagnosis definitif. Jika nadi terasa tidak teratur, penting untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut seperti rekaman EKG, terutama bagi kelompok yang berisiko tinggi, seperti orang tua atau individu dengan riwayat penyakit jantung.
Dengan melakukan deteksi dini dan penerapan pengobatan yang tepat, termasuk penggunaan pengencer darah pada kasus fibrilasi atrium, risiko terjadinya stroke dapat berkurang secara signifikan. Hal ini menjadikan MENARI sebagai kebiasaan sederhana namun berdampak besar dalam upaya pencegahan penyakit kardiovaskular.
"Kebiasaan memeriksa nadi secara berkala dapat membantu menemukan gangguan irama jantung (fibrilasi atrium) yang sebelumnya tidak disadari. Bila gangguan ini terdeteksi dan diobati dengan pengencer darah yang tepat, risiko stroke dapat berkurang secara bermakna," ungkap seorang ahli.
Meskipun masih terbatas, "penelitian besar yang secara langsung membuktikan bahwa kebiasaan meraba nadi sendiri menurunkan angka stroke masih terbatas, tapi tetap saja jalur manfaatnya, mulai dari deteksi dini hingga pencegahan stroke, sudah sangat kuat secara ilmiah," tambahnya.