Kalsel Perkuat Perhutanan Sosial Tapin Melalui Pengembangan Agroforestri Kopi
Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan gencar mengembangkan agroforestri untuk memperkuat perhutanan sosial di Kabupaten Tapin. Pelatihan budidaya kopi berkelanjutan tingkatkan kapasitas petani sekaligus menjaga kelestarian hutan.
Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) aktif mengembangkan hasil hutan bukan kayu (HHBK) berbasis agroforestri di Kabupaten Tapin. Upaya ini bertujuan untuk memperkuat perhutanan sosial di wilayah tersebut.
Pengembangan ini dilakukan melalui peningkatan kapasitas kelompok tani hutan (KTH) dalam pengelolaan kopi secara berkelanjutan di kawasan hutan. Pelatihan budidaya dan pengolahan kopi dengan pola agroforestri menjadi fokus utama untuk mencapai tujuan ini.
Inisiatif ini tidak hanya meningkatkan kemampuan masyarakat mengelola komoditas kehutanan bernilai ekonomi, tetapi juga menjaga fungsi konservasi kawasan hutan. Pola agroforestri kopi diharapkan menghasilkan produk berkualitas serta memiliki nilai ekologis tinggi.
Peningkatan Kapasitas Petani Hutan di Tapin
Rahmad Riansyah, Kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Hulu Sungai Dinas Kehutanan Kalsel, menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan langkah strategis. Pelatihan tersebut bertujuan untuk menguatkan sumber daya manusia bagi KTH dan kelompok perhutanan sosial (KPS) yang mengembangkan kopi di dalam kawasan hutan.
Program ini memberikan ruang bagi masyarakat untuk memanfaatkan kawasan hutan secara produktif. Pengembangan kopi ditanam berdampingan dengan tegakan pohon, memastikan aktivitas budidaya berjalan seiring upaya pelestarian lingkungan.
Pelatihan ini melibatkan 30 peserta dari berbagai kelompok, termasuk LPHD Patikalain, LPHD Uwie, LPHD Nalui, KTH Jaya Abadi, dan KTH Karamo Bersinar. Para penyuluh kehutanan dari KPH Tabalong dan KPH Hulusungai turut serta dalam kegiatan ini. Peserta juga menerima materi tentang kebijakan pengembangan HHBK di Kalimantan Selatan.
Manfaat Ekologis dan Ekonomi Agroforestri Kopi
Pola agroforestri kopi tidak hanya berfokus pada hasil panen berkualitas, tetapi juga memberikan nilai ekologis yang sangat besar. Sistem ini membantu menjaga tegakan pohon dan meningkatkan penyerapan karbon di kawasan hutan.
Rahmad menjelaskan bahwa sistem agroforestri mendukung pengelolaan hutan berkelanjutan. Pendekatan ini mampu menjaga tutupan lahan, menekan risiko erosi, serta mempertahankan fungsi kawasan sebagai penyerap karbon tanpa mengurangi peluang masyarakat memperoleh manfaat dari hasil hutan bukan kayu.
Ini menunjukkan keseimbangan antara aspek ekonomi dan lingkungan dalam pengelolaan hutan.
Implementasi Pelatihan Melalui Sekolah Lapang
Pelatihan dilaksanakan dengan konsep sekolah lapang yang menggabungkan pembelajaran teori dan praktik. Hari pertama kegiatan berlangsung di Mess Family Binuang, memberikan dasar-dasar teoretis kepada peserta.
Pada hari kedua, peserta mengikuti praktik lapangan di Wanawiyata Widyakarya Berkah Kopi Tapin. Lokasi ini merupakan milik Kelompok Tani Hutan Baru Muncul yang berada di wilayah kerja KPH Hulusungai.
Praktik lapangan mencakup seleksi benih unggul, persemaian, penanaman, pemeliharaan tanaman, hingga teknik panen dan pascapanen kopi. Metode ini diharapkan meningkatkan keterampilan teknis petani dalam menghasilkan produk kopi berkualitas dan bernilai tambah.
Kegiatan ini didanai melalui program Result Based Payment (RBP) REDD+ for Result Periode 2024–2026 Green Climate Fund Output 2 Kategori Pemanfaatan II.
Sumber: AntaraNews