Guru Besar Kehutanan Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon, Prof. Fransina Latumahina, menyoroti pentingnya pengembangan sistem agroforestri. Ini sebagai strategi utama pemerintah dalam melindungi kawasan hutan yang memiliki tingkat kerentanan ekologis tinggi di Maluku.
Pernyataan ini disampaikan Prof. Fransina di Ambon pada Sabtu, 10 Januari. Ia menekankan bahwa agroforestri menjadi pendekatan relevan untuk pulau-pulau kecil di Maluku. Pendekatan ini mampu mengintegrasikan kepentingan ekonomi masyarakat dengan perlindungan kawasan hutan secara berkelanjutan.
Agroforestri memungkinkan masyarakat mengelola lahan dengan memadukan tanaman kehutanan, pertanian, dan tanaman bernilai ekonomi. Hal ini dapat dilakukan tanpa harus membuka hutan secara masif. Pendekatan ini dinilai efektif menekan laju deforestasi sekaligus menjaga kesehatan ekosistem hutan.
Advertisement
Advertisement
Manfaat Agroforestri untuk Keseimbangan Ekologi
Prof. Fransina menjelaskan bahwa hutan di pulau kecil Maluku memiliki peran vital. Hutan daratan, hutan rawa, maupun mangrove berfungsi sebagai penopang utama keseimbangan ekologi. Selain itu, hutan juga menjadi sumber penghidupan masyarakat serta pelindung alami dari abrasi, banjir, dan intrusi air laut.
Oleh karena itu, perlindungan kawasan hutan harus dibarengi dengan solusi ekonomi yang adil bagi masyarakat sekitar. Berdasarkan penelitiannya, kesehatan hutan sangat dipengaruhi oleh stabilitas keanekaragaman hayati. Struktur tegakan yang seimbang serta minimnya gangguan seperti kebakaran dan eksploitasi berlebihan juga menjadi faktor penting.
Agroforestri, lanjutnya, dapat membantu menjaga indikator-indikator tersebut tetap stabil. Dengan sistem ini, tutupan lahan tetap terjaga, fungsi tanah dan air terlindungi, dan tekanan terhadap kawasan hutan lindung maupun mangrove dapat dikurangi.
Advertisement
Konsep agroforestri ini sejalan dengan prinsip pengelolaan hutan lestari. Ini mendorong pemanfaatan sumber daya secara bijak tanpa mengorbankan fungsi ekologis jangka panjang. Penerapannya juga dapat dikombinasikan dengan kearifan lokal masyarakat adat, seperti sasi, yang telah lama terbukti menjaga keseimbangan alam di Maluku.
Advertisement
Tantangan dan Rekomendasi Pengembangan Agroforestri
Meskipun memiliki potensi besar, pengembangan agroforestri di Maluku masih menghadapi sejumlah tantangan. Prof. Fransina mengakui adanya keterbatasan kebijakan pendukung. Rendahnya kapasitas teknis masyarakat serta lemahnya pengawasan di wilayah pulau kecil yang tersebar juga menjadi kendala.
Untuk mengatasi hal tersebut, ia mendorong pemerintah daerah dan pusat memperkuat kebijakan agroforestri. Penguatan ini dapat dilakukan melalui pendampingan teknis dan penyediaan bibit unggul. Insentif ekonomi serta penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan komunitas lokal juga sangat diperlukan.
“Pengembangan agroforestri bukan hanya soal produksi, tetapi strategi perlindungan kawasan hutan,” tegas Prof. Fransina. Ia menambahkan bahwa jika diterapkan secara konsisten, agroforestri dapat menjadi benteng ekologis sekaligus sumber kesejahteraan masyarakat pulau kecil di Maluku.
Advertisement
Saat ini, Pemerintah Provinsi Maluku melalui Dinas Kehutanan sedang menggencarkan berbagai program agroforestri. Salah satunya adalah penerapan hutan masyarakat. Dalam program ini, masyarakat yang tinggal di sekitar hutan diedukasi untuk melakukan pertanian dan perkebunan secara mandiri.
Sumber: AntaraNews