Dukungan Petani Kopi Purbalingga Ditingkatkan, Produktivitas dan Hilirisasi Jadi Prioritas
Dinas Pertanian Purbalingga memperkuat dukungan bagi petani kopi untuk meningkatkan produktivitas dan hilirisasi, menyusul kenaikan harga yang membangkitkan gairah petani di wilayah tersebut.
Dinas Pertanian (Dinpertan) Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, secara aktif memperkuat dukungan bagi para petani kopi di wilayahnya. Langkah ini diambil untuk meningkatkan produktivitas, memperluas areal tanam, serta menguatkan hilirisasi komoditas kopi di beberapa kecamatan.
Penguatan ini didasari oleh kenaikan harga kopi yang signifikan dalam dua tahun terakhir, yang telah membangkitkan kembali semangat para petani. Pemerintah Kabupaten Purbalingga melalui Dinpertan berkomitmen penuh untuk mendampingi petani mulai dari tahap budidaya, pascapanen, hingga pemasaran guna meningkatkan kesejahteraan mereka.
Kepala Dinpertan Kabupaten Purbalingga, Prayitno, menyatakan bahwa pihaknya melihat antusiasme petani kopi yang terus meningkat. "Kami melihat gairah petani kopi terus meningkat. Pemkab Purbalingga melalui Dinpertan siap memperkuat pendampingan mulai dari budi daya, pascapanen hingga pemasaran agar kesejahteraan petani semakin naik," ujarnya di Purbalingga, baru-baru ini.
Peningkatan Produktivitas dan Luas Lahan Kopi
Saat ini, Purbalingga memiliki luas tanaman kopi robusta mencapai 1.682 hektare dengan rata-rata produksi 188,3 kilogram per hektare. Sementara itu, kopi arabika tersebar di lahan seluas 98 hektare dengan produksi rata-rata 130,5 kilogram per hektare.
Untuk mendukung peningkatan kapasitas petani, Dinpertan juga telah menyiapkan lahan demplot kopi seluas 1,9 hektare di Desa Cendana. Lahan ini akan menjadi percontohan dan sarana pelatihan bagi para petani kopi di Purbalingga.
Dalam kegiatan 'Rembug Kopi' yang digelar di Gasebo P4S Sawah Gunung, Desa Karanganyar, Jumat lalu, Komunitas Petani Kopi Purbalingga (Kompak) turut hadir. Pada kesempatan tersebut, para petani menyampaikan minat yang tinggi untuk menanam kopi, bahkan di kalangan generasi muda, menunjukkan potensi besar pengembangan kopi di Purbalingga.
Gairah Petani Bangkit Berkat Harga Kopi yang Membaik
Rusdi, seorang petani dari Desa Gondang, mengakui bahwa harga kopi yang membaik dalam dua tahun terakhir telah menjadi pemicu utama kebangkitan semangat petani. "Dulu saat harga kopi hanya berkisar Rp18 ribu-Rp 20 ribu (per kilogram), petani kecewa. Bahkan, ada yang membabat tanaman kopinya dengan tanaman kapulaga yang saat itu harganya lebih bagus," kenangnya.
Saat ini, harga kopi petik merah berkisar antara Rp75 ribu hingga Rp80 ribu per kilogram, sedangkan harga petik hijau keras mencapai Rp55 ribu hingga Rp65 ribu per kilogram. Kenaikan harga yang signifikan ini mendorong petani untuk kembali menanam kopi, dengan harapan harga akan terus membaik di masa mendatang.
Petani kini bersemangat untuk mengelola kembali lahan kopi mereka, melihat potensi ekonomi yang jauh lebih menjanjikan. Kondisi ini menjadi momentum penting bagi Dinpertan Purbalingga untuk terus memberikan dukungan dan pendampingan agar produktivitas dan kualitas kopi Purbalingga dapat terus ditingkatkan.
Inovasi Hilirisasi dan Kolaborasi untuk Nilai Tambah
Pegiat kopi Purbalingga, Hapsoro Paripurno, tengah mengembangkan konsep inovatif yang disebut "Mempertautkan Kopi, Kita, dan Bumi". Konsep ini mencakup seluruh proses mulai dari produksi, pascapanen, hingga hilirisasi, dengan tujuan menjadikan kopi sebagai 'organic interface' atau medium penghubung antara manusia dan bumi.
Misi utama dari konsep ini adalah meningkatkan kesadaran kolektif tentang pentingnya kopi berkelanjutan, mendorong praktik ramah lingkungan, dan menciptakan keadilan dalam rantai nilai kopi. Hapsoro juga berharap konsep ini dapat menghadirkan ruang kolaborasi lintas sektor yang melibatkan petani, akademisi, seniman, barista, komunitas, dan pemerintah.
"Melalui konsep ini, kami ingin menaikkan nilai jual kopi hingga 30 persen," tegas Hapsoro. Sementara itu, Penasihat Kompak, Indaru Setyo Nurprojo, mendorong petani kopi untuk berkolaborasi dengan pemerintah desa yang memiliki hak pengelolaan hutan, seperti di Desa Ponjen dan Desa Tanalum. Pemanfaatan lahan hutan untuk tanaman kopi diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus mendukung upaya konservasi lingkungan.
Sumber: AntaraNews