Dinpertan Purbalingga Perkuat Dukungan, Gairah Petani Kopi Purbalingga Meningkat Drastis

Dinas Pertanian Purbalingga intensifkan dukungan bagi Petani Kopi Purbalingga seiring kenaikan harga. Simak upaya peningkatan produktivitas, perluasan areal, dan hilirisasi kopi.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Dinpertan Purbalingga Perkuat Dukungan, Gairah Petani Kopi Purbalingga Meningkat Drastis
Dinas Pertanian Purbalingga memperkuat dukungan petani kopi, mulai dari budidaya hingga hilirisasi, menyusul kenaikan harga kopi yang signifikan, membangkitkan kembali gairah petani di wilayah tersebut. (AntaraNews)

Dinas Pertanian (Dinpertan) Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, secara aktif memperkuat dukungannya bagi para petani kopi di wilayahnya. Langkah ini diambil untuk meningkatkan produktivitas, memperluas areal tanam, serta menguatkan hilirisasi komoditas kopi. Peningkatan dukungan ini sejalan dengan tren kenaikan harga kopi yang signifikan belakangan ini, memicu semangat baru di kalangan petani.

Kepala Dinpertan Purbalingga, Prayitno, menyatakan bahwa pihaknya siap memberikan pendampingan komprehensif. Pendampingan tersebut mencakup seluruh tahapan, mulai dari budidaya, proses pascapanen, hingga strategi pemasaran produk kopi. Tujuannya adalah untuk mendorong peningkatan kesejahteraan para petani kopi di Purbalingga secara berkelanjutan.

Gairah menanam kopi di kalangan masyarakat, termasuk generasi muda, kini semakin meningkat. Hal ini terungkap dalam kegiatan 'Rembug Kopi' yang melibatkan Komunitas Petani Kopi Purbalingga (Kompak) pada Jumat (21/11/2025) lalu. Diskusi tersebut menegaskan kembali potensi besar sektor kopi di Purbalingga.

Dinpertan Purbalingga terus berkomitmen dalam meningkatkan produktivitas komoditas kopi di berbagai kecamatan. Saat ini, luas tanaman kopi robusta di Purbalingga mencapai 1.682 hektare dengan produksi rata-rata 188,3 kilogram per hektare. Sementara itu, kopi arabika tersebar di lahan seluas 98 hektare dengan hasil produksi sekitar 130,5 kilogram per hektare.

Untuk mendukung upaya ini, Dinpertan telah menyiapkan lahan demplot kopi seluas 1,9 hektare di Desa Cendana. Lahan percontohan ini berfungsi sebagai sarana peningkatan kapasitas dan pengetahuan bagi para petani. Inisiatif ini diharapkan dapat mendorong adopsi praktik budidaya terbaik di kalangan petani kopi Purbalingga.

Kepala Dinpertan Kabupaten Purbalingga, Prayitno, menegaskan bahwa pihaknya melihat gairah petani kopi terus meningkat. "Kami melihat gairah petani kopi terus meningkat. Pemkab Purbalingga melalui Dinpertan siap memperkuat pendampingan mulai dari budi daya, pascapanen hingga pemasaran agar kesejahteraan petani semakin naik," kata Prayitno. Pernyataan ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung sektor kopi.

Minat menanam kopi tidak hanya terbatas pada petani lama, tetapi juga menarik perhatian generasi muda. Fenomena ini menjadi angin segar bagi keberlanjutan industri kopi di Purbalingga. Partisipasi aktif dari berbagai pihak diharapkan dapat mempercepat pencapaian target peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani.

Kenaikan harga kopi yang signifikan dalam dua tahun terakhir telah menjadi pendorong utama kebangkitan semangat para petani kopi di Purbalingga. Rusdi, seorang petani dari Desa Gondang, mengakui bahwa kondisi harga saat ini sangat membangkitkan gairah mereka. Harga kopi petik merah kini mencapai kisaran Rp75 ribu hingga Rp80 ribu per kilogram, sedangkan kopi petik hijau keras dihargai Rp55 ribu hingga Rp65 ribu per kilogram.

Perubahan harga ini sangat kontras dengan kondisi beberapa tahun lalu. "Dulu saat harga kopi hanya berkisar Rp18 ribu-Rp 20 ribu (per kilogram), petani kecewa. Bahkan, ada yang membabat tanaman kopinya dengan tanaman kapulaga yang saat itu harganya lebih bagus," ujar Rusdi. Pengalaman pahit tersebut kini menjadi pelajaran berharga bagi para petani.

Melihat kondisi pasar yang membaik, banyak petani kini mulai kembali menanam kopi. Harapan besar tersemat agar harga kopi terus stabil dan bahkan meningkat di masa mendatang. Hal ini tidak hanya akan meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga memperkuat posisi Purbalingga sebagai salah satu sentra penghasil kopi.

Selain dukungan budidaya dan harga, aspek hilirisasi juga menjadi fokus penting dalam pengembangan kopi Purbalingga. Pegiat kopi Purbalingga, Hapsoro Paripurno, tengah mengembangkan konsep inovatif bernama "Mempertautkan Kopi, Kita, dan Bumi". Konsep ini bertujuan untuk menciptakan rantai nilai kopi yang lebih berkelanjutan dan menguntungkan.

Hapsoro menjelaskan bahwa inisiatif kolaboratif ini menjadikan kopi sebagai "organic interface", yakni medium penghubung antara manusia dan bumi. Konsep ini akan menghadirkan narasi multikanal tentang keberlanjutan melalui berbagai kegiatan. Ini termasuk tur, pameran, riset, seni, media, dan pengalaman konsumsi kopi yang reflektif.

Misi utama dari konsep ini adalah meningkatkan kesadaran kolektif tentang pentingnya kopi berkelanjutan. Selain itu, Hapsoro juga ingin mendorong praktik ramah lingkungan dan keadilan dalam rantai nilai kopi. Konsep ini juga berupaya menghadirkan ruang kolaborasi lintas sektor, melibatkan petani, akademisi, seniman, barista, komunitas, dan pemerintah.

Penasihat Komunitas Petani Kopi Purbalingga (Kompak), Indaru Setyo Nurprojo, turut mendorong kolaborasi. Ia menyarankan petani untuk bekerja sama dengan pemerintah desa, terutama yang memiliki hak pengelolaan hutan. Contohnya adalah di Desa Ponjen dan Desa Tanalum, di mana lahan hutan dapat dimanfaatkan untuk penanaman kopi. "Lahan hutan tersebut, bisa juga digunakan untuk tanaman jenis kopi. Harapannya, tentu dapat menaikkan kesejahteraan petani kopi dan juga mendukung upaya konservasi," kata Indaru. Kolaborasi semacam ini diharapkan dapat menaikkan nilai jual kopi hingga 30 persen.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi