Dinkes Sulbar: 1.743 Kasus TBC Sulbar Terdeteksi, Ribuan Lain Masih Mengancam
Dinas Kesehatan P2KB Provinsi Sulawesi Barat mencatat 1.743 Kasus TBC Sulbar hingga Juni 2026, namun ancaman penularan serius muncul karena ribuan kasus lain belum terdeteksi. Deteksi dini menjadi kunci.
Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Provinsi Sulawesi Barat melaporkan penemuan 1.743 kasus tuberkulosis (TBC) di wilayahnya hingga Juni 2026. Angka ini menjadi perhatian serius di tengah upaya eliminasi TBC secara nasional. Kepala Dinkes P2KB Sulbar, Nursyamsi Rahim, mengungkapkan data tersebut di Mamuju pada Sabtu (04/07).
Meskipun 1.743 kasus telah terdeteksi, jumlah ini baru mencapai sekitar 34,8 persen dari estimasi target 5.002 kasus TBC di Sulawesi Barat. Artinya, masih ada sekitar 3.259 kasus yang belum teridentifikasi. Selisih angka yang signifikan ini menimbulkan kekhawatiran mendalam terhadap potensi penyebaran penyakit.
Nursyamsi Rahim menegaskan bahwa ribuan kasus yang belum terdeteksi tersebut merupakan tantangan besar sekaligus ancaman nyata bagi kesehatan masyarakat. Penderita TBC yang tidak menyadari kondisinya berisiko menularkan bakteri kepada 10 hingga 15 orang di sekitarnya setiap tahun. Oleh karena itu, deteksi dini menjadi urgensi bersama untuk mencegah penularan lebih lanjut.
Tantangan Deteksi dan Ancaman Penularan Kasus TBC Sulbar
Penemuan 1.743 kasus TBC hingga pertengahan tahun 2026 menunjukkan sebagian dari upaya deteksi yang telah dilakukan Dinkes P2KB Sulbar. Namun, angka ini masih jauh dari target estimasi yang mencapai 5.002 kasus. Artinya, mayoritas kasus TBC di Sulawesi Barat diperkirakan masih belum terjangkau oleh sistem kesehatan.
Nursyamsi Rahim menyatakan bahwa sekitar 65,2 persen kasus TBC masih belum terdeteksi. Selisih 3.259 kasus ini menjadi indikator bahwa banyak penderita TBC mungkin masih beraktivitas di tengah masyarakat tanpa menyadari status kesehatannya. Kondisi ini meningkatkan risiko penularan yang signifikan.
Penderita TBC yang tidak terdiagnosis dan tidak diobati dapat menjadi sumber penularan utama di komunitas. Setiap individu yang terinfeksi berpotensi menularkan bakteri Mycobacterium tuberculosis kepada banyak orang lain. Situasi ini menggarisbawahi pentingnya strategi deteksi yang lebih agresif dan komprehensif.
Penyebab Minimnya Deteksi dan Solusi Pemerintah
Harsalim, Epidemiolog Kesehatan Dinkes P2KB Sulbar, menjelaskan bahwa minimnya kesadaran masyarakat menjadi penyebab utama banyaknya kasus TBC yang terlewatkan. Banyak individu enggan memeriksakan diri meskipun mengalami gejala batuk persisten lebih dari dua minggu. Stigma negatif terhadap penyakit ini juga turut memperparah kondisi.
Rasa takut dan malu untuk berobat seringkali menghambat masyarakat mencari pertolongan medis. Padahal, deteksi TBC saat ini sudah didukung oleh teknologi canggih seperti Tes Cepat Molekuler (TCM) yang sangat akurat. Pemeriksaan dan obat-obatan TBC juga disediakan secara gratis oleh pemerintah melalui puskesmas.
Dinkes P2KB Sulbar membuka akses seluas-luasnya bagi masyarakat untuk berkonsultasi atau melaporkan indikasi kasus TBC di lingkungan sekitar. Inisiatif ini bertujuan untuk menghilangkan hambatan akses dan mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam upaya deteksi dini.
Komitmen Pemerintah Provinsi Sulbar dalam Eliminasi TBC
Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat, melalui Dinkes P2KB Sulbar, berkomitmen kuat untuk mencapai target eliminasi TBC. Salah satu strategi utama adalah gerakan aktif penemuan kasus (active case finding) di seluruh wilayah. Langkah ini diharapkan dapat menjangkau lebih banyak penderita yang belum terdeteksi.
Harsalim menegaskan bahwa percepatan eliminasi TBC adalah bagian integral dari peningkatan derajat kesehatan masyarakat di Sulbar. Upaya ini sejalan dengan visi "Sulbar Maju dan Sejahtera" yang diusung pemerintah daerah. Kolaborasi berbagai pihak menjadi kunci keberhasilan program ini.
Pemerintah terus mendorong masyarakat agar tidak takut atau malu untuk memeriksakan diri. Dengan deteksi dini dan pengobatan yang tepat, TBC dapat disembuhkan sepenuhnya. Edukasi publik dan kampanye kesadaran terus digencarkan untuk mengubah persepsi negatif terhadap penyakit ini.
Sumber: AntaraNews