Polda Sulbar dan Dinkes P2KB Perkuat Sinergi Percepat Eliminasi TBC Sulbar
Polda Sulbar dan Dinkes P2KB Provinsi Sulawesi Barat bersinergi mempercepat eliminasi TBC. Kolaborasi ini penting mengingat tingginya kasus dan upaya memutus rantai penularan.
Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Provinsi Sulawesi Barat bersama Kepolisian Daerah (Polda) Sulbar memperkuat sinergi dalam upaya percepatan eliminasi tuberkulosis (TBC) di wilayah tersebut. Pertemuan strategis ini dilaksanakan di Mamuju pada Sabtu, 4 Juli 2026, untuk membahas langkah-langkah konkret kolaborasi lintas sektor.
Kepala Dinkes P2KB Provinsi Sulbar, dr. Nursyamsi Rahim, menjelaskan bahwa pertemuan ini merupakan implementasi dari Gerakan Aktif Masyarakat dan Tenaga Kesehatan Terpadu Atasi Tuberkulosis (Garatta TBC). Inisiatif ini bertujuan untuk memperkuat kerja sama berbagai pihak dalam penanggulangan TBC, mengingat tantangan yang masih besar di Sulawesi Barat.
Kolaborasi ini melibatkan jajaran pimpinan kedua institusi, termasuk Sekretaris Dinkes P2KB dr. Marintani Erna Dochri, Direktur Binmas Polda Sulbar Kombes Pol Prasetya Sejati, dan Kabid Dokkes Polda Sulbar dr. Elvis Jefferson. Mereka sepakat bahwa percepatan eliminasi TBC membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat dan pemerintah, tidak hanya mengandalkan tenaga kesehatan.
Strategi Kolaborasi Lintas Sektor dalam Eliminasi TBC
Data semester pertama tahun 2026 menunjukkan bahwa Sulawesi Barat memiliki estimasi 5.504 kasus TBC, dengan 1.743 kasus telah ditemukan hingga Juni 2026. Selain itu, dari estimasi 7.249 kontak erat pasien TBC, baru 365 orang yang menerima terapi pencegahan tuberkulosis (TPT).
Angka-angka ini mengindikasikan masih banyak ruang untuk peningkatan penemuan kasus, investigasi kontak, serta pemberian TPT. Oleh karena itu, kolaborasi dengan Polda Sulbar menjadi langkah strategis untuk mempercepat penemuan kasus dan memastikan masyarakat berisiko mendapatkan TPT.
Dr. Nursyamsi Rahim menegaskan bahwa semakin cepat kasus TBC ditemukan dan ditangani, semakin besar peluang untuk memutus rantai penularan. Keterlibatan jajaran kepolisian, khususnya Bhabinkamtibmas yang memiliki jaringan hingga tingkat desa, diharapkan dapat memperluas jangkauan program eliminasi TBC.
Penguatan Sistem Monitoring dan Pelaporan TBC
Dinkes P2KB Sulbar dan Polda Sulbar berkomitmen untuk memperkuat sistem monitoring berbasis data guna memantau setiap capaian secara berkala. Mereka akan membangun mekanisme pelaporan yang sederhana namun efektif, mencakup laporan harian, bulanan, hingga dasbor pemantauan bersama.
Konsep "satu data dan satu arah koordinasi" akan diterapkan agar seluruh jajaran dapat bergerak lebih cepat dan tepat sasaran dalam upaya eliminasi TBC. Direktur Binmas Polda Sulbar, Kombes Pol Prasetya Sejati, menekankan pentingnya penyusunan pola kerja sama yang lebih operasional untuk mencapai tujuan ini.
Evaluasi berkala akan dilakukan bersama untuk mengidentifikasi capaian, kendala, serta langkah percepatan di wilayah dengan indikator yang masih rendah. Hal ini bertujuan untuk memastikan efektivitas program dan adaptasi terhadap kondisi lapangan.
Peran Aktif Kepolisian dan Rumah Sakit dalam Penanganan TBC
Kombes Pol Prasetya Sejati mengusulkan agar analisis dan evaluasi penanganan TBC menjadi agenda strategis yang dipimpin langsung oleh Gubernur Sulbar. Tujuannya adalah untuk memastikan seluruh perangkat daerah dan pemangku kepentingan memiliki komitmen yang sama dalam mengejar target eliminasi TBC.
Polda Sulbar juga akan mendorong penyelenggaraan pelatihan dan orientasi bagi seluruh Bhabinkamtibmas mengenai deteksi dini TBC, investigasi kontak, serta pendampingan masyarakat. Penguatan kapasitas ini akan dilengkapi dengan penyusunan buku saku, dasbor pemantauan berbasis wilayah kerja Bhabinkamtibmas, serta sistem penghargaan bagi personel dan tenaga kesehatan berkinerja terbaik.
Kabid Dokkes Polda Sulbar, dr. Elvis Jefferson, menyoroti peran krusial rumah sakit dalam percepatan penemuan kasus TBC. Menurutnya, banyak pasien TBC pertama kali teridentifikasi di rumah sakit, sehingga fasilitas kesehatan ini harus menjadi bagian penting dalam jejaring penanganan TBC untuk memastikan tindak lanjut yang tuntas.
Sumber: AntaraNews