Sinergi PPTI dan Dinkes Berau Percepat Eliminasi TBC Berau dengan Skrining Massal
Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau bersinergi aktif dalam upaya percepatan Eliminasi TBC Berau melalui skrining masif hingga ke tingkat desa dan kelurahan.
Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, menjalin kolaborasi strategis. Sinergi ini bertujuan untuk mempercepat eliminasi penyakit Tuberkulosis (TBC) secara berkesinambungan di wilayah tersebut.
Langkah konkret yang dilakukan meliputi kegiatan skrining TBC yang menjangkau hingga ke desa dan kelurahan. Inisiatif ini menjadi bagian penting dari strategi pencegahan serta penanggulangan TBC di tengah masyarakat Berau.
Sebelum pelaksanaan skrining, PPTI dan Dinkes Berau, didukung Tim Pembina Posyandu Berau, mengadakan sosialisasi komprehensif. Sosialisasi ini berfokus pada pengenalan aplikasi Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) untuk pelaporan yang efisien.
Kolaborasi Skrining TBC hingga Tingkat Desa
Ketua PPTI Kabupaten Berau, Sri Aslinda Gamalis, menjelaskan bahwa kolaborasi ini merupakan upaya memperkuat pencegahan dan penanggulangan TBC. Skrining dilakukan secara proaktif di berbagai lapisan masyarakat, termasuk di daerah terpencil.
Kegiatan skrining ini tidak hanya berfokus pada penemuan kasus, tetapi juga pada edukasi masyarakat. Tujuannya adalah meningkatkan kesadaran akan bahaya TBC dan pentingnya deteksi dini.
Sosialisasi sebelum skrining juga membekali peserta dengan pemahaman mendalam mengenai gejala TBC. Selain itu, tata cara pelaporan hasil skrining secara cepat dan efisien melalui sistem digital SITB turut diajarkan.
Pemanfaatan teknologi informasi melalui aplikasi SITB menjadi langkah strategis. Hal ini untuk memastikan data yang akurat, pemantauan kasus lebih cepat, serta pengambilan keputusan yang tepat dalam penanggulangan TBC.
Peran Vital Posyandu dan Kader Kesehatan dalam Eliminasi TBC Berau
Sri Aslinda Gamalis, yang juga Ketua Tim Pembina Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) Berau, menegaskan peran aktif posyandu. Posyandu yang tersebar di seluruh Berau berkontribusi signifikan dalam optimalisasi skrining TBC.
Posyandu di kelurahan dan kampung-kampung turut membantu puskesmas dalam mendukung pencapaian kinerja Dinas Kesehatan. Bantuan ini diwujudkan melalui pencatatan dan pelaporan berbasis SITB yang terintegrasi.
Diharapkan kader kesehatan di posyandu mampu melakukan skrining terduga TBC sejak dini sesuai standar. Upaya ini krusial guna menekan risiko penularan di masyarakat secara efektif.
Aslinda berharap kontribusi kader dapat terlihat nyata dalam program penanggulangan TBC di Kabupaten Berau. Kader didorong untuk mampu melakukan pencatatan dan pelaporan langsung melalui aplikasi SITB.
Optimalisasi Teknologi dan Data Kasus TBC di Berau
Pentingnya edukasi kesehatan yang tepat juga ditekankan agar kader menjadi agen perubahan pola hidup sehat. Mereka juga diharapkan membantu mengurangi stigma negatif terhadap penderita TBC di lingkungan masyarakat.
Pemanfaatan teknologi informasi melalui aplikasi SITB menjadi kunci untuk penanggulangan TBC yang lebih efektif. Sistem ini memungkinkan pengumpulan data yang akurat dan pemantauan kasus yang lebih cepat.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), angka penemuan TBC di Kabupaten Berau pada tahun 2025 tercatat sebesar 47,5 persen. Angka ini tergolong rendah dibandingkan beberapa daerah lain di Kaltim.
Sebagai perbandingan, Kota Samarinda memiliki angka penemuan TBC sebesar 78,5 persen, Balikpapan 64,5 persen, Bontang 59,3 persen, Kutai Timur 50,4 persen, dan Kutai Barat 49,3 persen. Data ini menunjukkan urgensi upaya percepatan Eliminasi TBC Berau.
Sumber: AntaraNews