Wastra IKN: Kain Tradisional Nusantara Siap Jadi Identitas Ibu Kota Baru yang Modern dan Berbudaya

Otorita IKN menegaskan potensi besar wastra, kain tradisional Nusantara, untuk menjadi identitas kuat Ibu Kota Nusantara. Upaya pelestarian budaya ini selaras dengan pembangunan infrastruktur modern di IKN.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Wastra IKN: Kain Tradisional Nusantara Siap Jadi Identitas Ibu Kota Baru yang Modern dan Berbudaya
Otorita IKN menegaskan potensi besar wastra, kain tradisional Nusantara, untuk menjadi identitas kuat Ibu Kota Nusantara. Upaya pelestarian budaya ini selaras dengan pembangunan infrastruktur modern di IKN. (AntaraNews)

Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) menyatakan wastra, kain tradisional khas daerah, memiliki potensi besar menjadi bagian dari wajah atau identitas IKN, ibu kota masa depan Indonesia. Lokasinya berada di sebagian wilayah Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur. Pernyataan ini menunjukkan komitmen IKN untuk memadukan modernitas dengan kekayaan budaya lokal.

Direktur Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Otorita IKN, Muhsin Palinrungi, menekankan bahwa wastra dapat menjadi representasi visual dari identitas IKN. Wastra sendiri adalah istilah untuk tekstil tradisional Nusantara yang dibuat dengan keterampilan tangan dan peralatan tradisional. Ini mencakup teknik seperti ditenun, dibatik, atau diikat.

Upaya ini bukan hanya tentang pembangunan fisik, melainkan juga pelestarian budaya dan kreativitas masyarakat setempat. Otorita IKN bertekad menghadirkan identitas kota masa depan yang tidak hanya diwujudkan melalui infrastruktur modern. Sebaliknya, hal ini juga melalui penguatan produk budaya lokal.

Muhsin Palinrungi menegaskan bahwa "Wastra memiliki potensi besar untuk menjadi bagian dari wajah IKN". Inisiatif ini muncul saat ditanya mengenai perajin batik di Sepaku, Penajam Paser Utara. Hal ini menunjukkan fokus Otorita IKN pada pengembangan budaya lokal sebagai pilar identitas kota.

Wastra di sekitar IKN telah tumbuh dan berkembang, namun masih memerlukan penguatan signifikan. Tujuannya adalah agar produk yang dihasilkan memiliki daya saing tinggi. Dengan demikian, wastra mampu bersanding dengan batik yang sudah dikenal luas secara nasional maupun internasional.

Pengembangan motif batik tidak hanya berbicara mengenai estetika visual semata. Muhsin Palinrungi menjelaskan bahwa "bagaimana karya tersebut mampu membawa cerita dan identitas dari sebuah wilayah". Ini menekankan pentingnya narasi budaya di balik setiap motif wastra.

Otorita IKN dan Kepala Sekretariat Kerja Bersama (SKB) Bank Indonesia (BI) IKN, Aura Pandu Wirawan, berkolaborasi dalam upaya pengembangan wastra. Mereka bekerja sama dengan Tepa Selira, sebuah pelaku usaha dan pengembang batik. Kolaborasi ini bertujuan memberikan pelatihan dan pendampingan kepada perajin batik di wilayah delineasi ibu kota baru Indonesia.

Sebanyak sembilan kelompok batik dan wastra, dengan total 50 peserta, telah mengikuti pelatihan intensif. Dari jumlah tersebut, 30 perajin batik secara khusus mendapatkan pendampingan dalam pengembangan desain. Inisiatif ini mendorong karya wastra untuk terus berkembang mengikuti zaman.

Salah satu peserta dari Kecamatan Samboja, Rusmayawati, mengungkapkan bahwa kegiatan ini menjadi kesempatan berharga. Ia dapat melihat batik dari sudut pandang yang lebih luas dan mendapatkan inspirasi baru. Pelatihan dan pendampingan ini sangat membantu dalam mengembangkan karya para perajin.

Aura Pandu Wirawan menambahkan bahwa "Identitas IKN perlu hadir melalui berbagai karya masyarakat, termasuk produk kreatif". Seiring IKN semakin ramai, identitas ini perlu ditonjolkan melalui desain yang memiliki unsur modern. Desain tersebut juga harus membawa semangat transformasi dan digitalisasi.

Tujuannya adalah menghasilkan karya wastra yang sederhana namun anggun, serta tetap memiliki karakter kuat. Ini mencerminkan visi IKN sebagai kota masa depan yang memadukan kemajuan teknologi dengan kearifan lokal. Wastra diharapkan menjadi simbol perpaduan ini.

Dengan pendekatan ini, wastra tidak hanya berfungsi sebagai kain tradisional. Sebaliknya, wastra akan menjadi media ekspresi budaya yang dinamis dan relevan. Hal ini akan memperkaya citra IKN sebagai pusat peradaban baru Indonesia yang berakar pada budaya luhur.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi