Fakta Mengejutkan: Penemuan Kasus Tuberkulosis Sulbar Capai 57,3 Persen, Mamuju Unggul Jauh!
Capaian penemuan kasus Tuberkulosis Sulbar per 1 Oktober 2025 mencapai 57,3 persen, dengan Mamuju memimpin. Namun, masih ada tantangan besar untuk eliminasi TBC di wilayah ini.
Penemuan kasus Tuberkulosis (TBC) di Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) telah menunjukkan angka signifikan. Berdasarkan laporan dashboard Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) per 1 Oktober 2025, capaian penemuan kasus TBC di wilayah tersebut mencapai 57,3 persen. Angka ini menjadi indikator penting dalam upaya penanggulangan penyakit menular ini di tingkat provinsi.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulbar, dr. Nursyamsi Rahim, menyatakan bahwa Kabupaten Mamuju mencatat capaian tertinggi. Mamuju berhasil melampaui target provinsi dengan angka 88,1 persen, jauh di atas rata-rata Sulbar. Capaian ini menunjukkan komitmen kuat dari pemerintah daerah dalam mengidentifikasi dan menangani kasus TBC di wilayahnya.
Nursyamsi menambahkan, penemuan kasus TBC ini merupakan bagian integral dari langkah strategis Pemprov Sulbar. Tujuannya adalah mempercepat akselerasi pencapaian visi "Sulbar Maju dan Sejahtera" serta mendukung agenda Presiden Prabowo Subianto. Program ini juga selaras dengan fokus Kementerian Kesehatan untuk menurunkan kasus TBC sebesar 50 persen dalam lima tahun ke depan.
Akselerasi Program Eliminasi Tuberkulosis Sulbar
Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat secara aktif berupaya mempercepat eliminasi TBC di seluruh wilayahnya. Meskipun capaian penemuan kasus sudah mencapai 57,3 persen, dr. Nursyamsi Rahim mengingatkan pentingnya untuk tidak lengah. Masih banyak kabupaten lain yang memerlukan penguatan program agar eliminasi TBC dapat tercapai secara merata dan berkelanjutan.
Upaya ini sejalan dengan delapan Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) yang diusung oleh Presiden Prabowo Subianto. Kementerian Kesehatan telah menetapkan tiga fokus percepatan, salah satunya adalah menekan angka kasus TBC. Target ambisius untuk menurunkan kasus TBC sebesar 50 persen dalam lima tahun ke depan menjadi pendorong utama bagi setiap daerah, termasuk Sulbar.
Komitmen Dinas Kesehatan Provinsi Sulbar diwujudkan melalui penguatan keterlibatan seluruh fasilitas kesehatan. Baik fasilitas pemerintah maupun swasta, semuanya diintegrasikan melalui jejaring Public Private Mix (PPM). Jejaring ini dirancang untuk menghubungkan berbagai layanan dan pemangku kepentingan guna memperluas akses layanan TBC yang merata dan berpihak pada pasien.
Penguatan jejaring ini juga ditegaskan dalam Peraturan Gubernur Sulbar Nomor 4 tahun 2025 Pasal 23. Regulasi tersebut mengatur kewajiban semua fasilitas layanan kesehatan untuk terlibat dalam jejaring TBC. Selain itu, setiap fasilitas diwajibkan melaporkan setiap penemuan kasus TBC ke dalam Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) untuk pemantauan yang akurat.
Strategi Komprehensif Penanggulangan TBC di Sulawesi Barat
Berbagai strategi penemuan kasus aktif atau Active Case Finding (ACF) terus digalakkan di Sulawesi Barat. Langkah-langkah ini mencakup investigasi kontak TBC untuk mengidentifikasi individu yang berisiko tertular. Selain itu, skrining massal populasi berisiko tinggi juga dilakukan secara berkala untuk deteksi dini.
Integrasi antar-layanan kesehatan menjadi kunci dalam memastikan penanganan TBC yang holistik. Inovasi lokal juga turut berperan, seperti program "Sapurata" yang diterapkan di Kabupaten Pasangkayu. Program-program ini menunjukkan adaptasi dan kreativitas daerah dalam upaya penanggulangan TBC.
Nursyamsi menegaskan komitmen untuk menghadirkan layanan TBC yang lebih berkualitas dan memperluas akses. "Kami berkomitmen menghadirkan layanan TBC yang lebih berkualitas, memperluas akses dan memastikan pengobatan tuntas," ujarnya. Tujuannya adalah memastikan setiap pasien mendapatkan pengobatan yang lengkap hingga sembuh total.
Penanggulangan TBC bukan hanya tanggung jawab pemerintah semata, tetapi memerlukan sinergi dari berbagai pihak. Kerja sama antara swasta, organisasi masyarakat, dan seluruh lapisan masyarakat sangat krusial. "Setiap setetes darah, setiap upaya skrining dan setiap laporan kasus adalah langkah penting untuk menyelamatkan nyawa," kata Nursyamsi, menekankan pentingnya partisipasi kolektif untuk mewujudkan Sulbar sehat dan mendukung eliminasi TBC Indonesia 2030.
Sumber: AntaraNews