Waspadai Stroke! Ini Risiko, Gejala Awal, dan Langkah Penanganannya
Dr. Sendjaja Muljadi, seorang dokter spesialis neurologi dari RS EMC Sentul & Alam Sutera, menekankan pentingnya pemahaman masyarakat mengenai stroke.
Stroke tetap menjadi salah satu penyakit yang paling berbahaya di seluruh dunia dan merupakan penyebab utama dari kecacatan permanen pada orang dewasa. Penyakit ini dapat muncul secara tiba-tiba, menyerang otak, dan dapat berakibat fatal jika tidak segera ditangani.
Menurut dr. Sendjaja Muljadi, Sp.N, FICA, FRCP, FMIN, seorang Dokter Spesialis Neurologi di RS EMC Sentul & Alam Sutera, sangat penting bagi masyarakat untuk memahami apa yang dimaksud dengan stroke, mengenali gejalanya, serta mengetahui faktor-faktor risiko yang ada.
Apa itu stroke? Stroke adalah gangguan yang terjadi pada aliran darah di otak secara mendadak. Kondisi ini terbagi menjadi dua kategori:
- Stroke Non Hemoragik (Iskemik): yang disebabkan oleh sumbatan pada pembuluh darah otak.
- Stroke Hemoragik: yang terjadi akibat pecahnya pembuluh darah di otak.
Kedua jenis stroke ini merupakan kondisi medis yang sangat mendesak dan dapat berakibat fatal jika tidak ditangani dengan cepat.
Stroke non-hemoragik, yang juga dikenal sebagai stroke iskemik, terjadi ketika aliran darah ke otak terhambat
Stroke tipe ini disebabkan oleh iskemia serebral fokal, yaitu terjadinya penyumbatan aliran darah oleh gumpalan yang menghalangi pasokan oksigen dan nutrisi ke otak. Hal ini berpotensi menyebabkan kematian sel-sel otak dan kerusakan yang bersifat permanen. Beberapa faktor risiko yang dapat menyebabkan stroke non hemoragik meliputi:
- Hipertensi (tekanan darah tinggi)
- Diabetes melitus
- Gangguan jantung
- Kolesterol tinggi
- Gaya hidup yang tidak aktif
- Stres berkepanjangan
- Pola tidur dan makan yang tidak teratur
- Usia yang semakin lanjut
- Merokok
- Faktor risiko lain yang masih dalam penelitian oleh para ahli
Gejala dari stroke non hemoragik dapat muncul secara tiba-tiba dan mencakup:
- Vertigo disertai dengan kebas pada wajah atau mulut
- Bicara yang tidak jelas (pelo)
- Kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh
- Gangguan dalam berbicara (afasia)
- Penglihatan ganda
- Penurunan tingkat kesadaran
- Dan gejala lainnya
Untuk penanganan stroke non hemoragik: Segera bawa pasien ke rumah sakit yang memiliki fasilitas yang memadai. Pemeriksaan awal biasanya melibatkan MRI, MRA, atau CT Scan kepala. Jika pasien tiba dalam periode emas (3,5 jam pertama setelah serangan), terapi trombolitik dapat diberikan untuk menghancurkan gumpalan darah, dengan syarat memenuhi kriteria medis yang ketat.
Stroke hemoragik
Stroke hemoragik berbeda dari jenis stroke lainnya karena disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah di otak. Kondisi ini tergolong lebih berbahaya dan sering kali dipicu oleh tekanan darah tinggi yang tidak terkelola dengan baik. Beberapa faktor risiko yang dapat menyebabkan stroke hemoragik meliputi: hipertensi kronis, angiopati amiloid (penumpukan protein di dinding pembuluh darah otak), arteriovenous malformation (AVM) yang merupakan kelainan bawaan pada pembuluh darah, aneurisma yang adalah penggelembungan pembuluh darah, penggunaan obat pengencer darah atau NAPZA, serta kelainan darah lainnya. Selain itu, ada beberapa faktor lain yang juga dapat meningkatkan risiko terjadinya stroke hemoragik.
Gejala yang muncul akibat stroke hemoragik dapat bervariasi, tergantung pada lokasi dan volume perdarahan yang terjadi.
- Jika perdarahan terjadi dalam jumlah besar, pasien dapat mengalami sakit kepala yang sangat hebat, muntah, hingga penurunan kesadaran yang cepat.
- Sementara itu, jika perdarahan ringan, gejalanya akan mirip dengan yang terjadi pada stroke iskemik.
Penanganan untuk stroke hemoragik harus dilakukan dengan cepat:
- Pasien perlu segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan yang tepat.
- Pemeriksaan menggunakan MRI, MRA, atau CT Scan akan dilakukan untuk menentukan lokasi dan jumlah perdarahan yang terjadi.
- Apabila volume perdarahan mencapai 30 cc, biasanya tindakan operasi untuk mengangkat darah diperlukan dan dilakukan oleh dokter spesialis bedah saraf.
- Namun, jika volume perdarahan kurang dari 30 cc, pasien biasanya akan dirawat dengan metode konservatif.
Pencegahan lebih efektif dibandingkan pengobatan
Kenali dengan baik faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko stroke. Mengadopsi gaya hidup sehat dan melakukan deteksi dini terhadap faktor-faktor risiko sangatlah penting, karena lebih baik mencegah daripada mengobati," ungkap dr. Sendjaja. Untuk mencegah stroke, penting untuk menjaga tekanan darah, mengelola stres, berolahraga secara teratur, berhenti merokok, serta memperhatikan pola makan. Semua langkah ini merupakan bagian dari upaya pencegahan yang harus dilakukan.
Artikel ini ditulis oleh dr. Sendjaja Muljadi, Sp.N, FICA, FRCP, FMIN -- Dokter Spesialis Neurologi di RS EMC Sentul & Alam Sutera.