Hati-hati Penyakit Parkinson, Kenali Gejala dan Penyebabnya
Hati-hati terhadap penyakit Parkinson, yang merupakan gangguan neurodegeneratif dan umumnya terjadi pada orang berusia di atas 60 tahun.
Penyakit Parkinson adalah jenis penyakit neurodegeneratif yang umumnya terjadi pada orang tua, terutama mereka yang berusia di atas 60 tahun. Meskipun demikian, penyakit ini juga dapat menyerang orang yang lebih muda, terutama jika terdapat faktor genetik atau paparan terhadap lingkungan tertentu, seperti zat beracun atau cedera pada otak.
Menurut Dr. Gloria Tanjung, Sp.N, seorang dokter spesialis neurologi yang berpraktik di RS EMC Alam Sutera dan RS EMC Sentul, penyakit Parkinson disebabkan oleh kerusakan pada sel-sel saraf yang memproduksi dopamin di otak. Dopamin adalah zat kimia yang sangat penting dalam mengirimkan sinyal yang diperlukan untuk mengoordinasikan gerakan tubuh.
Gejala penyakit Parkinson meliputi berbagai tanda dan gangguan
Penyakit Parkinson dikenal sebagai kondisi yang ditandai oleh gejala motorik yang khas, seperti tremor saat istirahat, kekakuan otot, bradikinesia (gerakan yang melambat), serta gangguan keseimbangan dan perubahan postur. Menurut dr. Gloria Tanjung, wajah penderita Parkinson biasanya tampak kurang ekspresif, yang dikenal sebagai hipomimia, serta terdapat penurunan dalam volume suara dan intonasi.
Dr. Gloria Tanjung menjelaskan bahwa kekakuan otot, terutama pada area batang tubuh, dapat menyebabkan postur tubuh penderita menjadi bungkuk. Selain itu, saat berjalan, gerakan ayunan tangan mereka cenderung berkurang dan langkah yang diambil menjadi lebih pendek.
"Gejala yang mempengaruhi gerakan ini tidak hanya terbatas pada aspek motorik, tetapi pasien Parkinson juga dapat mengalami masalah non-motorik, yang bisa muncul lebih awal sebelum gejala motorik terlihat atau bahkan pada tahap lanjut," tambahnya.
Untuk memperoleh penanganan yang tepat, dr. Gloria Tanjung mengajak masyarakat untuk memahami lebih dalam mengenai gejala awal Parkinson, termasuk gejala non-motoriknya. Gejala Non-Motorik Awal:
- Penurunan kemampuan penciuman (hiposmia)
- Gangguan tidur, seperti mengigau atau berperilaku aktif saat tidur
- Masalah pencernaan, termasuk konstipasi
- Depresi dan kecemasan.
Gejala Non-Motorik Tahap Lanjut: Gejala non-motorik ini dapat muncul pada tahap yang lebih lanjut dan sangat mengganggu, sehingga mempengaruhi kualitas hidup penderita.
- Rasa nyeri
- Gangguan kognitif
- Kelemahan
- Halusinasi
- Kesulitan berkemih
- Masalah seksual
- Gangguan otonom, seperti penurunan tekanan darah saat berpindah posisi.
Dr. Gloria Tanjung menyatakan bahwa penyebab pasti dari Parkinson belum sepenuhnya dipahami. Diduga, kombinasi faktor genetik, paparan racun seperti pestisida, dan proses penuaan sel saraf adalah pemicu utama penyakit ini. "Walaupun penyakit ini tidak menular dan tidak langsung mengancam jiwa, sifat progresifnya membuat gejala akan semakin memburuk seiring berjalannya waktu," jelasnya.
Dr. Gloria Tanjung
Dr. Gloria Tanjung menjelaskan bahwa diagnosis Parkinson tidak dapat dilakukan hanya dengan tes darah atau pencitraan tunggal. Untuk mendiagnosis penyakit ini, dokter spesialis saraf atau neurologis akan melakukan beberapa langkah, sebagai berikut:
1. Evaluasi riwayat medis dan gejala Dalam tahap ini, dokter akan memeriksa riwayat kesehatan pasien dan keluarganya, serta mengamati gejala yang muncul, baik yang berkaitan dengan gerakan maupun yang tidak.
2. Pemeriksaan fisik dan pemeriksaan fungsi saraf Pada tahap ini, pasien akan menjalani serangkaian tes gerakan, seperti membuka dan menutup tangan, berjalan, serta menjaga keseimbangan. Selain itu, dokter juga akan memeriksa respons otot terhadap gerakan pasif untuk menilai kekakuan. Dokter akan mengevaluasi postur dan cara berjalan pasien.
3. Pemindaian dan Tes Penunjang Meskipun diagnosis penyakit Parkinson umumnya dapat ditegakkan melalui wawancara medis dan pemeriksaan fisik, dalam beberapa kasus, pemeriksaan tambahan diperlukan. Ini termasuk pemindaian otak menggunakan MRI atau DaTscan, yang bertujuan untuk melihat kadar dopamin di otak. Langkah ini penting untuk memastikan diagnosis dan mengesampingkan penyakit lain yang memiliki gejala serupa dengan Parkinson.
Diagnosis Parkinson
Walaupun diagnosis Parkinson bisa terasa menakutkan, ada beberapa langkah proaktif yang dapat membantu pasien untuk tetap mandiri dan menjaga kualitas hidup mereka. Pertama, penting untuk segera merencanakan penanganan medis. Menurut dr. Gloria Tanjung, pasien dan keluarganya sebaiknya berkonsultasi dengan neurologis untuk menyusun rencana pengobatan yang sesuai dengan stadium penyakit.
"Obat-obatan seperti levodopa atau agonis dopamin dapat diberikan untuk menggantikan dopamin yang kurang. Jenis dan frekuensi pemberian obat sangat tergantung pada usia pasien serta tingkat keparahan penyakit," jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa pada tingkat penyakit yang lebih lanjut, terapi yang lebih kompleks seperti injeksi obat melalui kulit, patch dopamin agonis, atau bahkan penggunaan pompa obat dapat dipertimbangkan.
"Dalam beberapa kasus, prosedur pembedahan untuk menanam implan di area otak tertentu melalui DBS (Deep Brain Stimulation) juga bisa jadi pilihan," tambahnya.
Kedua, terapi pendukung untuk mempertahankan kemampuan fisik sangatlah penting. Ada beberapa jenis terapi yang dapat dilakukan untuk menjaga kemampuan fisik pasien. Misalnya, fisioterapi yang melibatkan latihan peregangan dapat membantu mencegah kekakuan otot dan menjaga postur tubuh tetap baik. Selain itu, terapi wicara yang fokus pada latihan vokal dan stimulasi area mulut serta tenggorokan dapat memperbaiki fungsi suara dan menelan. Terapi okupasi juga bermanfaat untuk belajar menggunakan alat bantu atau memodifikasi lingkungan rumah agar aktivitas sehari-hari menjadi lebih aman.
Selanjutnya, adaptasi pola hidup juga perlu dilakukan. Nutrisi yang seimbang sangat penting, seperti mengonsumsi makanan tinggi serat untuk mencegah sembelit serta makanan yang kaya antioksidan, seperti buah beri dan sayuran hijau. Pasien juga disarankan untuk menghindari konsumsi protein berlebihan bersamaan dengan levodopa karena dapat mengganggu efektivitas obat. Selain itu,
- aktivitas fisik rutin seperti berjalan kaki atau berenang selama 30 menit sehari, serta latihan otot leher, dada, dan paha, sangat dianjurkan untuk menjaga kelenturan dan postur tubuh yang baik.
- Istirahat yang cukup juga penting, mengingat gangguan tidur sering kali dialami oleh pasien Parkinson. Jika mengalami insomnia atau mimpi buruk yang berulang, sebaiknya konsultasikan kepada dokter.
Keempat, dukungan mental dan sosial tidak kalah penting. dr. Gloria Tanjung mengungkapkan bahwa masalah stres dan depresi sering kali menyertai diagnosis Parkinson. Oleh karena itu, ia menyarankan pasien untuk bergabung dengan komunitas support group agar bisa berbagi pengalaman dengan sesama pasien.
"Teknik relaksasi seperti meditasi atau terapi musik juga dapat membantu menjaga kesehatan mental. Jangan ragu untuk meminta bantuan dari keluarga atau profesional jika merasa terbebani secara emosional," jelasnya.
Terakhir, pantau perkembangan dan komplikasi Parkinson dengan melakukan pemeriksaan berkala ke dokter untuk menyesuaikan dosis obat dan mendeteksi masalah kesehatan lainnya secara dini. dr. Gloria Tanjung menjelaskan bahwa RS EMC Alam Sutera, sebagai rumah sakit dengan layanan neurologi terpadu, memiliki tim multidisiplin yang siap membantu pasien Parkinson dari diagnosis hingga tata laksana. "Kami juga menyelenggarakan program edukasi untuk keluarga pasien terkait cara konsumsi obat, nutrisi yang diperlukan, serta program latihan di rumah. Dengan pendekatan personal, kami berkomitmen untuk memberikan pelayanan holistik agar pasien tetap bisa menjalani hidup yang aktif dan bermakna," tuturnya.
Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Neurologi/Saraf, dr. Gloria Tanjung, Sp.N yang praktik di RS EMC Alam Sutera dan RS EMC Sentul. Anda juga dapat membuat janji dengan dokter di Rumah Sakit EMC dengan lebih mudah melalui website www.emc.id, aplikasi mobile EMCare (tersedia di App Store & Play Store), WhatsApp di nomor 0881-080-779977, atau melalui telepon di 150 789.