Ekonom Soroti Tantangan Ekonomi RI di Tengah Pelemahan Rupiah dan Tekanan Sektor Riil
Noorsy menilai kondisi ekonomi saat ini berbeda dengan krisis moneter 1998.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada perdagangan Kamis (28/5/2026). Berdasarkan data Bloomberg di pasar spot, rupiah sempat bergerak di kisaran Rp17.856 hingga Rp17.860 per dolar AS, melanjutkan tekanan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Akademisi ekonomi politik Ichsanuddin Noorsy menilai perekonomian Indonesia saat ini menghadapi sejumlah tantangan yang perlu diantisipasi secara serius, terutama di tengah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dan tekanan pada sektor riil.
Dalam perbincangan bersama Eddy Wijaya di podcast EdShareOn yang tayang pada Rabu (27/5), Noorsy menyebut nilai tukar rupiah yang mencapai Rp17.812 per dolar AS menjadi indikator penting kondisi ekonomi nasional.
"Indonesia sudah dalam posisi transisi dari lampu kuning ke lampu merah. Ini sebenarnya sudah saya prediksi sejak 2024, bahwa nilai tukar rupiah akan sampai pada ambang batas psikologis Rp17.500-18.000," ujarnya dikutip merdeka.com.
Meski demikian, Noorsy menilai kondisi ekonomi saat ini berbeda dengan krisis moneter 1998. Menurut dia, pada periode tersebut terjadi krisis kepercayaan publik, ekonomi, dan politik secara bersamaan, ditambah lemahnya pengawasan sektor perbankan.
"Pada 1998, ada ketidakpercayaan publik (public distrust), yang berujung pada ketidakpercayaan ekonomi dan ketidakpercayaan politik," katanya.
Ia menjelaskan, tekanan ekonomi saat ini terlihat dari menurunnya cadangan devisa selama empat bulan berturut-turut sejak Januari, serta kebijakan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia menjadi 5,25 persen pada Mei 2026 guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Menurut Noorsy, pelemahan rupiah juga mulai berdampak pada sektor riil, terutama akibat kenaikan biaya impor bahan baku, energi, dan pangan yang berpotensi memengaruhi daya beli masyarakat serta pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM).
Ia menyoroti data Purchasing Managers’ Index (PMI) Indonesia yang turun dari 50,1 menjadi 49,1 pada pertengahan Mei 2026.
"Artinya, roda mesin produksi kita perlahan-lahan berhenti," ujarnya.
Selain itu, Noorsy juga mencatat tingginya angka undisbursed loan atau kredit yang belum dicairkan oleh perbankan, yang mencapai Rp2.527,46 triliun. Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan dunia usaha masih menahan ekspansi akibat ketidakpastian ekonomi.
"Pengusaha sudah mendapat fasilitas kredit tetapi belum menggunakannya karena ketidakpastian kondisi ekonomi," katanya.
Noorsy menambahkan, sektor UMKM menjadi salah satu yang paling terdampak tekanan ekonomi saat ini. Hal itu tercermin dari rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) UMKM yang mencapai 4,61 persen, lebih tinggi dibanding NPL korporasi sebesar 1,6 persen.
"Makanya saya bilang, dibandingkan fiskal dan moneter, sektor riil yang terpukul," ujar dia.
5 Pendekatan Strategis
Dalam kesempatan tersebut, Noorsy juga menyampaikan lima pendekatan strategis yang dinilainya dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional di tengah tekanan global dan domestik.
Pendekatan pertama adalah pembangunan berbasis sumber daya (resource-based approach), disusul penguatan produktivitas nasional melalui reindustrialisasi sektor-sektor strategis.
"Ini kata kuncinya adalah, kita harus melakukan reindustrialisasi pada sektor yang menyangkut hajat hidup orang banyak," kata dia.
Penguatan UMKM
Pendekatan lainnya meliputi penguatan kelembagaan UMKM, pemisahan struktur pasar antara sektor komersial dan layanan publik, serta perbaikan tata kelola pemerintahan yang bersih dan transparan.
"Tata kelolanya jangan bocor-bocor. Pemerintahan harus dikelola dengan jujur dan bebas dari korupsi," ujar Noorsy.