Pakar Ekonomi Dorong Strategi Non-Moneter Kuatkan Stabilitas Rupiah di Tengah Tekanan Global dan Domestik
Di tengah gempuran tekanan global dan domestik, pakar ekonomi mendorong penguatan Strategi Non-Moneter Rupiah untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Mengapa ini krusial?
Guru Besar Ekonomi Universitas Airlangga (Unair) Rahma Gafmi mendorong otoritas untuk memperkuat Strategi Non-Moneter Rupiah guna membantu menopang stabilitas nilai tukar mata uang nasional. Desakan ini muncul di tengah tekanan yang membuat rupiah mendekati level Rp17.000 per dolar AS. Rahma menegaskan bahwa nasib rupiah sangat bergantung pada kebijakan pemerintah secara keseluruhan, bukan hanya Bank Indonesia (BI) semata.
Pelemahan rupiah yang terjadi saat ini, menurut Rahma, merupakan kombinasi kompleks dari faktor eksternal dan domestik. Ia menekankan bahwa permasalahan ini tidak bisa disederhanakan hanya sebagai isu moneter. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan komprehensif yang melibatkan berbagai instrumen kebijakan untuk mengatasi tantangan tersebut dan mengembalikan kepercayaan pasar.
Rahma juga mengingatkan bahwa tekanan nilai tukar yang berlangsung lama berpotensi memperberat pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Kondisi ini semakin krusial mengingat ruang fiskal Indonesia yang semakin terbatas. Dengan demikian, penguatan Strategi Non-Moneter Rupiah menjadi sangat penting untuk menjaga ketahanan ekonomi nasional dalam jangka panjang.
Analisis Tekanan Rupiah: Faktor Eksternal dan Domestik
Dari sisi global, tekanan terhadap rupiah berasal dari beberapa isu utama yang menciptakan ketidakpastian di pasar keuangan internasional. Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China terus memberikan dampak negatif pada perdagangan global dan investasi. Selain itu, perubahan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) di AS juga memicu arus modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia.
Meningkatnya ketegangan geopolitik di berbagai belahan dunia turut memperkeruh situasi, menambah sentimen negatif yang memengaruhi nilai tukar mata uang. Faktor-faktor eksternal ini secara kolektif menciptakan lingkungan yang menantang bagi stabilitas rupiah. Kondisi ini memerlukan respons yang terkoordinasi dari berbagai pihak untuk memitigasi risiko.
Sementara itu, dari sisi domestik, tantangan utama terletak pada aspek fiskal. Defisit anggaran yang melebar serta meningkatnya beban fiskal dinilai memengaruhi persepsi pelaku pasar terhadap ketahanan ekonomi nasional. Keterbatasan fundamental ekonomi Indonesia, terutama akibat tekanan fiskal yang meningkat, menjadi perhatian serius.
Rahma menilai bahwa nilai tukar dolar AS terhadap rupiah telah bergerak menuju keseimbangan baru, sehingga kecil kemungkinan terjadi pembalikan kembali ke level Rp15.000 per dolar AS. Jika terjadi penguatan rupiah dalam jangka menengah, penguatan tersebut diperkirakan hanya bertahan hingga kisaran Rp16.500 per dolar AS. Ini menunjukkan perlunya Strategi Non-Moneter Rupiah yang lebih kuat.
Urgensi Strategi Non-Moneter untuk Kepercayaan Pasar
Dalam konteks tekanan yang ada, pemerintah perlu memperkuat Strategi Non-Moneter Rupiah untuk membangun kembali kepercayaan pasar. Upaya ini bukan hanya tanggung jawab Bank Indonesia, tetapi juga melibatkan peran aktif dari pemerintah. Diplomasi ekonomi dan perdagangan menjadi salah satu instrumen penting untuk memperbaiki persepsi terhadap prospek ekonomi nasional.
Rahma mencontohkan pentingnya diplomasi ekonomi melalui pertemuan tingkat tinggi. "Jika dalam pertemuan WEF ini Presiden Prabowo bisa meyakinkan Presiden Trump, karena ini momentum. Presiden Prabowo kalau bisa melobi Presiden Trump untuk keringanan tarif dengan meyakinkan Trump bahwa barang-barang ekspor kita ke AS tidak merusak ekonomi Amerika,” kata Rahma. Ini menunjukkan bagaimana pendekatan non-moneter dapat berdampak langsung pada stabilitas rupiah.
Langkah-langkah non-moneter ini mencakup berbagai kebijakan yang tidak secara langsung berkaitan dengan suku bunga atau intervensi pasar uang. Sebaliknya, fokusnya adalah pada peningkatan daya saing ekonomi, perbaikan iklim investasi, dan penguatan hubungan dagang internasional. Strategi Non-Moneter Rupiah ini bertujuan untuk menciptakan fondasi ekonomi yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Intervensi Bank Sentral dan Pergeseran Pola Investor
Meskipun demikian, Rahma menilai langkah intervensi yang dilakukan bank sentral Indonesia di pasar offshore NDF, DNDF, dan pasar spot sudah tepat. Intervensi tersebut bertujuan meredam tekanan spekulatif, terutama yang berasal dari pasar offshore. Namun, ia mengingatkan bahwa kondisi pelemahan rupiah kali ini berbeda dibandingkan periode sebelumnya.
Pada periode terdahulu, pelemahan rupiah yang cukup signifikan biasanya diikuti oleh pelaku pasar yang berani mengambil posisi short dolar AS terhadap rupiah. Selain itu, pelemahan rupiah kerap diikuti aliran dana masuk karena investor luar negeri melihat aset Indonesia berada pada level yang menarik. Pola ini menunjukkan adanya kepercayaan investor pada potensi pembalikan nilai rupiah.
Namun, Rahma mencatat bahwa pola tersebut tidak terjadi pada kondisi saat ini. Meskipun dolar AS cenderung melemah terhadap sejumlah mata uang global, tingkat kepercayaan investor terhadap rupiah justru lebih terbatas. Hal ini mengindikasikan bahwa Strategi Non-Moneter Rupiah menjadi semakin krusial untuk menarik kembali minat investor dan memperkuat fundamental ekonomi.
Sumber: AntaraNews