Kuwait Respons Ancaman Serangan Udara dari Musuh
Kuwait mengaktifkan sistem pertahanan udara untuk menghadapi ancaman rudal dan drone di tengah meningkatnya ketegangan kawasan Timur Tengah.
Angkatan Bersenjata Kuwait mengumumkan sistem pertahanan udara negara itu tengah merespons ancaman rudal dan drone pada Kamis pagi waktu setempat.
Langkah tersebut dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan kawasan Timur Tengah serta situasi gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang dinilai masih rapuh.
"Setiap ledakan yang mungkin terdengar adalah hasil dari sistem pertahanan udara yang mencegat target musuh," kata militer Kuwait dikutip Antara, Kamis (28/5/2026).
Pihak militer juga meminta masyarakat mengikuti seluruh instruksi keselamatan dan keamanan yang dikeluarkan otoritas setempat.
Ketegangan Kawasan Terus Meningkat
Situasi di Timur Tengah kembali memanas setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada Februari lalu.
Sebagai balasan, Teheran melakukan serangan terhadap Israel dan sekutu Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Iran juga sempat menutup Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan dan distribusi energi dunia.
Kondisi tersebut memicu peningkatan kewaspadaan militer di sejumlah negara kawasan, termasuk Kuwait.
Gencatan Senjata Dinilai Masih Rapuh
Gencatan senjata antara pihak-pihak yang bertikai sebelumnya dimediasi Pakistan dan mulai berlaku pada 8 April 2026.
Kesepakatan tersebut kemudian diperpanjang tanpa batas waktu oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Meski demikian, situasi keamanan di kawasan masih belum stabil seiring munculnya ancaman serangan rudal dan drone yang terus terjadi dalam beberapa waktu terakhir.