Ini Penyebab Hewan Kurban Ukuran Kecil Laris Manis di Idul Adha 2026
Warga berusaha mencari solusi agar tetap dapat berkontribusi dalam hewan kurban saat Idul Adha 2026.
Kurban merupakan tradisi tahunan yang dijalani oleh sebagian umat Muslim saat perayaan Idul Adha. Namun, kondisi ekonomi yang tidak stabil mempengaruhi keputusan masyarakat dalam memilih ukuran hewan kurban yang akan dibeli.
Hal ini diungkapkan oleh Febian, yang mengubah pilihan hewan kurbannya dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Pria yang rutin melaksanakan ibadah kurban ini kini lebih mempertimbangkan situasi ekonomi di tahun 2026.
"Kalau minat, tentu sangat berkeinginan selalu ya, tapi terkadang berbenturan dengan kondisi pendapatan, terutama di tahun ini cukup terasa ya, pendapatan menurun tajam, biaya pengeluaran meningkat signifikan," ungkap Febian saat berbincang dikutip Liputan6.com, Kamis (28/5/2026).
Kondisi ini membuat Febian berpikir dua kali untuk tidak berkurban pada Idul Adha 2026. Meskipun demikian, ia tetap berusaha untuk berkurban meskipun ada perubahan dalam pilihan hewan kurbannya.
Tahun ini, Febian lebih memilih hewan kurban yang lebih kecil dengan harga yang lebih terjangkau. Selain itu, ia juga melakukan urunan dana bersama kerabatnya untuk membeli satu ekor sapi dengan berat sekitar 200 kilogram (kg).
"Satu (sapi), tapi versi termurah, karena efisiensi kalau versi pemerintah mah," ucap dia.
Harga satu ekor sapi yang dibelinya berkisar antara Rp 19 juta hingga Rp 21 juta. Dengan urunan dana dari enam orang lainnya, ia hanya perlu membayar sekitar Rp 2,7 juta hingga Rp 3 juta untuk ikut berkurban. Dalam Islam, satu ekor sapi dapat dibagikan untuk tujuh orang.
Berbeda dengan Febian, Rima, seorang ibu rumah tangga dengan satu anak, memilih untuk tidak berkurban tahun ini. Alasan ekonomi menjadi faktor utama dalam keputusannya.
"Tahun ini ada bayaran sekolah anak, kemudian kebutuhan lainnya juga, jadi sepertinya tahun ini enggak dulu kurban," ucapnya.
Rima mengaku bahwa tahun lalu ia telah berkurban domba yang cukup besar, yang dipeliharanya selama sekitar satu tahun.
"Tahun ini enggak kurban karena domba yang punya saya belum cukup umur juga, dan belum masuk budget beli yang baru," tuturnya.
Menteri Keuangan Purbaya menyumbangkan seekor sapi Swiss
Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa telah menyerahkan dua ekor sapi untuk merayakan Idul Adha 1447 Hijriah. Salah satu sapi tersebut diserahkan untuk dipotong di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan, Jakarta, pada Rabu (27/5/2026).
Purbaya menjelaskan bahwa sapi yang diserahkan ke DJP adalah jenis sapi simmental, yang merupakan ras sapi potong asal Swiss. Sapi ini diperkirakan memiliki berat sekitar 890 kilogram.
"Sapinya (beratnya) 890 kiloan kira-kira, jenisnya sapi simmental, jenis sapi potong," kata Purbaya.
Selain sapi yang diserahkan di DJP, Purbaya juga memberikan seekor sapi kurban lainnya di sekitar kediamannya di Ciganjur, Jakarta Selatan. Ia bahkan menyebutkan bahwa sapi kedua kemungkinan memiliki ukuran yang lebih besar.
"Kayaknya (berat sapinya) lebih gede daripada ini," ujarnya. Dengan demikian, perayaan Idul Adha tahun ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar, terutama dalam berbagi daging kurban kepada yang membutuhkan.
Gunakan Dana Pribadi
Walaupun demikian, Purbaya tidak mau menyebutkan berapa jumlah uang yang dikeluarkan untuk membeli kedua sapi kurban itu. Ia menegaskan bahwa pembelian hewan kurban tersebut sepenuhnya dibiayai dengan dana pribadinya, bukan berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
"Pakai dana pribadi lah, yang rumah juga dana pribadi," tegas Purbaya.
Hal ini menunjukkan komitmennya untuk menggunakan sumber daya pribadi dalam kegiatan yang bersifat sosial ini.
Purbaya menekankan pentingnya transparansi dalam penggunaan dana, terutama ketika berkaitan dengan kegiatan yang melibatkan masyarakat.
Dengan menggunakan dana pribadi, ia berharap dapat memberikan contoh yang baik bagi orang lain dalam berkontribusi kepada masyarakat tanpa mengandalkan anggaran negara.
Sikap ini juga mencerminkan tanggung jawab sosial yang tinggi, di mana ia berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi sesama.