Iduladha menjadi momen penting dalam kalender umat Muslim, tidak hanya sebagai hari raya keagamaan, tetapi juga sebagai masa panen bagi para peternak dan pedagang hewan kurban di berbagai daerah. Sapi, kambing, dan domba menjadi komoditas utama yang laris diburu menjelang hari raya. Namun, di balik riuhnya pasar kurban dan ramainya transaksi jual beli hewan, ada satu pertanyaan yang kerap mengemuka setelah gema takbir Iduladha mereda: ke mana perginya hewan kurban yang tidak terjual?
Tidak semua pedagang bisa menikmati habisnya stok hewan kurban seperti yang dialami Afi, peternak asal Temanggung. Dalam wawancara beberapa waktu lalu, ia mengaku bahwa tahun ini seluruh sapi kurban yang disiapkan, sekitar 100 ekor, telah terjual. “Tahun ini Alhamdulillah habis semua. Biasanya masih sisa 10 sampai 15 ekor,” ujarnya.
Namun kondisi ini tidak merata. Di sejumlah daerah lain, seperti kawasan pinggiran di Jawa Tengah—antara lain Klaten, Grobogan, dan Purbalingga—sejumlah pedagang mengaku masih harus menghadapi realita pahit: hewan kurban yang tidak laku. Ketika momentum puncak Iduladha telah lewat, harga turun drastis, dan permintaan seketika menguap.
Advertisement
Pedagang hewan kurban biasanya mulai menyetok kambing dan sapi tiga hingga empat bulan sebelum Iduladha. Saat hari H semakin dekat, khususnya H-7 hingga H-1, permintaan meningkat tajam. Namun, setelah lewat H+1, gelombang pembeli menurun drastis, membuat sebagian pedagang harus berpikir cepat untuk menyelamatkan stok yang tersisa.
“Kalau masih sisa sapi setelah Iduladha, biasanya kami jual ke rumah makan atau pasar tradisional. Ada juga yang kami pelihara lagi buat tahun depan,” ujar Afi. Menurutnya, sapi yang tidak laku bisa dipelihara ulang, namun tidak semuanya cocok untuk dijadikan indukan. “Kalau jantan, biasanya kami potong sendiri, atau dijual ke warung sate dan restoran,” imbuhnya.
Beberapa pedagang juga menyumbangkan hewan tak terjual ke masjid atau panti asuhan, terutama jika kondisi fisik kambing atau sapi sudah menurun. “Daripada rugi dua kali, lebih baik disedekahkan sekalian jadi ladang amal,” tutur Slamet, pedagang kambing di Temanggung.
Namun, tidak semua bisa diselamatkan. Harga hewan kurban bisa anjlok hingga 25 persen setelah Iduladha. “Kalau kambing biasanya turun 10 sampai 15 persen, sapi bisa lebih parah. Apalagi kalau stok masih banyak,” ungkap Slamet.
Advertisement
Strategi penyetokan juga menjadi faktor penting dalam menakar risiko. Afi, yang dikenal teliti dalam perencanaan usahanya, mengungkapkan bahwa sapi-sapi di peternakannya berasal dari dua sumber: produksi sendiri dan pembelian dari luar. “Sekitar 60 persen dari peternakan sendiri, sisanya kami datangkan dari Gunungkidul, Temanggung, dan Purworejo,” ujarnya. Pemilihan daerah pemasok didasarkan pada kualitas hewan, ketersediaan pasokan, dan harga yang bersaing.
“Kami punya beberapa jenis sapi: Sapi PO (Peranakan Ongole) yang paling umum, lalu ada Sapi Limosin dan Sapi Simental buat yang cari ukuran besar, karena dagingnya padat,” jelas Afi. Keberagaman ini menjadi strategi untuk menjangkau pasar yang lebih luas dan beragam.
Proses pembelian dari luar dilakukan baik melalui agen perantara maupun langsung ke peternak. Namun begitu, tak semua hewan langsung bisa dijual. “Biasanya kami karantina dulu selama seminggu untuk memastikan kondisi kesehatannya. Dokter hewan rutin datang untuk cek,” imbuhnya.
Kesehatan hewan menjadi perhatian utama. Sebab, kambing dan sapi yang dijual untuk kurban harus memenuhi syarat syar’i dan fisik. “Kambing yang cacat, terlalu kurus, atau tidak cukup umur, tidak layak untuk kurban,” tegasnya.
Advertisement
Meski musim Iduladha kerap membawa keuntungan, para pelaku usaha juga menghadapi tantangan berat. Kenaikan harga pakan, ancaman penyakit seperti PMK (Penyakit Mulut dan Kuku), dan ketatnya persaingan, termasuk dari platform online, membuat margin keuntungan semakin tergerus.
“Tahun ini harga sapi naik 10 persen dibandingkan tahun lalu, karena pakan dan transportasi juga mahal,” ujar Afi. Meski demikian, ia tetap optimistis. “Yang penting pintar hitung stok dan jangan serakah,” tambahnya.
Sementara itu, Slamet mencatat bahwa penjualan kambing kurban di wilayahnya cenderung stagnan dalam tiga tahun terakhir. “Kalau dulu bisa habis 200 ekor, sekarang mentok di 150. Tapi ya disyukuri saja,” ucapnya.
Harapan mereka pun seragam: perhatian lebih dari pemerintah. “Kami butuh subsidi pakan, pelatihan, dan pemeriksaan hewan rutin. Jangan cuma fokus ke peternakan skala besar,” ujar Slamet.
Mereka juga berharap masyarakat semakin cerdas dalam memilih hewan kurban. “Jangan cuma lihat harga. Pastikan hewan sehat, cukup umur, dan tidak cacat. Konsultasikan ke penjual atau dokter hewan kalau perlu,” imbuh Afi.
Advertisement
Iduladha bukan sekadar hari raya, tapi juga ladang rezeki yang penuh tantangan bagi para peternak dan pedagang hewan kurban. Di balik tawa pelanggan yang puas membeli sapi atau kambing untuk ibadah, ada strategi, kerja keras, dan kalkulasi matang yang dijalankan di balik layar.
Meski tak semua hewan laku terjual, tak berarti usaha mereka sia-sia. Setiap hewan yang tersisa tetap memiliki jalan lain—dipelihara kembali, dijual di pasar umum, dipotong untuk konsumsi, atau bahkan disumbangkan. Yang pasti, bagi mereka yang menekuni usaha ini dengan sungguh-sungguh, Iduladha adalah cermin semangat, ketahanan, dan keikhlasan.