Tas 'Bright Gas' Pertamina Viral, Curhat Produsen Terpaksa Tambah Jam Kerja

Tingginya antusiasme pasar terhadap produk tersebut membuat pesanan melonjak hingga mendorong penambahan kuota produksi sekitar 10 persen dari perencanaan awal.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra - Reporter
Tas 'Bright Gas' Pertamina Viral, Curhat Produsen Terpaksa Tambah Jam Kerja
Produsen Tas Viral (Istimewa)

Lonjakan permintaan terhadap produk kolaborasi di ajang Jakarta Fair 2026 membuat produsen mitra binaan PT Pertamina (Persero) kewalahan. Guna memenuhi pesanan yang membeludak, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terpaksa menambah sif atau jam kerja hingga melibatkan puluhan warga sekitar sebagai tenaga kerja musiman.

Salah satu produk yang mencuri perhatian pengunjung dan memicu kewalahan ini adalah 'Tas Karakter Eksklusif' berbentuk tabung Bright Gas 5 kg warna fuchsia. Produk kolaborasi tersebut tidak hanya menjadi ikon baru yang viral di media sosial, tetapi juga diburu konsumen hingga memicu fenomena jasa titip atau jastip selama gelaran Jakarta Fair 2026.

Tas karakter Bright Gas diproduksi oleh PT Glory Nine Degrees, UMKM lokal asal Kota Bandung yang merupakan mitra binaan Small Medium Enterprise & Partnership Program (SMEPP) PT Pertamina (Persero) dan Pertamina Foundation.

Tingginya antusiasme pasar terhadap produk tersebut membuat pesanan melonjak hingga mendorong penambahan kuota produksi sekitar 10 persen dari perencanaan awal.

Founder PT Glory Nine Degrees, Sandiani, mengungkapkan proyek kolaborasi bersama Pertamina memberikan dampak besar terhadap aktivitas produksi dan penyerapan tenaga kerja di sekitar workshop mereka. Untuk menjaga ketersediaan stok akibat tingginya permintaan, operasional produksi ditingkatkan menjadi 18 jam sehari yang dibagi ke dalam dua shift kerja.

"Proyek ini membuat para tetangga sekitar workshop yang tadinya kurang produktif kini bisa memiliki penghasilan. Bahkan, anak-anak usia SMA yang sedang libur sekolah kami libatkan di bagian finishing dan packaging," kata Sandiani dikutip dari Antara, Kamis (9/7).

Tidak hanya mendorong pertumbuhan produksi tas, viralnya paket Bright Store by Pertamina juga membuka peluang bagi UMKM lain yang terlibat dalam rantai pasok. Salah satunya Susnukuma, produsen kue sus kering eksklusif asal Kota Bandung yang produknya terpilih menjadi salah satu isian camilan lokal unggulan di dalam paket tas Bright Gas tersebut.

Owner Susnukuma, Aniasuti, mengatakan pesanan dalam jumlah besar untuk kebutuhan Jakarta Fair 2026 menjadi peluang penting bagi usaha yang telah dirintisnya sejak 2011 dan fokus pada produk sus kering sejak 2016.

Saat ini, Susnukuma didukung oleh enam orang karyawan tetap yang seluruhnya merupakan warga sekitar, terutama ibu rumah tangga, orang tua tunggal, serta remaja lulusan baru SMA.

"Di saat pesanan melonjak tinggi, kami bahkan mampu menyerap hingga 20 orang ibu-ibu sebagai tenaga kerja musiman dari lingkungan sekitar rumah untuk mengatasi permintaan yang membuat kami kewalahan," tutur Aniasuti.

Pertamina menyebut kejadian ini sejalan dengan komitmen perusahaan melalui Bright Store untuk mendorong produk lokal naik kelas sekaligus menciptakan dampak ekonomi berantai yang nyata.

"Melalui Bright Store by Pertamina di Jakarta Fair 2026, kami ingin menunjukkan bahwa kreativitas, produk layanan Pertamina, dan pemberdayaan UMKM dapat berjalan beriringan," kata VP Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron.

Menurutnya, kehadiran Booth Bright Store by Pertamina di Jakarta Fair 2026, JIExpo Kemayoran, menjadi salah satu bentuk dukungan Pertamina dalam mendorong produk UMKM agar semakin dikenal luas, berdaya saing, dan mampu naik kelas.

“Pertamina terus mendorong agar setiap aktivasi brand tidak hanya berhenti pada aspek promosi, tetapi juga menghadirkan manfaat yang lebih nyata bagi masyarakat," ujarnya.Baron menambahkan, pelibatan UMKM dalam rantai pasok Bright Store by Pertamina merupakan bagian dari komitmen Pertamina untuk menciptakan nilai tambah dari hulu hingga hilir. Tidak hanya melalui produk tas yang diproduksi UMKM binaan, tetapi juga melalui keterlibatan UMKM pangan lokal sebagai bagian dari isi paket yang diterima konsumen.

Ia berharap ketika satu produk menjadi viral, dampaknya tidak berhenti pada peningkatan transaksi, tetapi juga bergerak ke peningkatan produksi, penyerapan tenaga kerja, dan penguatan kapasitas usaha.

Rekomendasi