Arkeolog Temukan Sembilan Papan Permainan Kuno Berusia 1.000 Tahun, Cara Mainnya Mirip Congklak
Permainan ini di zaman dulu dimainkan rakyat jelata dan juga bangsawan.
Arkeolog dari Institut Nasional Antropologi dan Sejarah Meksiko (INAH) menemukan sembilan pahatan bekas permainan kuno yang disebut patolli. Pahatan berusia lebih dari 1.000 tahun ini ditemukan di jalan raya di Chetumal, dekat Xpujil, Campeche.
Patolli adalah salah satu permainan tertua di Amerika. Biasanya permainan ini dinikmati oleh rakyat jelata dan bangsawan, seperti dikutip dari Arkeonews, Rabu (11/9). Patolli ini diperkirakan dibuat antara tahun 600 dan 900 M selama periode Klasik Akhir.
Berbagai budaya Mesoamerika pra-Columbus sering memainkan permainan ini. Cara bermain patolli mirip dengan permainan congklak khas Indonesia.
Istilah “patolli” berasal dari kata Nahuatl yang berarti kacang dan dikaitkan dengan dewa, persembahan, upacara keagamaan, dan acara kalender, menurut sumber dokumenter. Permainan ini melibatkan garis-garis yang diukir di tanah yang berfungsi sebagai papan permainan dengan kacang yang digunakan sebagai dadu. Patolli memiliki nilai rekreasi dan kepentingan ritual yang signifikan dalam budaya Mesoamerika.
Budaya Mesoamerika
Meskipun permainan ini tersebar luas di seluruh budaya Mesoamerika, temuan baru-baru ini memberikan wawasan berharga mengenai praktik upacara dan rekreasi penduduk kuno di wilayah tersebut, mungkin dari periode Klasik Akhir (600-900 M).
Meskipun permainan ini tersebar luas di seluruh budaya Mesoamerika, temuan baru-baru ini memberikan wawasan berharga mengenai praktik upacara dan rekreasi penduduk kuno di wilayah tersebut, mungkin dari periode Klasik Akhir (600-900 M).
Sembilan patolli bertumpu pada permukaan plesteran berukuran panjang 11,3 meter dan lebar 2,8 meter dan ditemukan dalam kondisi buruk. Ukiran tersebut menunjukkan kerusakan yang signifikan, seperti retak, patah, hilangnya lapisan, hancur, dan abrasi, yang memerlukan perhatian konservasi segera.
Koordinator Kawasan Konservasi Proyek Penyelamatan Arkeologi Kereta Maya, Felix Camacho Zamora menjelaskan untuk melestarikan aset arkeologi tersebut, dilakukan tindakan darurat seperti suntikan air kapur untuk menstabilkan plesteran, serta penerapan penambalan dan trim perimeter.