Arkeolog Temukan Lukisan dan Pahatan Purba di Gua Spanyol, Dibuat Manusia Zaman Batu
Gua ini telah menjadi subjek penelitian sejak abad ke-18.
Gua ini telah menjadi subjek penelitian sejak abad ke-18.
Arkeolog Temukan Lukisan dan Pahatan Purba di Gua Spanyol, Dibuat Manusia Zaman Batu
Arkeolog dari IPHES-CERCA dan Universitas Barcelona menemukan seni batu Paleolitikum di gua Simanya, Spanyol. Gua ini merupakan satu dari lima sistem gua yang dikenal sebagai "Complex de les Simanyes", berlokasi di kotamadya Sant Llorenc, Savall. Gua ini telah menjadi subjek penelitian sejak abad ke-18.
Penyelidikan awal di gua ini menemukan bahwa gua ini pernah dihuni manusia mulai dari zaman Paleolitikum sampai Zaman Pertengahan.
Dalam studi terbaru yang diterbitkan dalam Journal Archaeological Science Reports, para arkeolog menemukan serangkaian pahatan dan sisa-sisa pigmen di dinding gua. Temuan ini merupakan salah satu contoh pertama ekspresi seni yang dibuat komunitas manusia awal di wilayah Catalonia, dikutip dari Heritage Daily, Kamis (4/7).
Menurut para peneliti, karya seni berupa ukiran dan lukisan itu menunjukkan karakteristik tematik dan formal yang sebanding dengan seni Paleolitikum yang ditemukan di Spanyol dan Prancis.
Karakteristik teknik dan tematik karya tersebut mengindikasikan bahwa itu merupakan korespondensi kebudayaan Magdalenian, orang yang berasal dari Paleolitikum Atas dan Mesolitikum di Eropa barat. Orang-orang Magdalenian dikenal karena keunggulan mereka dalam bidang seni dan budaya, termasuk produksi patung dan lukisan gua.
Survei visual sistematis terhadap dinding dan langit-langit gua telah mengidentifikasi tiga representasi berbeda yang terletak di ruang interior rongga.
Salah satu representasinya dicat dengan pigmen merah dan membentuk dua garis sejajar, representasi kedua memiliki garis terputus-putus, dan representasi ketiga menunjukkan beberapa garis sejajar yang dimahkotai dengan setengah lingkaran.
“Meskipun terdapat banyak situs yang berasal dari akhir Paleolitikum Muda, bukti perilaku simbolik, khususnya seni parietal, sangat langka," jelas penulis utama studi, Míriam Salas-Altès.
"Studi seni Paleolitikum memungkinkan untuk menghubungkan tradisi budaya, mobilitas, dan interaksi kelompok manusia," pungkasnya.