Peneliti Temukan Ukiran Batu Tertua Dalam Sejarah, Usianya 200.000 Tahun
Ukiran Batu tertua itu secara tidak sengaja ditemukan, berlokasi di situs arkeologi Coto Correa, Las Chapas, Spanyol.
Departemen Kebudayaan, Pendidikan, dan Warisan Sejarah Spanyol mengungkap penemuan ukiran pada balok batu yang berasal dari 200.000 tahun lalu. Ukiran tersebut ditemukan selama penggalian di situs arkeologi Coto Correa, terletak di lingkungan Las Chapas di Marbella, Spanyol.
Dilansir dari Heritage Daily, Jumat (14/3), Coto Correa pertama kali diidentifikasi pada 1950-an ketika penemuan tidak sengaja perkakas batu yang berasal dari periode Paleolitik, serta peralatan lain dari Zaman Kalkolitikum dan Zaman Perunggu Akhir.
Perkakas batu tertua itu diperkirakan berasal dari 1.500.000 hingga 100.000 SM. Hal ini sekaligus mengonfirmasi keberadaan pemukiman prasejarah yang tinggal di wilayah Marbella selama periode Paleolitik awal hingga pertengahan.
Periode Paleolitik adalah ketika manusia modern mulai bermigrasi keluar dari Afrika dan mulai menggantikan spesies Homo lainnya, seperti Neanderthal dan Homo erectus.
Analisis penemuan dari penggalian yang sedang berlangsung mengidentifikasi serangkaian tanda ukiran pada balok batu gabro, berusia sekitar 200.000 tahun. Penemuan ini berpotensi mendahului seni gua tertua yang diketahui hingga 100.000 tahun.
Untuk mengonfirmasi temuan ini, Departemen Kebudayaan melakukan analisis geoarkeologi terperinci.
“Teknik yang diterapkan untuk penanggalan absolut terdiri dari analisis kuarsa dari berbagai sampel sedimen, yang memungkinkan mengetahui kronologi sampel dengan tepat.”
“Selain itu, pekerjaan dokumentasi akan dilakukan menggunakan pemindaian 3D, yang memungkinkan pembuatan komposit virtual beresolusi tinggi dari serangkaian tanda.
Hal ini akan membuka peluang seluruh permukaan dapat dipelajari dengan sangat rinci, sehingga bisa mengidentifikasi tanda kerja dan elemen grafis,” tambah Departemen Kebudayaan.
Jika penanggalan ukiran tersebut dikonfirmasi (yang belum dipublikasikan), Coto Corea dapat menjadi titik referensi penting komunitas Paleolitik dalam migrasi dan pemukiman di Eropa , serta menjadi tolak ukur penting dalam seni Paleolitik.
Reporter Magang: Devina Faliza Rey