Jejak migrasi manusia purba berusia 1,1 sampai 1,5 juta tahun lalu ditemukan di situs Calio, Lembah Walannae, Cabengnge, Kecamatan Lilirilau, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan. Badan Riset dan Inovasi Indonesia (BRIN) mengapresiasi temuan arkeologi tersebut telah menembus jurnal dunia, Nature.
Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra di BRIN, Herry Yogaswara, menyatakan masuknya temuan ini ke jurnal Nature merupakan pengakuan dunia atas pentingnya temuan tersebut.
“Ini jurnal dengan reputasi sangat-sangat tinggi. Artinya, temuannya luar biasa penting dan sudah melalui proses review oleh para ahli dari berbagai bidang arkeologi, geologi, dan lainnya,” ujarnya di Villa Yuliana, Watansoppeng, Kamis (6/8).
Herry menyebut, publikasi ini merupakan hasil riset jangka panjang dan kolaboratif yang telah berlangsung sejak awal 2000-an, bahkan ditelusuri hingga ke eksplorasi di tahun 1930-an.
Advertisement
Daya tarik wisata
“Ini bukti bahwa riset mendalam dan berkesinambungan adalah kunci. Dan ini menjadi kebanggaan, khususnya untuk masyarakat Soppeng,” tambahnya.
Lebih dari sekadar penemuan ilmiah, Herry menekankan pentingnya mendorong hasil riset menjadi bagian dari pembangunan ekonomi masyarakat melalui pendekatan ekonomi warisan budaya atau economic heritage. Ia mencontohkan bagaimana Sangiran, yang dahulu hanya dikenal sebagai lokasi penggalian, kini menjelma menjadi destinasi wisata budaya kelas dunia.
“Saya membayangkan hal serupa bisa terjadi di Soppeng. Situs-situs arkeologi di Lembah Walanae bisa menjadi daya tarik wisata budaya yang mendunia, sekaligus menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat,” ujar Herry.
Dalam kesempatan itu, Herry juga mengungkapkan telah ada pembagian peran antara BRIN dan Kementerian Kebudayaan terkait pengelolaan hasil riset dan pelestarian.
“BRIN akan fokus pada hulu—yakni riset—sementara Kementerian akan menangani hilirnya—yakni pelestarian dan pemanfaatan,” jelasnya.
Advertisement
Ilmu tidak berhenti di laboratorium
BRIN juga akan terus memperkuat kapasitas laboratorium dan teknologi untuk menunjang riset lanjutan, termasuk pemasangan alat berteknologi tinggi seperti IMS (Isotope Mass Spectrometry) yang digunakan untuk penanggalan karbon.
“Meski pemasangannya butuh waktu dua tahun, ini investasi penting untuk mengungkap lebih banyak misteri masa lalu kita,” kata Herry.
Ia menutup dengan ajakan kepada para peneliti, termasuk dari perguruan tinggi dan komunitas lokal, untuk terus melanjutkan riset.
“Ilmu tidak boleh berhenti di laboratorium. Ia harus bermanfaat bagi masyarakat, menjadi bagian dari pengembangan wilayah, dan membentuk masa depan melalui jejak masa lalu,” ucapnya.
Sementara Arkeolog Universitas Griffith Australia Prof Adam Brumm mengatakan temuan di Situs Calio merupakan penemuan spektakuler. Alasannya, temuan di Situs Calio lebih tua dibandingkan penemuan sebelumnya di Kabupaten Maros yang berusia 200 tahun lalu.
"Temuan ini bukan cuma penting untuk budaya Indonesia, budaya Sulsel, tetapi budaya semua dunia. Itu sangat penting dan ada di sini, di Kabupaten Soppeng," kata dia.
Brumm mengungkapkan di Situs Calio ditemukan jejak-jejak kehidupan manusia purba spesies Homo Erectus. Berdasarkan hasil ekskavasi ditemukan artefak batu berusia 1,1 sampai 1,5 juta tahun lalu.
"Tapi masih ada masalah yang sedikit misterius, siapa manusia yang membuat alat batu di sini 1 juta tahun yang lalu. Kemungkinan, kalau menurut pendapat saya itu spesies Pithecantropus Erectus yang familiar dari Jawa," tuturnya.
Untuk itu, kata Brumm, dengan adanya penemuan artefak batu tersebut, peneliti sedang mencari fosil manusia pada zaman tersebut.
"Tapi yang penting sekarang, alat batu yang ada di sini, kita harus menemukan fosil manusia itu," kata dia.
Sementara Bupati Soppeng Suwardi Haseng mengapresiasi temuan jejak manusia purba di Situs Calio, Cabengnge. Apalagi temuan tersebut menjadi perhatian peneliti dan telah masuk jurnal Internasional.
"Kami dari Pemkab Soppeng dan tentunya masyarakat, sangat bangga dengan temuan yang mendunia ini. Ini juga menggugurkan teori sebelumnya yang menyatakan manusia purba tidak bisa ke Sulawesi karena tidak mungkin bisa menyeberangi palung di lautan. Tetapi itu semua terbantahkan dengan penemuan ini," kata dia.
Suwardi mengaku Pemkab Soppeng siap mendukung arkeolog yang melakukan ekskavasi untuk mencari fosil manusia purba Homo Erectus.
"Tadi kami sudah bicara dengan para arkeolog, mungkin nanti akan intens lagi karena memungkinkan ada fosil manusia. Mudah-mudahan tidak lama. Tentu kami akan mendukung hal-hal seperti ini," ucapnya.
Advertisement