Transformasi Ekonomi Hijau: Kebutuhan Strategis Indonesia Hadapi Krisis Iklim
Bappenas menegaskan transformasi menuju ekonomi hijau bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan strategis Indonesia untuk memastikan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan perlindungan lingkungan di tengah ancaman perubahan iklim.
Direktur Lingkungan Hidup Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Kementerian PPN/Bappenas) Nizhar Marizi menyatakan bahwa transformasi pembangunan menuju ekonomi hijau adalah kebutuhan strategis. Pernyataan ini disampaikan di tengah tantangan perubahan iklim yang terus berlangsung.
Nizhar Marizi menegaskan, “Transformasi pembangunan menuju ekonomi hijau bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan strategis untuk memastikan pertumbuhan ekonomi tetap berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.” Hal ini disampaikannya dalam kegiatan Green Economy Goes to Campus: Peran Generasi Muda dalam Mendukung Transformasi Ekonomi Hijau menuju Indonesia Emas 2045 di Jakarta.
Dampak perubahan iklim semakin terasa nyata, ditandai dengan peningkatan suhu global, kenaikan muka air laut, dan fenomena cuaca ekstrem. Kondisi ini berpotensi menyebabkan kerugian ekonomi global yang diproyeksikan mencapai lebih dari Rp2 ribu triliun pada tahun 2029.
Ekonomi Hijau dalam Prioritas Pembangunan Nasional
Pemerintah Indonesia, melalui Bappenas, menempatkan transformasi ekonomi hijau sebagai salah satu agenda prioritas utama. Agenda ini tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045 dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029.
Pendekatan ekonomi hijau ini tidak hanya berfokus pada pertumbuhan ekonomi semata, tetapi juga memastikan keberlanjutan lingkungan hidup dan keadilan sosial. Ini menjadi fondasi penting bagi pembangunan jangka panjang Indonesia, terutama dalam menghadapi ancaman krisis planet ganda (triple planetary crisis) yang kini dihadapi dunia dan Indonesia.
Bappenas bersama Institut Pertanian Bogor (IPB), GIZ Indonesia, dan Emil Salim Institute (ESI) berkolaborasi. Kemitraan ini bertujuan memperkuat literasi kebijakan serta memperluas partisipasi generasi muda dalam mendukung percepatan transformasi ekonomi hijau nasional.
Peran Vital Generasi Muda dalam Implementasi Ekonomi Hijau
Generasi muda dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi motor penggerak dalam implementasi ekonomi hijau di Indonesia. Mereka diharapkan dapat berkontribusi melalui berbagai jalur, termasuk inovasi teknologi dan pengembangan kewirausahaan hijau.
Selain itu, generasi muda juga diharapkan aktif dalam advokasi kebijakan serta penguatan gerakan berbasis komunitas. Kontribusi ini sejalan dengan nilai-nilai Tri Dharma Perguruan Tinggi yang menekankan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Kegiatan Green Economy Goes to Campus dirancang sebagai platform strategis. Tujuannya adalah untuk mendiseminasikan arah kebijakan nasional, memfasilitasi dialog, serta memperkuat kemitraan antara pemerintah, perguruan tinggi, komunitas pemuda, dan mitra pembangunan.
Memahami Ekosistem sebagai Fondasi Ekonomi Hijau
Profesor Emil Salim, Ketua Dewan Pembina ESI, menekankan bahwa pembangunan ekonomi hijau harus didasarkan pada pemahaman mendalam terhadap ekosistem. Ekosistem harus dipandang sebagai satu kesatuan yang hidup dan saling terhubung.
“Alam bukan sekadar objek pembangunan, tetapi subjek kehidupan. Karena itu, pembangunan harus memahami ekosistem sebagai sesuatu yang hidup dan saling bergantung,” ujar Emil Salim. Pandangan ini menyoroti pentingnya pendekatan holistik dalam setiap upaya pembangunan.
Emil Salim juga berpendapat bahwa generasi muda perlu memahami bahwa ilmu pengetahuan tidak dapat berdiri sendiri. Ilmu harus mampu melihat keterkaitan antara manusia, sumber daya alam, dan keberlanjutan lingkungan. Perguruan tinggi memiliki peran strategis sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, riset, inovasi, serta pembentukan kepemimpinan masa depan.
Sumber: AntaraNews