Tempe Tidak Lagi Murah Meriah, Harga Kedelai Mahal Bikin Pengrajin Putar Otak
Tidak hanya harga kedelai, komponen penunjang penjualan tempe seperti daun pisang juga naik.
Tempe, bukan lagi menjadi kudapan sederhana. Harga kedelai, sebagai bahan baku untuk membuat tempe terus melonjak.
Kondisi ini bikin pusing para pengrajin hingga bermuara ke konsumen. Di sisi hulu, para pengrajin berada pada posisi yang serba salah. Menaikkan harga tempe berarti siap menerima konsekuensi kehilangan konsumen, sebaliknya margin keuntungan yang didapat pengrajin semakin kecil jika tidak menaikkan harga tempe.
Namun, Riska, pengrajin tempe di Cileungsi, Jawa Barat, mengambil jalan tengah dengan tidak menaikkan harga tempe namun mengurangi ukuran.
"Harganya tetap dijual dengan harga yang sama, tapi ukurannya dikecilin," kata Riska kepada merdeka.com, Senin (28/4).
Menaikkan Harga
Riska menjelaskan dirinya pernah mencoba menaikkan harga tempe mengikuti kenaikan harga kedelai. Namun, upaya tersebut tidak berhasil karena para pembeli keberatan dengan harga yang lebih tinggi.
"Pernah harga tempenya dinaikin, tapi pembelinya pada enggak kuat, ya sudah daripada dinaikin harganya, mau nggak mau porsi tempenya dikurangin," terang dia.
Lebih lanjut, Riska mengungkapkan bukan hanya harga kedelai yang mengalami kenaikan. Beberapa bahan penunjang produksi tempe seperti plastik dan daun pisang juga turut mengalami lonjakan harga.
"Soalnya kan yang naik bukan harga kedelainya saja, harga plastik dan daun pisangnya juga (naik)," imbuhnya.
Dalam operasional sehari-hari, Riska menyebutkan bahwa dia membutuhkan sekitar satu kuintal kedelai untuk produksi, dan jumlah ini dapat meningkat pada bulan Ramadan. Dia juga memperkirakan bahwa kenaikan harga kedelai disebabkan oleh biaya impor dari Amerika Serikat.
"Kalau hari biasa gini sehari 1 kwintal, kalau bulan puasa bisa lebih dari itu. Kayanya biaya impornya deh, soalnya kan kedelainya dari Amerika kebanyakannya," tutup Riska.