Derita Pengusaha Warteg saat Harga Kedelai Melejit, Ukuran Tempe Mengecil
Tempe merupakan lauk wajib yang senantiasa ada di setiap rumah makan.
Identitas tempe sebagai kudapan sederhana, tidak cocok jika disematkan pada kondisi saat ini. Lonjakan harga kedelai, bikin tempe layaknya sebuah lauk istimewa, khususnya di setiap warung-warung makan atau warung tegal (Warteg).
Di tempat-tempat seperti inilah tempe menjadi sajian andalan ada yang digoreng, dibalado, diorek, atau dicampur sayur.
Mukroni, Ketua Koordinator Warteg Nusantara (Kowantara), menyebut dampak kenaikan harga kedelai memang tidak langsung terasa.
“Pedagang tempe biasanya punya stok kedelai untuk dua minggu sampai satu bulan. Tapi setelah itu, kenaikan harga pasti terasa,” ujarnya kepada merdeka.com, Senin (28/4).
Jika harga kedelai terus naik, bukan tidak mungkin harga tempe pun ikut terkerek. Namun, warteg-warteg yang tergabung dalam Kowantara sudah menyiapkan berbagai strategi agar tetap bisa menyajikan tempe dengan harga terjangkau.
Strategi Warteg
Langkah pertama adalah mengecilkan ukuran tempe dalam menu seperti tempe goreng dan balado. Kedua, untuk hidangan seperti orek tempe atau sayur tempe, mereka akan menambah bahan campuran seperti sayuran lain agar porsi tempe bisa dikurangi tanpa mengorbankan rasa atau tampilan.
Tak hanya itu, variasi menu juga mulai diperkaya. Sayur terong, tumisan, dan olahan sayur murah lainnya akan lebih banyak dihadirkan di meja warteg. “Itu semua agar ongkos produksi bisa tetap seimbang,” jelas Mukroni.
Namun, Kowantara menyadari bahwa solusi ini hanya sementara. Mereka berharap pemerintah turut campur tangan untuk menstabilkan harga kedelai, misalnya melalui subsidi atau pengurangan bea masuk. “Kami juga dorong kolaborasi lebih erat dengan produsen tempe agar bisa dapat harga yang lebih stabil,” tambahnya.
Kalaupun akhirnya harga tempe di warteg terpaksa naik, Mukroni menegaskan bahwa asosiasi siap membantu para anggotanya dalam menyampaikan alasan kenaikan harga secara transparan kepada konsumen. “Agar pelanggan tetap memahami, komunikasi yang jujur itu penting,” tutupnya.