Kenapa Ukuran Tahu dan Tempe Semakin Kecil? Direktur Bulog Beri Penjelasan
Kenaikan harga kedelai sendiri salah satunya dipengaruhi oleh kebijakan tarif impor yang diterapkan Presiden AS Donald Trump.
Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog, Mokhamad Suyamto menjawab keluhan masyarakat terkait kian mengecilnya ukuran tahu dan tempe akibat kenaikan harga kedelai.
Dia menjelaskan bahwa kedelai merupakan produk pangan yang hampir sepenuhnya didatangkan dari luar negeri alias impor. Dengan ini, harga kedelai sebagai bahan baku pembuatan tahu dan tempe akan bergantung pada harga yang berlaku di luar negeri.
"Ya kedelai itu kan tergantung dari harga luar negeri kan. Karena 90 persen itu kan impor. Jadi ya apabila harga luar negeri naik, ya pasti akan naik (kedelai)," ucap Suyamto usai mengikuti Rapat Koordinasi Pengendalian Harga Pangan di Kantor Badan Pangan Nasional, Jakarta, Jumat (16/5).
Disebutkannya kenaikan harga kedelai sendiri salah satunya dipengaruhi oleh kebijakan tarif impor yang diterapkan Presiden AS Donald Trump.
"Jadi sangat tergantung dari harga luar negeri," ucap dia menekankan.
Kendati demikian, Bulog mengakui belum mendapatkan arahan pemerintah untuk memberikan subsidi terhadap pelaku usaha industri tahu dan tempe akibat kenaikan harga kedelai impor.
"Kita masih menunggu penugasan dari pemerintah. Belum ada (subsidi)," tegasnya.
Suyamto menyebut subsidi yang dilakukan pemerintah melalui Perum Bulog saat itu ialah dengan membantu keringanan harga pembelian kedelai sekitar Rp1000 per kilogram terhadap perajin tahu dan tempe.
"Bulog dulu pernah ada program subsidi ya. Jadi kita menyalurkan, kita beli. Sebenarnya kita salurkan kepada peternak dengan selisih harga setara seribu. Itu dulu pernah," tandasnya.
Keluhan Produsen Tahu dan Tempe
Sebelumnya, produsen tahu dan tempe mengeluhkan kenaikan harga kedelai. Pasalnya, harga bahan baku utama produk legendaris rakyat ini kini hampir menembus Rp10.000 per kilogram dari Rp8.000 per kilogram.
Kondisi ini dirasakan langsung oleh para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang tergabung dalam Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Kopti) Jawa Tengah. Mereka menyebut, lonjakan harga kedelai tak lepas dari gejolak global, khususnya perang dagang antara Amerika Serikat dan China.
Menyikapi kenaikan harga tahu dan tempe langkah pertama yang dilakukan pelaku usaha adalah mengecilkan ukuran tempe dalam menu seperti tempe goreng dan balado.
Kedua, untuk hidangan seperti orek tempe atau sayur tempe, mereka akan menambah bahan campuran seperti sayuran lain agar porsi tempe bisa dikurangi tanpa mengorbankan rasa atau tampilan.
Tak hanya itu, variasi menu juga mulai diperkaya. Sayur terong, tumisan, dan olahan sayur murah lainnya akan lebih banyak dihadirkan di meja warteg. “Itu semua agar ongkos produksi bisa tetap seimbang,” jelas Ketua Koordinator Warteg Nusantara (Kowantara), Mukroni. Dia menyebut dampak kenaikan harga kedelai memang tidak langsung terasa.