Kedelai Mahal di Jakarta, Pemprov DKI Dorong Urban Farming Jadi Solusi

Kenaikan harga terjadi baik di tingkat pengrajin tahu dan tempe maupun pedagang pasar.

Winda Nelfira
Oleh Winda Nelfira - Reporter
Kedelai Mahal di Jakarta, Pemprov DKI Dorong Urban Farming Jadi Solusi
Kedelai Mahal di Jakarta, Pemprov DKI Dorong Urban Farming Jadi Solusi (Merdeka.com)

Harga kedelai di DKI Jakarta melonjak signifikan hingga menembus Rp20 ribu per kilogram di pasar tradisional. Menyikapi kondisi tersebut, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengimbau masyarakat untuk mulai memanfaatkan urban farming sebagai alternatif menjaga ketahanan pangan rumah tangga.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, Hasudungan Sidabalok, mengatakan kenaikan harga terjadi baik di tingkat pengrajin tahu dan tempe maupun pedagang pasar.

Dia merinci, harga kedelai mengalami kenaikan bervariatif mulai Rp10.500-Rp11.000 per/kg pada tingkat pengrajin tahu dan tempe dari yang sebelumnya Rp8.000-Rp8.600 per/kg.

"Harga pada tingkat pedagang pasar tradisional Rp15.000-Rp20.000 per/kg dari harga sebelumnya berkisar Rp13.000-Rp18.000 per/kg," kata Hasudungan dalam keterangan tertulis, Rabu (8/4).

Ia menjelaskan, lonjakan harga kedelai dipicu oleh dinamika global, terutama dari negara eksportir utama kedelai Jakarta. Selain itu, faktor melemahnya nilai tukar rupiah juga turut mempengaruhi. 

"Kenaikan harga dikarenakan adanya dinamika secara global terkait gejolak negara eksportir kedelai terbesar Amerika Serikat dan nilai tukar rupiah yang menurun," katanya.

Hasudungan menyebut, berdasarkan pantauan lapangan oleh tim enumerator dan petugas statistik pertanian DKI Jakarta, kenaikan harga kedelai mulai mencuat sejak Ramadan pada Februari 2026 dan terus berfluktuasi hingga saat ini.

Hasudungan juga mengungkapkan bahwa pasokan kedelai di Jakarta masih sangat bergantung pada impor.

"Komoditas kedelai di DKI Jakarta hampir seluruhnya merupakan produk import dan sebagian kecil merupakan pasokan daerah produsen seperti Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat," ucapnya.

Menurut dia, kedelai menjadi bahan baku utama bagi pengrajin tahu dan tempe yang tergabung dalam Pusat Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (PUSKOPTI) DKI Jakarta dan Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (GAKOPTINDO).

Oleh sebab itu, sebagai langkah mitigasi, Pemprov DKI mengimbau masyarakat untuk mulai melakukan diversifikasi pangan serta memanfaatkan lahan terbatas melalui urban farming.

“Warga DKI Jakarta dapat juga melakukan kegiatan urban farming untuk meningkatkan ketahanan pangan keluarga secara mandiri dirumah masing-masing,” kata Hasudungan.

Rekomendasi