Sertifikasi ISPO Bangka Tengah: Perkuat Kemitraan Petani Sawit dan Daya Saing Daerah
Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah terus memperkuat kemitraan petani sawit dengan industri melalui sosialisasi Sertifikasi ISPO, guna menjamin kepastian pasar dan harga yang lebih baik serta meningkatkan daya saing komoditas daerah.
Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, secara aktif memperkuat kemitraan antara petani kelapa sawit dengan pihak industri. Upaya ini diwujudkan melalui sosialisasi intensif mengenai Sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) yang berkelanjutan.
Langkah strategis ini bertujuan untuk memastikan hasil panen petani memiliki kepastian pasar serta mendapatkan harga jual yang lebih kompetitif. Inisiatif ini juga selaras dengan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung tata kelola perkebunan yang berkelanjutan.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Bangka Tengah, Dian Akbarini, menegaskan bahwa sertifikasi ISPO bukan hanya tentang praktik perkebunan yang baik, melainkan juga fondasi penting dalam membangun hubungan kemitraan yang kuat antara petani dan perusahaan pengolahan sawit.
Perlindungan Petani dan Kepastian Harga Melalui Sertifikasi ISPO
Sertifikasi ISPO memiliki peran krusial dalam melindungi hak-hak petani kelapa sawit di Bangka Tengah. Selain itu, regulasi terbaru juga turut memperkuat posisi tawar mereka di pasar.
Dian Akbarini menjelaskan bahwa petani sawit kini mendapatkan perlindungan hukum melalui Peraturan Menteri Pertanian Nomor 13 Tahun 2024. Regulasi ini secara spesifik mengatur tentang pembelian tandan buah segar (TBS) kelapa sawit.
Dengan adanya peraturan tersebut, hak-hak petani menjadi lebih terjamin karena harga jual TBS akan mengacu pada ketetapan resmi dari Dinas Pertanian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Hal ini memberikan kepastian harga yang stabil dan adil bagi para petani.
Penguatan kemitraan ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem bisnis yang lebih transparan dan menguntungkan bagi semua pihak yang terlibat dalam industri kelapa sawit di Bangka Tengah.
Meningkatkan Daya Saing dan Keberlanjutan Perkebunan Sawit
Sertifikasi ISPO menjadi instrumen penting untuk meningkatkan posisi tawar petani sekaligus memperkuat daya saing komoditas sawit Bangka Tengah di pasar global. Tuntutan pasar terhadap produk perkebunan berkelanjutan semakin tinggi.
Staf Ahli Bidang Perekonomian, Pembangunan, dan Keuangan Kabupaten Bangka Tengah, Tamimi, menambahkan bahwa sertifikasi ISPO merupakan rangkaian penilaian kesesuaian. Penilaian ini memastikan pengelolaan perkebunan kelapa sawit telah memenuhi prinsip dan kriteria yang ditetapkan secara nasional.
Tujuan utama dari Sertifikasi ISPO adalah untuk memastikan bahwa usaha perkebunan sawit layak secara sosial, ekonomi, dan lingkungan. Ini mencakup aspek-aspek penting seperti praktik budidaya yang bertanggung jawab dan kesejahteraan pekerja.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025, luas areal perkebunan sawit di Bangka Tengah mencapai 14.370,8 hektare. Luasan ini tersebar di enam kecamatan berbeda di wilayah tersebut.
Peremajaan Tanaman dan Tata Kelola Berkelanjutan
Produktivitas sawit yang tinggi harus diimbangi dengan upaya peremajaan tanaman secara berkala. Ini penting untuk menjaga kualitas dan kuantitas hasil panen di masa mendatang.
Tamimi menekankan pentingnya penguatan tata kelola perkebunan melalui sosialisasi ISPO yang berkelanjutan. Hal ini memastikan bahwa seluruh praktik perkebunan sesuai dengan standar keberlanjutan.
Pemerintah daerah terus mendorong petani untuk mengadopsi praktik terbaik dalam pengelolaan perkebunan. Tujuannya adalah untuk mencapai efisiensi operasional dan meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan.
Dengan komitmen terhadap Sertifikasi ISPO, Bangka Tengah berupaya menciptakan industri kelapa sawit yang tidak hanya produktif, tetapi juga bertanggung jawab secara lingkungan dan sosial.
Sumber: AntaraNews