Pemkab Bangka Tengah Genjot Klaster Cabai Bawang, Tekan Inflasi dan Perkuat Ketahanan Pangan
Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah serius mengembangkan klaster cabai bawang untuk menekan laju inflasi dan memastikan ketersediaan pangan lokal, sekaligus memberdayakan masyarakat secara berkelanjutan.
Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), tengah gencar mengembangkan klaster tanaman hortikultura. Inisiatif strategis ini secara khusus fokus pada komoditas cabai dan bawang merah, yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat. Langkah ini diambil sebagai upaya konkret untuk menekan laju inflasi daerah dan memperkuat fondasi ketahanan pangan lokal.
Fluktuasi harga komoditas pangan seringkali menjadi pemicu utama inflasi, sehingga pengembangan klaster ini diharapkan mampu menciptakan stabilitas harga. Selain itu, dengan peningkatan produksi lokal, ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah dapat berkurang. Hal ini akan menjadikan Bangka Tengah lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangannya.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bangka Tengah, Dian Akbarini, menegaskan komitmen pemerintah daerah. "Daerah kita sudah diproyeksikan menjadi klaster bawang merah dan cabai, kami terus mengupayakan keberlanjutannya," ujar Dian di Koba pada Minggu.
Optimalisasi Lahan dan Peningkatan Produksi Klaster Cabai Bawang
Pembangunan klaster tanaman cabai dan bawang merah ini memiliki tujuan ganda. Pertama, untuk meningkatkan produksi secara signifikan, dan kedua, mengoptimalkan pemanfaatan lahan yang ada sesuai dengan potensi wilayah Bangka Tengah. Dengan demikian, setiap jengkal tanah dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk kesejahteraan masyarakat.
Dian Akbarini menjelaskan bahwa program pengembangan ini akan dilaksanakan secara masif. Implementasinya mencakup seluruh enam kecamatan di Bangka Tengah, memastikan cakupan yang luas. Upaya ini tidak hanya mengandalkan kelompok binaan pemerintah, tetapi juga mendorong inisiatif pribadi dari petani dan masyarakat setempat.
Selain fokus pada perluasan area tanam untuk komoditas hortikultura, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan juga terus menjaga sejumlah lahan strategis. Lahan-lahan ini telah diidentifikasi sebagai lumbung pangan daerah yang vital. Salah satunya adalah lahan persawahan yang terletak di Desa Namang dan Belilik, Kabupaten Bangka Tengah, yang menjadi lokasi budi daya padi gogo atau padi ladang.
Komoditas tanaman pokok dan hortikultura memiliki peran krusial. Ketersediaan dan stabilitas harga komoditas ini sangat berdampak terhadap kekuatan pangan dan kondisi inflasi daerah secara keseluruhan. Oleh karena itu, menjaga kesinambungan produksi menjadi prioritas utama.
Peran Kolaborasi Komunitas dalam Penguatan Ketahanan Pangan
Dalam upaya memperkuat ketahanan pangan keluarga, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan setempat tidak bekerja sendiri. Mereka secara aktif menggandeng dan berkolaborasi dengan Kelompok Wanita Tani (KWT). Keterlibatan KWT diharapkan mampu menjadi motor penggerak di tingkat rumah tangga.
Pihaknya sangat mendorong dan meminta peran aktif KWT dalam menjaga ketahanan pangan keluarga. Salah satu caranya adalah dengan memanfaatkan lahan kosong di sekitar rumah. Lahan pekarangan yang seringkali tidak terpakai dapat diubah menjadi kebun produktif untuk menanam hortikultura.
Gerakan pemanfaatan lahan pekarangan ini digalakkan secara masif. Kolaborasi erat dilakukan tidak hanya dengan KWT, tetapi juga dengan tim penggerak PKK di setiap wilayah. Tujuannya adalah agar para wanita tidak hanya sekadar menanam, tetapi juga mampu mengintegrasikan lahan yang ada untuk kegiatan produktif lain.
Kegiatan produktif lain yang dimaksud bisa berupa beternak hewan kecil atau budidaya ikan. Dengan pendekatan terpadu ini, ketahanan pangan dapat diwujudkan dan dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga. Ini merupakan fondasi penting bagi ketahanan pangan daerah secara keseluruhan.
Sumber: AntaraNews