Perajin Tahu Tempe di Lebak Siasati Kenaikan Harga Kedelai dengan Pangkas Ukuran Produk
Kenaikan harga kedelai impor yang signifikan memaksa perajin tahu dan tempe di Kabupaten Lebak, Banten, untuk mengurangi ukuran produk demi menjaga keberlangsungan usaha dan menstabilkan harga jual.
Perajin tahu dan tempe di Kabupaten Lebak, Banten, menghadapi tantangan berat akibat lonjakan harga kedelai impor yang terus terjadi. Kondisi ini memaksa mereka mengambil langkah drastis untuk tetap bertahan di tengah tekanan ekonomi.
Sebagai respons, sejumlah perajin memilih untuk mengurangi ukuran produk tahu dan tempe mereka. Strategi ini diambil agar mereka tidak perlu menaikkan harga jual kepada konsumen setia.
Langkah penyesuaian ini merupakan upaya menjaga kelangsungan produksi dan menghindari pemutusan hubungan kerja bagi para karyawan di sektor industri tahu tempe lokal.
Dampak Kenaikan Harga Kedelai Impor yang Mencekik
Harga kedelai impor, bahan baku utama tahu dan tempe, telah melonjak tajam dari Rp300 ribu menjadi Rp545 ribu per karung 50 kilogram. Kenaikan ini terjadi dalam waktu singkat, membebani biaya produksi perajin.
Mad Soleh (58), seorang perajin tahu di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, mengungkapkan bahwa kenaikan harga ini telah berlangsung hampir setiap hari selama dua pekan terakhir. Situasi ini diperparah dengan kenaikan harga minyak goreng dan kayu bakar.
Akibatnya, volume produksi tahu miliknya menurun drastis hingga 50 kilogram dari sebelumnya 100 kilogram per hari. Penurunan produksi ini secara langsung memengaruhi omzet harian perajin.
Mad Soleh menambahkan, "Kita sekarang dari produksi 50 kg bisa meraup kebersihan sekitar Rp110 dari sebelumnya Rp220 ribu per hari".
Strategi Perajin Bertahan di Tengah Tantangan Kenaikan Harga Kedelai
Untuk menyiasati kenaikan harga kedelai, perajin tahu dan tempe di Lebak terpaksa memperkecil ukuran produk mereka. Langkah ini menjadi pilihan utama agar harga jual ke pelanggan tidak perlu dinaikkan.
Yanto, perajin tempe lainnya, menjelaskan bahwa memperkecil ukuran produk adalah cara untuk memastikan produksi tetap berjalan. Hal ini juga bertujuan agar tiga pekerjanya tidak dirumahkan di tengah kondisi sulit.
Ujang (50), perajin tahu lainnya, mengaku kebingungan dengan melambungnya harga kedelai. Ia bahkan merasa harus menjual rugi demi melayani pelanggannya yang sebagian besar adalah pedagang.
"Jika harga kedelai itu tidak dikendalikan dipastikan menghentikan produksi," keluh Ujang, menyoroti ancaman serius terhadap keberlanjutan usahanya.
Harapan dan Seruan kepada Pemerintah untuk Stabilisasi Harga
Ketua Perajin Tahu Tempe Kabupaten Lebak, Liri, menegaskan bahwa pemerintah perlu segera turun tangan mengatasi lonjakan harga kedelai impor. Stabilitas harga menjadi kunci bagi keberlangsungan industri ini.
Di Kabupaten Lebak sendiri, terdapat sekitar 550 unit usaha perajin tahu tempe yang kini khawatir tidak dapat berproduksi. Ancaman penghentian produksi ini bisa berdampak luas pada perekonomian lokal.
Liri berharap harga kedelai dapat kembali normal sehingga perajin dapat tumbuh dan berkembang. Kondisi normal akan memungkinkan mereka untuk terus menyerap tenaga kerja dan berkontribusi pada ekonomi.
Sumber: AntaraNews