IPO Diprediksi Menggeliat di Kuartal II-2026, Sinyal Pemulihan Pasar Usai Lebaran
Menurutnya, kuartal II menjadi momentum yang lebih ideal bagi perusahaan untuk melantai di bursa dibandingkan kuartal sebelumnya.
Pengamat pasar modal, Reydi Octa memprediksi aktivitas Initial Public Offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia berpotensi meningkat pada kuartal II tahun ini. Optimisme tersebut didorong oleh harapan membaiknya stabilitas pasar setelah periode Lebaran.
"Kuartal II berpotensi lebih aktif, terutama jika stabilitas pasar membaik pasca Lebaran," kata Reydi kepada Liputan6.com, Kamis (26/3).
Menurutnya, kuartal II menjadi momentum yang lebih ideal bagi perusahaan untuk melantai di bursa dibandingkan kuartal sebelumnya. Dengan kondisi pasar yang mulai kondusif, minat investor diperkirakan kembali pulih sehingga membuka peluang lebih besar bagi calon emiten untuk mendapatkan pendanaan optimal.
Reydi menjelaskan, sejumlah sektor diproyeksikan akan mendominasi gelombang IPO pada kuartal II. Di antaranya sektor energi, logistik, serta perusahaan berbasis komoditas yang dinilai memiliki daya tarik kuat di tengah kondisi ekonomi saat ini.
Investor juga akan lebih selektif dalam memilih emiten. Perusahaan dengan arus kas (cash flow) yang solid dan memiliki narasi pertumbuhan yang jelas dinilai lebih berpeluang menarik minat pasar.
"Sektor yang menarik antara lain energi, logistik, dan sektor berbasis komoditas, serta perusahaan yang punya cash flow kuat dan narasi pertumbuhan yang jelas,” ujarnya.
Kuartal I-2025 Sepi IPO
Sebaliknya, pada kuartal I aktivitas IPO cenderung lesu. Kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal seperti volatilitas pasar global, tekanan geopolitik, serta ketidakpastian arah suku bunga.
Situasi tersebut membuat banyak calon emiten memilih bersikap wait and see. Mereka menilai momentum belum cukup kuat untuk melakukan penawaran saham perdana, terutama di tengah terbatasnya minat risiko (risk appetite) investor.
"Calon emiten memilih wait and see karena momentumnya belum optimal dan risk appetite investor masih terbatas," ujarnya.
Reydi pun menyarankan bagi calon emiten yang akan melantai di Bursa kunci utamanya realistis dalam valuasi dan kuat di fundamental. Emiten harus mengedepankan transparansi, narasi bisnis yang kredibel, serta harga yang menarik. Di pasar seperti sekarang, rasanya investor lebih memilih kualitas daripada sekadar hype.