Hasil Negosiasi Tarif Trump: Indonesia Bakal Borong Gandum dari AS
Indonesia mengalokasikan kuota USD 4,5 miliar untuk mengimpor produk pertanian dari Negeri Paman Sam.
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman mengatakan, pemerintah bakal banyak memborong gandum dari Amerika Serikat (AS). Langkah ini merupakan hasil negosiasi dengan Washington DC beberapa waktu lalu. Gandun menjadi komoditas pertanian yang memakan porsi impor paling banyak dalam negosiasi dagang tersebut.
"Untuk yang pertanian, jadi gandum yang paling besar," ujar Mentan Amran saat ditemui di Jakarta, Kamis (17/7).
Adapun dalam negosiasi perdagangan dengan Amerika Serikat senilai USD 34 miliar, Indonesia mengalokasikan kuota USD 4,5 miliar untuk mengimpor produk pertanian dari Negeri Paman Sam.
Mentan menilai, langkah impor pertanian dari AS tidak kontraproduktif dengan program ketahanan pangan. Pasalnya, komoditas yang nantinya bakal didatangkan memang dibutuhkan untuk kepentingan domestik.
"Saya kira enggak masalah. Di antaranya yang kita biasa impor kan jagung. Tetapi, contoh salah satu jagung ya, itu kalau kita cukup, kan tidak impor. Kan ada rekomendasi dari Pertanian, enggak masalah. Ini adalah posisi yang sangat baik," bebernya.
Di sisi lain, kesepakatan dagang dengan Trump justru berpotensi mendongkrak ekspor pertanian Indonesia. Mentan mencontohkan produk minyak sawit mentah alias crude palm oil (CPO).
"Artinya apa, ada celah di sana untuk pertanian, ada celah di sana, yaitu CPO. Pesaing kita cuman Malaysia. Kita bersyukur karena tarif (impor oleh Amerika Serikat) lebih kecil dari Malaysia," tegas Mentan.
Produk Minyak Sawit RI Bakal Makin Berjaya
Optimisme senada turut dilontarkan oleh Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), yang menyambut baik ketentuan tarif impor 19 persen oleh Donald Trump. Kebijakan itu diyakini bakal membuat produk minyak sawit Indonesia semakin berjaya di pasar AS.
Ketua Umum Gapki Eddy Martono menilai, pemangkasan tarif impor dari 32 persen menjadi 19 persen jadi modal berharga bagi neraca perdagangan Indonesia terhadap Amerika Serikat. Sepanjang Januari-April 2025, surplus perdagangan RI untuk AS mencapai USD 5,44 miliar.
Terlebih untuk produk minyak sawit RI, dimana Indonesia menguasai pangsa pasar Amerika Serikat hingga mencapai 89 persen.
"Menurut saya ini sudah sangat bagus karena kita surplus terhadap US, khusus untuk sawit pangsa pasar kita 89 persen, jadi sangat tinggi," kata Eddy kepada Liputan6.com.
Ekspor Minyak Sawit Naik 5 Tahun Terakhir
Eddy mengatakan, ekspor minyak sawit Indonesia ke Amerika Serikat terus meningkat selama 5 tahun terakhir. Dengan catatan ekspor 2,5 juta ton per 2023, namun sedikit menurun menjadi 2,2 juta ton pada 2024.
Dengan adanya relaksasi tarif dari Trump, ia percaya angka ekspor minyak sawit ke AS bakal melonjak. "Saya yakin kalau digarap dengan serius, 2 sampai 3 tahun kedepan bisa tembus ke 3 juta ton," imbuh Eddy.
Meskipun kini ada penambahan tarif dari sebelumnya, Eddy tidak terlalu memusingkan kemungkinan margin yang didapat bakal lebih kecil. Lantaran, ia menganggap pasar Amerika Serikat sudah kadung tergantung oleh minyak sawit Indonesia.
"Yang terkena beban adalah konsumen di US. Jadi kalau mereka tetap membutuhkan minyak sawit, seharusnya pangsa pasar tetap terjaga," tutur dia.