Fakta Unik: Negosiasi Tarif Nol Indonesia-AS Berlanjut, Akankah Selevel Malaysia untuk Sawit?

Presiden Prabowo Subianto mengonfirmasi negosiasi tarif nol Indonesia-AS masih berjalan, bertujuan memperluas perdagangan bilateral, khususnya komoditas ekspor unggulan, mirip kesepakatan Malaysia. Akankah berhasil?

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Fakta Unik: Negosiasi Tarif Nol Indonesia-AS Berlanjut, Akankah Selevel Malaysia untuk Sawit?
Presiden Prabowo Subianto berinisiatif menambah kursus bahasa Inggris pekerja migran dengan bantuan Selandia Baru. Langkah ini untuk mengasah kemampuan bahasa asing dan meningkatkan daya saing global, membuat pembaca penasaran akan detail kerja sama ini. (AntaraNews)

Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, mengonfirmasi bahwa negosiasi dengan Amerika Serikat mengenai tarif impor nol persen masih terus bergulir. Pernyataan ini disampaikan oleh Presiden Prabowo di sela-sela KTT APEC 2025 yang berlangsung di Gyeongju, Korea Selatan, pada hari Jumat (01/11).

Diskusi bilateral ini memiliki tujuan utama untuk memperluas cakupan kerja sama perdagangan antara kedua negara. Fokus utamanya adalah pada komoditas ekspor unggulan Indonesia yang diharapkan bisa mendapatkan akses pasar yang lebih baik di Negeri Paman Sam.

Upaya ini mencerminkan komitmen pemerintah Indonesia dalam meningkatkan daya saing produk domestik di pasar global. Harapannya, melalui kesepakatan tarif nol ini, produk-produk Indonesia dapat bersaing secara lebih setara dengan negara-negara lain yang telah memiliki perjanjian serupa.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, turut menjelaskan bahwa pembahasan lebih lanjut dengan pihak Amerika Serikat akan dilanjutkan setelah KTT APEC. Komoditas yang diajukan untuk mendapatkan tarif nol persen serupa dengan yang telah disepakati oleh Malaysia.

Beberapa komoditas yang menjadi prioritas dalam negosiasi ini meliputi minyak kelapa sawit, kakao, karet, serta sejumlah barang lain yang tidak diproduksi di Amerika Serikat. Harapannya, penghapusan tarif ini dapat memberikan dorongan signifikan bagi ekspor komoditas tersebut.

Indonesia secara khusus berupaya agar ekspor minyak kelapa sawit dapat menikmati tarif nol persen, menyamai kesepakatan yang berhasil dicapai oleh Malaysia dengan Amerika Serikat. Hal ini penting untuk menciptakan level playing field yang adil bagi produk sawit Indonesia.

“Ini (negosiasi tarif sawit) masih dalam proses. Mudah-mudahan, dalam diskusi, kita setidaknya bisa setara dengan Malaysia,” ujar Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro, Putu Juli Ardika, pada 29 Oktober lalu, menunjukkan optimisme pemerintah.

Airlangga Hartarto juga mengungkapkan bahwa diskusi mengenai mineral kritis sedang dibahas secara terpisah dari negosiasi tarif komoditas lainnya. Pembahasan ini berkaitan erat dengan penguatan rantai pasok global dan kepentingan strategis kedua negara.

Mineral kritis sedang dibahas secara terpisah, terkait dengan rantai pasok,” katanya. Ia menambahkan, “Dalam pernyataan bersama, kami menyebutnya sebagai komunitas industri,” menyoroti pentingnya sektor ini.

Ardika merujuk pada keberhasilan Malaysia dalam menurunkan tarif impor AS dari 25 persen menjadi 19 persen melalui perjanjian tarif timbal balik yang baru ditandatangani dengan Washington. Produk-produk utama Malaysia, termasuk minyak sawit, karet, produk kayu, komponen penerbangan, dan farmasi, dibebaskan atau diturunkan tarifnya menjadi nol persen oleh AS.

Keberhasilan Malaysia menjadi tolok ukur bagi Indonesia dalam mencapai kesepakatan serupa. Ardika menyatakan keyakinannya bahwa kesepakatan serupa akan memungkinkan Indonesia untuk bersaing secara setara dengan Malaysia di pasar Amerika Serikat, membuka peluang ekspor yang lebih besar.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi