Perang Dagang AS-China Memanas, Ekspor Pertanian Indonesia Terdampak? Ini Kata Menteri Amran
Menteri Amran melihat perang dagang ini bukan hanya menimbulkan tantangan, tapi juga peluang.
Di tengah memanasnya tensi perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan China, muncul kekhawatiran bahwa dampaknya bisa merembet ke sektor ekspor negara lain, termasuk Indonesia. Namun, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan bahwa sektor pertanian dan perkebunan Tanah Air tetap dalam kondisi aman.
"Memang ada dampak, tapi tidak perlu dikhawatirkan," ujar Amran saat ditemui seusai acara Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM) di Hotel Four Points by Sheraton Makassar, Kamis (10/4).
Ia menjelaskan, Indonesia memiliki cadangan ekspor biofuel sebesar 1,7 juta ton ke Amerika. Jika sewaktu-waktu ekspor ke AS terganggu, pemerintah siap mengalihkan untuk kebutuhan dalam negeri, bahkan hingga level B40 dan B50, setara dengan 5,3 juta ton.
“Kalau ini kita dorong ke dalam negeri, selesai. Tidak masalah. Selain itu, langkah ini juga untuk menyeimbangkan perdagangan antara Indonesia dan Amerika,” katanya.
Meski begitu, Amran tidak menutup mata bahwa Indonesia juga masih sangat bergantung pada impor gandum dari Amerika. Komoditas ini menjadi salah satu produk impor terbesar yang belum bisa diproduksi di dalam negeri.
“Gandum memang tidak tumbuh di Indonesia, jadi kita ambil dari sana,” ucapnya.
Peluang di Balik Ancaman
Di sisi lain, Amran melihat perang dagang ini bukan hanya menimbulkan tantangan, tapi juga peluang. Harga sejumlah komoditas ekspor seperti kakao, cengkeh, kelapa, dan sawit justru meningkat. Kondisi ini menguntungkan para petani lokal.
“Banyak petani melapor ke saya kalau sekarang mereka dapat untung lebih besar. Tapi tentu kita juga tidak boleh berbahagia atas penderitaan pihak lain,” ujar Amran.
Menteri Amran juga menekankan pentingnya menjaga komunikasi diplomatik dengan Amerika Serikat, serta menjajaki pasar ekspor baru sebagai bentuk diversifikasi risiko.
“Kita ini negara besar, pasar kita juga besar. Kita bisa cari pasar lain, misalnya tambah ekspor ke negara yang belum terkena dampak tarif. Itu bisa jadi solusi jangka panjang,” katanya.
Latar Belakang: Perang Dagang Semakin Panas
Ketegangan terbaru muncul saat Presiden AS Donald Trump mengumumkan kenaikan tarif impor untuk produk asal Tiongkok menjadi 125%, sebagai respons terhadap tarif balasan China yang naik menjadi 84%.
Meski begitu, Trump juga mengumumkan jeda tarif selama 90 hari untuk lebih dari 75 negara mitra dagang sebagai bentuk itikad baik dalam negosiasi. Namun, tarif 10% masih tetap diberlakukan untuk sebagian besar barang impor.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyatakan bahwa negara-negara yang menahan diri untuk tidak membalas tarif AS akan menerima insentif khusus.
“Jangan membalas, dan Anda akan diberi imbalan,” ujar Bessent seperti dikutip dari The Guardian.
Di tengah eskalasi global yang tak menentu, Indonesia dinilai masih memiliki ruang manuver yang cukup leluasa. Diversifikasi pasar ekspor, pemanfaatan pasar domestik, serta komunikasi aktif dengan mitra dagang menjadi kunci agar sektor pertanian dan perkebunan tetap tumbuh stabil.