Dewan Ekonomi Nasional Blak-blakan Lebih Untung RI atau AS soal Tarif Impor 19 Persen

Ancaman tarif impor sebesar 32 persen yang diusulkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, akhirnya disepakati menjadi 19 persen.

Maulandy Rizky Bayu Kencana
Dewan Ekonomi Nasional Blak-blakan Lebih Untung RI atau AS soal Tarif Impor 19 Persen
Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (29/10/2021). Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan neraca perdagangan Indonesia pada September 2021 mengalami s (© 2025 Liputan6.com)

Ancaman tarif impor sebesar 32 persen yang dilontarkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, akhirnya disepakati menjadi tarif sebesar 19 persen.

Kesepakatan akhir ini juga disertai dengan komitmen untuk menerapkan tarif 0 persen bagi Indonesia terhadap sejumlah barang impor dari AS, serta berbagai permintaan tambahan dari Washington DC.

Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Arief Anshory Yusuf, menyatakan bahwa Pemerintah telah melakukan pertimbangan yang matang terkait tawaran dari Trump.

Ia menjelaskan bahwa negosiasi ini seharusnya tidak dilihat sebagai perang tarif antara Indonesia dan Amerika Serikat, melainkan sebagai kompetisi antara Indonesia dengan negara-negara mitra dagang AS lainnya.

Menurutnya, kesepakatan tarif yang bersifat resiprokal ini mungkin menjadi kemenangan bagi kepentingan Trump.

Namun, hal tersebut belum tentu memberikan manfaat bagi rakyat Amerika Serikat, karena barang-barang impor dari Indonesia akan menjadi lebih mahal.

"Apalagi kalau barang-barang kita itu Amerika enggak punya kapasitas produksi atau minim, elastisitasnya rendah, bahan pokok misalnya. Jelas rakyat AS enggak menang lah," tuturnya kepada Liputan6.com, seperti yang dikutip pada Sabtu (26/7).

Ia menambahkan, "Kita, on the other hand, di-nol-kan tarif malah bagus untuk rakyat kita. Apalagi barang-barangnya (yang diimpor dari AS) hampir semua bukan barang-barang yang kita punya produksi signifikan."

Arief, yang juga merupakan Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Padjadjaran, menjelaskan bahwa Dewan Ekonomi Nasional menggunakan model Global Trade Analysis Project (GTAP) untuk menganalisis berbagai kemungkinan terkait permintaan dari Trump.

Deal Tarif Impor 19%, Lebih Untung Amerika Serikat atau Indonesia?
Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (29/10/2021). Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan neraca perdagangan Indonesia pada September 2021 mengalami s © 2025 Liputan6.com

Pengenaan tarif resiprokal oleh Amerika Serikat terhadap Indonesia tidak hanya mempengaruhi kedua negara tersebut, tetapi juga dapat berdampak pada sektor-sektor lain serta negara-negara lainnya.

Dengan demikian, Arief menyatakan bahwa model GTAP dapat membantu pemerintah dan masyarakat dalam membuat keputusan yang lebih tepat berdasarkan data dan bukti, bukan sekadar asumsi.

Melalui analisis yang dilakukan dengan GTAP, Arief memprediksi bahwa hal ini akan memberikan dampak positif terhadap neraca perdagangan serta berbagai variabel makroekonomi lainnya, seperti konsumsi dan investasi.

Nilai positif tersebut muncul dari simulasi yang menunjukkan bahwa tarif AS terhadap negara lain yang melebihi 19 persen dapat memberikan peluang bagi beberapa komoditas Indonesia untuk bersaing dan merebut pangsa pasar.

"Exercise terakhir kalau 32 persen kita masih negative GDP. Kalau 19 persen kita bisa udah positif, bisa sampai 0,5 persen GDP, tergantung skenario," pungkas Arief.

Deal Tarif Impor 19%, Lebih Untung Amerika Serikat atau Indonesia?
Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (29/10/2021). Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan neraca perdagangan Indonesia pada September 2021 mengalami s © 2025 Liputan6.com

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman melihat adanya kesempatan untuk meningkatkan daya saing minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di pasar Amerika Serikat (AS).

Hal ini terutama terjadi setelah Indonesia dikenakan tarif impor sebesar 19 persen untuk produk-produk yang masuk ke AS. Ia berpendapat bahwa penerapan tarif impor tersebut akan memberikan keuntungan, tidak hanya bagi CPO, tetapi juga bagi produk pertanian lainnya dari Indonesia.

Jika dibandingkan, Malaysia yang dikenakan tarif 25 persen akan memberikan keuntungan lebih besar bagi Indonesia.

Indonesia dan Malaysia merupakan dua negara yang menyuplai minyak sawit terbesar di dunia.

"Itu kita melihat peluang di situ, sisi lain yang sangat menguntungkan Indonesia. Yang pertama CPO. CPO kita, tarifnya kan Indonesia 19 persen, kemudian negara tetangga yang memegang CPO 80 persen di dunia, itu adalah Malaysia dan Indonesia, Malaysia 25 persen tarifnya," ucap Amran saat ditemui di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta, pada Jumat (25/7).

Menurutnya, kesempatan ini harus dimanfaatkan dengan baik untuk memasuki pasar global. Produk CPO dari Indonesia memiliki potensi untuk mendapatkan tarif yang lebih rendah, bahkan mendekati nol persen, seiring dengan proses negosiasi yang masih berlangsung.

Di sisi lain, produk CPO Indonesia juga bebas dari tarif ketika masuk ke pasar Uni Eropa. Hal ini diatur dalam kesepakatan dagang Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU CEPA).

"Artinya peluang ini harus dimanfaatkan dengan baik. Kemudian Indonesia dengan IEU CEPA, itu kita juga sudah tanda tangan. Tentu CPO kita juga di sana baik harganya. Jadi kita gunakan dengan baik, ini sangat bagus," sebutnya.

AS Kecolongan, Chip AI Nvidia Senilai Rp 16 Triliun Diduga Masuk China Lewat Jalur Gelap
Chip Blackwell 200 atau B200, Chip kecerdasan buatan (AI) kelas atas milik Nvidia. (Doc. Nvidia) © 2025 Liputan6.com

Dalam laporan sebelumnya, Airlangga Hartarto selaku Menteri Koordinator Bidang Perekonomian mengungkapkan bahwa negosiasi mengenai tarif impor dengan Amerika Serikat (AS) masih berlangsung.

Terdapat kemungkinan bahwa beberapa komoditas strategis dari Indonesia akan dikenakan tarif di bawah 19 persen, bahkan bisa mencapai 0 persen.

Negosiasi ini akan difokuskan pada komoditas sumber daya alam yang tidak diproduksi di AS. Contohnya termasuk kelapa sawit, kakao, serta beberapa komponen industri lainnya.

"Produk-produk itu antara lain kelapa sawit, kopi, kakao, produk agro, dan juga produk mineral lainnya termasuk juga komponen pesawat terbang dan juga komponen daripada produk industri di kawasan industri tertentu seperti di free trade zone," kata Airlangga dalam konferensi pers di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Kamis (24/7/2025).

Rekomendasi