Danantara Panggil 17 KAP Terbesar, Perkuat Integritas Audit BUMN dan Tata Kelola Perusahaan
Danantara memanggil 17 kantor akuntan publik terbesar di Indonesia untuk memperkuat integritas BUMN. Langkah ini jadi bagian transformasi tata kelola BUMN.
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) baru-baru ini mengambil langkah strategis. Mereka memanggil 17 kantor akuntan publik (KAP) terbesar di Indonesia. Tujuannya adalah untuk memperkuat integritas audit badan usaha milik negara (BUMN).
Langkah ini diumumkan oleh Managing Director Holding Operational Danantara, Agus Dwi Handaya. Pernyataan tersebut disampaikan di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, Sleman, DI Yogyakarta, pada hari Selasa. Ini merupakan bagian penting dari agenda "governance transformation" Danantara.
Agus Dwi Handaya menegaskan komitmen Danantara untuk memastikan tidak ada rekayasa laporan keuangan BUMN. Auditor yang melanggar akan dikenai sanksi tegas, termasuk daftar hitam. Ini untuk menjamin transparansi dan akuntabilitas.
Memperkuat Integritas Audit BUMN
Danantara telah meminta komitmen dari 17 KAP terbesar di Indonesia. Komitmen ini berfokus pada pelaporan keuangan BUMN yang bebas dari rekayasa. Agus Dwi Handaya menekankan pentingnya integritas ini.
Langkah ini adalah bagian integral dari "governance transformation" yang diusung Danantara. Tujuannya adalah untuk meningkatkan tata kelola, transparansi, serta akuntabilitas di seluruh tingkatan BUMN. Danantara tidak akan mentoleransi pelanggaran.
Apabila ada auditor yang terbukti melakukan rekayasa laporan keuangan, sanksi tegas akan diberlakukan. Agus Dwi Handaya memastikan bahwa auditor tersebut akan di-blacklist. Mereka tidak akan bisa lagi menjadi auditor di BUMN mana pun di masa mendatang.
Skala Aset dan Kontribusi BUMN
Agus Dwi Handaya mengungkapkan bahwa total aset BUMN saat ini mencapai sekitar Rp10 ribu triliun. Dengan pendapatan sekitar Rp3.000 triliun dan laba bersih Rp300 triliun. Skala ini menunjukkan betapa vitalnya peran BUMN.
Kontribusi BUMN terhadap negara juga sangat signifikan. Dividen yang disetor ke negara pada tahun 2024 mencapai Rp148 triliun. Sementara itu, kontribusi pajaknya sebesar Rp458 triliun. Ini setara dengan sekitar 20 persen dari penerimaan nasional.
Dalam tiga tahun terakhir, total dividen yang disetorkan BUMN menembus Rp260 triliun. Dengan skala operasional dan kontribusi finansial sebesar ini, integritas laporan keuangan menjadi fondasi utama. Ini penting untuk pengelolaan BUMN yang sehat dan berkelanjutan.
Restrukturisasi dan Efisiensi BUMN
Selain memperkuat tata kelola, Danantara juga sedang menyiapkan restrukturisasi besar-besaran. Saat ini, jumlah BUMN mencapai 1.045 entitas. Struktur ini memiliki tujuh lapisan kepemilikan, dari induk hingga entitas turunan atau "udheg-udheg".
Agus menilai struktur berlapis ini seringkali menyebabkan tumpang tindih fungsi. Hal ini juga memicu kompetisi internal yang tidak sehat antar BUMN. Bahkan, kompetisi terjadi di antara BUMN dalam satu induk perusahaan.
Oleh karena itu, Danantara berencana melakukan proses perampingan. Jumlah entitas akan dipangkas menjadi sekitar 200 perusahaan. Tujuannya adalah agar BUMN menjadi lebih efisien dan kompetitif di pasar.
Transformasi Tata Kelola dan Kepemimpinan
Transformasi yang dilakukan Danantara juga mencakup "service transformation". Program ini mengusung tema "Melayani Sepenuh Hati". Ini mendorong BUMN untuk mengubah orientasi birokrasi menjadi pelayanan berbasis empati dan pengabdian.
Aspek terakhir adalah "leadership transformation". Transformasi ini menekankan dua nilai utama: profesionalisme dan nasionalisme. Profesionalisme diwujudkan melalui kompetensi, etika, dan standar kerja yang tinggi.
Nasionalisme dimaknai sebagai semangat untuk mengabdi kepada bangsa dan negara. Agus Dwi Handaya menegaskan, "Pemimpin bukan tentang jabatan, tetapi amanah untuk mengabdi kepada bangsa dan negara." Ini menekankan pentingnya integritas dan dedikasi.
Sumber: AntaraNews