Danantara Indonesia Targetkan Aset Tembus Tiga Kali Lipat pada 2030 Melalui Konsolidasi BUMN

Danantara Indonesia, lembaga pengelola investasi negara, menargetkan peningkatan aset hingga tiga kali lipat pada 2030 melalui strategi konsolidasi ratusan BUMN, demi mencapai visi Indonesia sebagai negara berpenghasilan tinggi.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Danantara Indonesia Targetkan Aset Tembus Tiga Kali Lipat pada 2030 Melalui Konsolidasi BUMN
Dana Kelolaan Abadi Indonesia, Danantara, menargetkan aset tiga kali lipat menjadi Rp45 kuadriliun pada tahun 2030. Simak strategi ambisius Danantara untuk mencapai target ini melalui restrukturisasi BUMN dan peningkatan daya saing global. (AntaraNews)

Danantara Indonesia, dana abadi negara atau sovereign wealth fund (SWF) Indonesia, telah menetapkan target ambisius untuk melipatgandakan asetnya hingga tiga kali lipat pada tahun 2030. Pengumuman ini disampaikan oleh Mohamad Al-Arief, Managing Director for Global Relations and Governance Danantara, dalam ajang World Economic Forum di Davos. Inisiatif strategis ini bertujuan untuk meningkatkan nilai aset secara signifikan dan memperkuat daya saing perusahaan milik negara di kancah global.

Target ini akan dicapai melalui perombakan dan konsolidasi ratusan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang saat ini beroperasi di Indonesia. Langkah ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk mendorong efisiensi, profesionalisme, dan daya saing sektor BUMN. Dengan demikian, Danantara berupaya mendukung visi Indonesia menjadi negara berpenghasilan tinggi pada tahun 2045.

Saat ini, aset Danantara diperkirakan mencapai sekitar 900 miliar dolar AS, atau setara dengan kurang lebih 15,29 kuadriliun rupiah dengan kurs Rp16.985 per dolar. Dalam lima tahun ke depan, Danantara berkomitmen untuk meningkatkan nilai aset melalui penciptaan nilai yang lebih kuat.

Danantara Indonesia berencana untuk menggabungkan 1.068 perusahaan milik negara menjadi sekitar 221 entitas dalam tiga hingga empat tahun ke depan. Saat ini, perusahaan-perusahaan tersebut dikelola di bawah sekitar 50 perusahaan induk. Transformasi ini diharapkan akan mengubah lebih dari seribu perusahaan menjadi hanya sekitar 200 perusahaan yang dikelola secara profesional dan mampu bersaing secara global.

Restrukturisasi akan dimulai dengan tinjauan fundamental terhadap setiap lini bisnis. Setelah itu, akan dilanjutkan dengan merger dan perampingan, serta langkah-langkah yang bertujuan untuk meningkatkan nilai jangka panjang. Proses ini dirancang untuk meningkatkan efisiensi operasional dan profesionalisme dalam pengelolaan BUMN.

Konsolidasi ini menjadi kunci untuk mengatasi kritik terhadap sektor negara yang selama ini dianggap kurang efisien dan memiliki tumpang tindih mandat. Dengan mengurangi jumlah entitas, diharapkan akan tercipta sinergi yang lebih baik dan fokus yang lebih jelas pada tujuan bisnis. Langkah ini juga akan mempermudah pengawasan dan tata kelola perusahaan.

Tujuan utama dari konsolidasi ini adalah untuk meningkatkan efisiensi, profesionalisme, dan daya saing BUMN. Hal ini sejalan dengan ambisi Indonesia untuk menjadi negara berpenghasilan tinggi pada tahun 2045. Dengan BUMN yang lebih kuat dan efisien, diharapkan kontribusi mereka terhadap perekonomian nasional akan semakin besar.

Dua perusahaan dalam portofolio Danantara, raksasa minyak dan gas negara Pertamina dan perusahaan listrik PLN, telah masuk dalam daftar Fortune Global 500. Mohamad Al-Arief menyatakan bahwa transformasi ini diharapkan dapat membawa lebih banyak perusahaan Indonesia masuk ke dalam peringkat bergengsi tersebut. Keberadaan perusahaan Indonesia di kancah global akan meningkatkan citra dan daya tarik investasi negara.

Peningkatan daya saing global ini juga akan membuka peluang baru bagi BUMN untuk berekspansi ke pasar internasional. Melalui konsolidasi, BUMN diharapkan memiliki skala ekonomi yang lebih besar dan kemampuan inovasi yang lebih kuat. Ini akan memungkinkan mereka untuk bersaing dengan pemain global lainnya secara lebih efektif.

Pemerintah Indonesia semakin mengandalkan Danantara untuk mendorong reformasi di sektor negara yang luas. Sektor ini telah lama dikritik karena inefisiensi dan tumpang tindih mandat. Danantara berperan sebagai katalisator perubahan, membawa praktik terbaik dalam tata kelola dan manajemen aset.

Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Roeslani, sebelumnya menyatakan bahwa kehadiran Indonesia pada pertemuan tahunan World Economic Forum ke-56 adalah bagian dari upaya yang lebih luas untuk meningkatkan daya saing global negara. Partisipasi ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam menarik investasi dan mempromosikan potensi ekonomi Indonesia.

Delegasi Indonesia ke Davos mencakup Kementerian Investasi dan Hilirisasi, Danantara Indonesia, serta Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin). Kolaborasi antara berbagai lembaga ini menunjukkan pendekatan terpadu pemerintah untuk mencapai tujuan ekonomi nasional. Sinergi ini penting untuk memastikan keberhasilan program konsolidasi dan peningkatan aset.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi