Begini Kata Chief Economist BRI Danareksa Dampak Psikolog Investor Soal Ramai MSCI
Sentimen global kerap kali memengaruhi psikologi investor lebih cepat dibanding dampak fundamental yang sebenarnya terjadi di lapangan.
Chief Economist and Macro Strategist BRI Danareksa Sekuritas, Helmy Kristanto, menilai respons investor terhadap isu evaluasi pasar oleh MSCI serta dari Moody's tidak bisa ditarik dengan kesimpulan yang sederhana.
Menurutnya, sentimen global kerap kali memengaruhi psikologi investor lebih cepat dibanding dampak fundamental yang sebenarnya terjadi di lapangan.
“Memang kalau menyikapi MSCI ini tidak bisa serta merta satu konklusi,” kata Helmy di dana BIRDS Market Outlook 2026, di Menara BRILian, Jakarta, Jumat (13/2/2026).
Ia pun menyontohkan kasus serupa di beberapa negara ketika terjadi penurunan peringkat pasar atau perubahan klasifikasi indeks. Kata dia, investor cenderung menahan diri.
Perilaku investor ini, terus terang berdampak signifikan terhadap volatilitas dan tekanan jual, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar yang menjadi incaran dana pasif global.
“Memang dari beberapa historis ada beberapa negara yang pernah di downgrade marketnya, asing kesannya menjadi menahan diri. Bahkan kalau kita lihat juga luar biasa (dampaknya),” ujarnya.
Helmy menilai pemerintah bersama Otoritas Jasa Keuangan dan Bursa Efek Indonesia telah mengambil sejumlah langkah konkret menindaklanjuti masukan dari MSCI.
Ia menyebut sudah ada beberapa pertemuan antara pihak terkait, meski tidak semua hasil pembahasan dapat dipublikasikan ke pasar.
Dari delapan langkah yang disiapkan, salah satu poin penting adalah rencana peningkatan batas minimal free float menjadi 15 persen serta penguatan transparansi Ultimate Beneficiary Ownership (UBO).
Penerapan Harus Dilakukan Bertahap
Namun, Helmy mengingatkan implementasi kebijakan tersebut harus dilakukan secara bertahap. Jika peningkatan free float terlalu cepat, suplai saham di pasar bisa melonjak dan menekan harga dalam jangka pendek, yang justru berpotensi memperburuk sentimen investor.
Di tengah ketidakpastian tersebut, strategi investor dinilai terbelah antara menunggu kejelasan dan memanfaatkan peluang.
Sebagian investor memilih sikap hati-hati sambil menunggu periode pengumpulan data MSCI pada Mei, sementara lainnya melihat volatilitas sebagai momentum akumulasi.
Secara taktis, Helmy menilai saham dengan kepemilikan asing relatif rendah dan free float tinggi bisa menjadi pilihan yang lebih defensif.
Menurutnya, saham-saham tersebut cenderung lebih tahan terhadap potensi arus keluar dana asing dibanding saham berkapitalisasi besar yang didominasi investor global.