Presiden Iran Surati Rakyat AS, Bongkar Manipulasi Israel ke Amerika
Pezeshkian mempertanyakan apakah kebijakan “America First” Presiden Donald Trump benar-benar menjadi prioritas pemerintahan saat ini.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian mendesak masyarakat Amerika Serikat untuk melihat melampaui apa yang ia sebut sebagai “banjir distorsi dan narasi yang dibuat-buat” terkait perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Dalam surat terbuka yang ditujukan kepada publik AS dan dibagikan oleh stasiun televisi pemerintah Iran, Press TV, pada Rabu, Pezeshkian mempertanyakan apakah kebijakan “America First” Presiden Donald Trump benar-benar menjadi prioritas pemerintahan saat ini.
“Kepentingan rakyat Amerika mana yang sebenarnya dilayani oleh perang ini?” tulis pemimpin Iran itu.
“Apakah pembantaian anak-anak tak berdosa, penghancuran fasilitas farmasi pengobatan kanker, atau membual tentang membom suatu negara 'hingga kembali ke zaman batu' memiliki tujuan lain selain semakin merusak kedudukan global Amerika Serikat?” lanjutnya dikutip dari Aljazeera, Kamis (2/4/2026).
Iran Tolak Dicap Sebagai Ancaman
Dalam suratnya, Pezeshkian juga menolak narasi yang menggambarkan Teheran sebagai ancaman. Ia menyoroti bahwa Iran telah dua kali menjadi sasaran serangan ketika para negosiatornya tengah mengikuti pembicaraan nuklir multilateral.
Menurutnya, serangan pertama terjadi saat Israel melancarkan perang 12 hari pada Juni 2025, dengan AS sempat bergabung dalam kampanye tersebut. Serangan kedua disebut terjadi pada akhir Februari tahun ini.
“Menyerang infrastruktur vital Iran, termasuk fasilitas energi dan industri, secara langsung menargetkan rakyat Iran. Selain merupakan kejahatan perang, tindakan tersebut membawa konsekuensi yang meluas jauh melampaui perbatasan Iran,” katanya.
“Mereka menimbulkan ketidakstabilan, meningkatkan biaya manusia dan ekonomi, serta melanggengkan siklus ketegangan, menanam benih kebencian yang akan bertahan selama bertahun-tahun. Ini bukanlah demonstrasi kekuatan; ini adalah tanda kebingungan strategis dan ketidakmampuan untuk mencapai solusi berkelanjutan.”
Respons atas Ancaman Terbaru Trump
Surat tersebut muncul hanya beberapa jam setelah Trump kembali mengeluarkan ancaman terhadap Teheran melalui media sosial. Dalam unggahannya, Trump menyatakan AS akan terus “menghancurkan Iran hingga musnah atau, seperti yang mereka katakan, kembali ke Zaman Batu!!!” kecuali Selat Hormuz dibuka kembali.
Trump juga mengklaim bahwa “presiden rezim baru” Iran telah meminta gencatan senjata untuk mengakhiri perang.
Namun, klaim tersebut dibantah oleh para pejabat Iran.
Perang Narasi di Tengah Konflik
Laporan dari Teheran menyebut pemerintah AS dan Iran kini terlibat dalam apa yang disebut sebagai “perang narasi” di tengah konflik yang terus memanas. Presiden Iran dalam suratnya menegaskan bahwa negaranya memiliki hak untuk membela diri dari serangan AS dan Israel.
Ia juga menekankan bahwa Iran “tidak memiliki permusuhan” terhadap negara lain maupun rakyat Amerika Serikat.
Sementara itu, Trump dijadwalkan menyampaikan pidato resmi dari Washington, DC, pada Rabu malam waktu setempat terkait perkembangan terbaru mengenai Iran.
Soroti Pengaruh Israel terhadap Kebijakan AS
Dalam bagian lain suratnya, Pezeshkian mempertanyakan apakah pemerintahan Trump “dimanipulasi” oleh sekutu utama AS di Timur Tengah, yaitu Israel, dalam melancarkan perang terhadap Iran pada 28 Februari.
Ia menyinggung peran Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang selama beberapa dekade disebut mendorong AS untuk menyerang Iran, sekaligus berupaya menggagalkan jalur diplomasi antara Washington dan Teheran.
“Bukankah Amerika juga telah memasuki agresi ini sebagai proksi Israel, dipengaruhi dan dimanipulasi oleh rezim tersebut?” kata Pezeshkian dalam suratnya.
Ia juga mempertanyakan apakah dengan “membuat-buat ancaman Iran”, Israel tengah berupaya mengalihkan perhatian dunia dari konflik Palestina.
“Bukankah sudah jelas bahwa Israel sekarang bertujuan untuk memerangi Iran hingga tentara Amerika terakhir dan uang pajak Amerika terakhir — mengalihkan beban khayalannya kepada Iran, kawasan tersebut, dan Amerika Serikat sendiri dalam mengejar kepentingan yang tidak sah?” tulisnya.