Pezeshkian: Iran Siap Capai Kesepakatan Adil dengan AS demi Stabilitas Kawasan
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan kesiapan negaranya untuk mencapai kesepakatan adil dengan Amerika Serikat, menegaskan kepentingan nasional sebagai prioritas utama dalam negosiasi Kesepakatan Iran AS.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian baru-baru ini menegaskan kesiapan negaranya untuk mencapai kesepakatan yang seimbang dan adil dengan Amerika Serikat. Pernyataan ini disampaikan dalam upaya mewujudkan perdamaian serta keamanan jangka panjang di kawasan Timur Tengah.
Komitmen tersebut diungkapkan Pezeshkian saat melakukan percakapan telepon dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada Minggu, 13 April 2026. Dalam kesempatan itu, ia menekankan bahwa kepentingan nasional Iran akan selalu menjadi garis batas yang tidak dapat dilanggar dalam setiap perundingan.
Pernyataan resmi kepresidenan Iran di media sosial mengutip Pezeshkian yang menyatakan bahwa Teheran sepenuhnya siap untuk mencapai kesepakatan tersebut. Ini menunjukkan sinyal diplomatik yang kuat dari Iran untuk menyelesaikan ketegangan dengan Washington.
Prioritas Kepentingan Nasional dalam Negosiasi
Pezeshkian secara tegas menyatakan bahwa hak-hak rakyat Iran dan kepentingan strategis negara merupakan batasan yang mutlak dalam setiap negosiasi dengan Washington. Hal ini menggarisbawahi bahwa kedaulatan dan kesejahteraan Iran tidak akan dikompromikan.
Pendekatan ini mencerminkan prinsip bahwa setiap Kesepakatan Iran AS harus menguntungkan kedua belah pihak, namun tetap menjaga martabat dan integritas Iran. Teheran berupaya memastikan hasil negosiasi yang tidak hanya adil, tetapi juga berkelanjutan.
Kesiapan untuk bernegosiasi ini juga selaras dengan seruan diplomatik sebelumnya dari Pezeshkian yang menginginkan dialog berdasarkan hukum internasional dan tanpa ancaman. Ini menunjukkan konsistensi dalam kebijakan luar negeri Iran di bawah kepemimpinannya.
Tantangan 'Standar Ganda' AS dalam Perundingan
Dalam pembicaraan dengan Presiden Putin, Pezeshkian turut memaparkan perkembangan dialog dengan Amerika Serikat. Ia menyoroti bahwa hambatan terbesar menuju kesepakatan adalah "standar ganda" yang diterapkan oleh Washington.
"Standar ganda" ini merujuk pada ketidaksesuaian antara retorika dan tindakan AS, yang seringkali dianggap merugikan Iran dalam perundingan. Iran berharap AS dapat menunjukkan pendekatan yang lebih konsisten dan adil.
Meskipun demikian, Iran tetap serius dalam menghadapi perundingan dan menekankan bahwa hasilnya sangat ditentukan oleh sikap Amerika Serikat. Kesiapan Iran untuk berdialog tetap terbuka, asalkan kepentingan negaranya terjamin.
Sumber: AntaraNews