Iran menegaskan komitmennya untuk melindungi kepentingan nasional dari ancaman sanksi Amerika Serikat. Ancaman Sanksi AS Iran ini muncul akibat kerja sama Iran dengan Rusia di sektor energi nuklir damai.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Ismail Baghaei, menyampaikan pernyataan ini. Ia menanggapi potensi sanksi baru dari Washington yang dapat berdampak signifikan.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam sebuah pengarahan pada Ahad (23/11) di Teheran. Ini menunjukkan respons cepat Iran terhadap perkembangan internasional serta tekanan sanksi.
Advertisement
Advertisement
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Ismail Baghaei, secara tegas menyatakan sikap Teheran. Ia menyoroti bahwa Iran telah terbiasa menghadapi berbagai paket sanksi dari Amerika Serikat hampir setiap hari. Baghaei menegaskan bahwa sanksi tersebut memang merugikan, namun tidak akan pernah melemahkan tekad Iran dalam menghadapi Sanksi AS Iran.
"Terkait ancaman AS yang kembali akan menjatuhkan sanksi terhadap Iran, kami menghadapi paket sanksi dari AS hampir setiap hari," kata Baghaei dalam sebuah pengarahan, Ahad (23/11). Ia menambahkan, "Ini cerita panjang. Tentu saja sanksi merugikan kami, tetapi tidak akan pernah melemahkan tekad kami untuk mempertahankan hak dan kepentingan.” Pernyataan ini menunjukkan keteguhan Iran.
Kerja sama Iran dengan Rusia di bidang energi nuklir damai menjadi salah satu pemicu utama ancaman sanksi ini. Baghaei menjelaskan bahwa kedua negara terus berdiskusi untuk memperkuat kolaborasi di sektor nuklir. Iran memandang kerja sama ini sebagai hak kedaulatannya, terlepas dari ancaman Sanksi AS Iran.
Advertisement
Pada 17 November, Presiden AS Donald Trump pernah menyatakan rancangan undang-undang baru. Rancangan ini bertujuan memperketat sanksi terhadap Rusia dan akan mengenakan sanksi berat kepada negara mana pun yang bekerja sama dengan Moskow. Iran berpotensi besar masuk dalam daftar target sanksi tersebut.
Advertisement
Meskipun menghadapi ancaman Sanksi AS Iran, Teheran tetap berkomitmen pada perjanjian internasional. Baghaei menegaskan bahwa Iran akan tetap melanjutkan kerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Komitmen ini sesuai dengan kewajiban perjanjian nonproliferasi senjata nuklir dan peraturan nasional yang berlaku.
Keputusan terkait kerja sama dengan IAEA ini ditetapkan oleh Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan nuklir Iran adalah hasil pertimbangan matang dari lembaga tertinggi negara. Iran berupaya menjaga transparansi dalam program nuklirnya.
Baghaei juga menanggapi resolusi IAEA yang meminta Iran melaporkan status cadangan uraniumnya. Ia mengakui bahwa kebijakan semacam itu berpotensi memperumit keadaan. Namun, Baghaei menekankan bahwa tidak ada kebuntuan dalam dialog antara Teheran dan badan pengawas nuklir PBB tersebut.
Advertisement
Sebelumnya, pada Agustus lalu, negara-negara E3 (Inggris, Prancis, dan Jerman) telah menyampaikan pemberitahuan kepada Dewan Keamanan PBB. Pemberitahuan ini mengenai dimulainya mekanisme pemulihan sanksi internasional terhadap Iran yang sebelumnya dicabut dalam perjanjian nuklir 2015. Pada September, Dewan Keamanan kembali memberlakukan sanksi tersebut, termasuk larangan pengiriman bahan terkait nuklir dan penjualan senjata konvensional. Ini menambah daftar panjang tekanan Sanksi AS Iran yang dihadapi Teheran.
Sumber: AntaraNews