Ali Khamenei Akan Dikebumikan di Mashhad
Mashhad dipilih sebagai lokasi pemakaman Ali Khamenei karena kota ini merupakan pusat spiritual dan religius yang penting bagi umat syiah.
Mendiang Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, yang meninggal dunia akibat serangan gabungan dari Amerika Serikat (AS) dan Israel pada Februari 2026, akan dimakamkan di kota suci Mashhad.
Khamenei, yang wafat pada usia 86 tahun, telah memimpin Iran selama 36 tahun sejak mengambil alih posisi tersebut dari Ayatulloh Ruhollah Khomeini pada tahun 1989.
Pemilihan Mashhad sebagai lokasi pemakaman didasarkan pada fakta bahwa kota tersebut adalah tempat kelahirannya dan juga lokasi makam ayahnya yang terletak di kompleks Imam Reza.
Profil Singkat Ali Khamenei
Ali Khamenei dilahirkan pada 19 April 1939 di Mashhad, Iran, dalam sebuah keluarga yang memiliki latar belakang ulama. Ia memulai pendidikan agama di Mashhad sebelum melanjutkan studi ke kota suci Qom dan menjadi murid dari Ali Ruhollah Khomeini, sosok penting dalam Revolusi Islam Iran yang terjadi pada tahun 1979.
Selama masa pemerintahan Shah Mohammad Reza Pahlavi, Khamenei aktif terlibat dalam gerakan oposisi dan beberapa kali ditangkap oleh polisi rahasia SAVAK akibat aktivitas politiknya. Setelah keberhasilan Revolusi Islam 1979 yang menggulingkan monarki, karier politiknya semakin berkembang pesat.
Ia pernah menjabat sebagai anggota Dewan Revolusi, anggota parlemen, imam salat Jumat di Teheran, hingga menjadi Presiden Iran selama dua periode dari tahun 1981 hingga 1989. Setelah wafatnya Ayatulloh Ruhollah Khomeini pada tahun 1989, Khamenei terpilih sebagai Pemimpin Tertinggi Iran oleh Majelis Pakar.
Jabatan ini merupakan posisi tertinggi dalam sistem politik Iran, yang memberikan kewenangan atas militer, Garda Revolusi, kebijakan luar negeri, peradilan, media pemerintah, serta pengangkatan sejumlah pejabat penting negara.
Selama lebih dari tiga dekade kepemimpinannya, Khamenei dikenal sebagai sosok yang mempertahankan sistem Republik Islam. Di bawah kepemimpinannya, Iran berhasil memperluas pengaruh regional melalui kelompok-kelompok sekutu di Timur Tengah, mengembangkan program rudal dan nuklir, serta menghadapi berbagai sanksi dari negara-negara Barat. Dalam hal politik luar negeri, Khamenei secara konsisten menentang kebijakan yang diterapkan oleh Amerika Serikat dan Israel.
Ia juga memberikan dukungan terhadap apa yang disebut Iran sebagai "Poros Perlawanan", yaitu jaringan kelompok dan negara yang bersekutu dengan Teheran di kawasan. Khamenei memimpin Iran selama 36 tahun, menjadikannya salah satu pemimpin dengan masa jabatan terlama di Timur Tengah.